Erabaru.net. Seorang eksekutif pria muda yang sukses sedang mengebut mengendarai Jaguar barunya di kawasan rumahnya.

Saat melewati jalan buntu yang secara khusus dibangun, ia melihat sesuatu melayang di udara…

Tertegun sejenak, tiba-tiba ia berhenti dan keluar dari mobilnya untuk memeriksa adanya kerusakan

Tergeletak sebuah batu bata beberapa meter di belakang mobilnya dan seorang anak laki-laki berdiri di tepi jalan.

Dengan geram ia berlari ke arah anak laki-laki itu.

Ia berteriak, “Siapa kamu, apa yang kamu pikirkan sampai melakukan ini?”

“Batu bata yang kamu lemparkan akan menghabiskan banyak uangku untuk memperbaiki mobil baruku. Mengapa kamu melakukannya?”

Anak kecil itu meminta maaf, “Tolong tuan … tolong, aku minta maaf, tapi aku tidak tahu harus berbuat apa lagi,”

“Aku melempar batu bata karena itulah cara satu-satunya untuk menghentikan mobil tuan.”

Dengan air mata berlinang di wajahnya, anak kecil itu menunjuk ke tikungan.

“Itu abangku, ia jatuh terguling dari trotoar dan terlempar dari kursi rodanya TEPAT saat mobil tuan datang.”

“Aku sangat takut dan tidak ada cara lain untuk menghentikan mobil tuan. Aku sangat menyesal… “

Sambil terisak, anak kecil itu melanjutkan, “Aku tidak dapat menolongnya, aku tidak kuat mengangkatnya; terlalu berat untuk kuangkat sendiri.”

“Sudikah Tuan membantuku mendudukkannya kembali di kursi rodanya? Ia terluka…”

Tanpa mampu berkata-kata, pria itu bergerak.

Ia bergegas menuju tikungan, memapah anak laki-laki yang cacat itu dan dengan hati-hati mendudukkannya kembali di kursi rodanya.

Ilustrasi. Kredit: blogger

Lalu ia menyeka goresan dan luka baru anak itu dengan saputangan linennya.

“Terima kasih, semoga tuan diberkati Tuhan,” ucapan syukur anak itu kepadanya.

Saking tersentuh hatinya oleh kata-kata itu, pria itu tertegun memperhatikan anak kecil itu mendorong abangnya di kursi roda di trotoar menuju rumah mereka.

Ia berjalan perlahan menuju Jaguar barunya yang penyok.

Kerusakan tepat di depan matanya itu mengingatkannya pada pesan ini:

Jangan mengebut dalam menjalani hidup sampai-sampai seseorang harus melempar sebuah batu bata kepadamu untuk menarik perhatianmu.

Tuhan berbisik di dalam jiwa kita dan berbicara kepada hati kita.

Terkadang kala kita tidak punya waktu untuk mendengarkan, seseorang harus melempari kita dengan sebuah batu bata. Adalah pilihan kita untuk mendengarkannya atau tidak.

Kala kita berhenti mendengarkan, adalah kala kita kehilangan “HIDUP.” (vv/an)

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds