Ankara – Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan mengatakan negaranya akan memboikot produk elektronik dari Amerika Serikat. Boikot dilakukan untuk membalas sanksi Amerika akibat perselisihan dengan Washington. Sanksi ekonomi tahap awal menghasilkan krisis mata uang Turki.

“Kami akan memberlakukan boikot terhadap produk elektronik AS. Jika mereka memiliki iPhone, ada Samsung di sisi lain,” kata Erdogan di sebuah pertemuan anggota Partai AK-nya, di Ankara pada 14 Agustus.

Erdogan bersumpah akan mengganti impor asing dengan barang-barang yang diproduksi di dalam negeri.

“Kami akan memproduksi setiap produk yang kami impor dari luar negeri, dengan mata uang asing di sini dan kami akan menjadi orang yang mengekspor produk ini,” kata Erdogan.

“Dan kami memiliki Vestel kami sendiri di sini,” kata Erdogan, mengacu pada perusahaan elektronik Turki, yang sahamnya naik 5 persen.

Turki ‘Siap untuk Perang’
Menurut dinas berita Turki, Ahval, Erdogan bertemu dengan para duta besar pada hari Senin, 13 Agustus 2018. Dia mengatakan bahwa Turki siap untuk berperang.

Tidak jelas apakah Erdogan mengacu pada perang dagang, atau apakah dia membuat pernyataan tentang kesiapan militer.

“Rahasia bagi negara-negara yang berhasil adalah kesiapan mereka untuk berperang. Kami siap dengan semua yang kami miliki,” kata Erdogan, menurut Ahval.

“Ini adalah pengamatan semua orang bahwa perkembangan dalam pertukaran mata uang asing tidak memiliki dasar keuangan dan mereka adalah serangan terhadap negara kita,” kata Erdogan.

“Di satu sisi Anda adalah sekutu strategis dan di sisi lain Anda menembak [negara] di kaki. Apakah hal seperti ini dapat diterima?” Erdogan bertanya, sepertinya mengacu pada sanksi ekonomi dari AS dan tarif impor yang meningkat.

Uang kertas lira Turki dipajang di kantor penukaran mata uang asing di Istanbul, Turki pada 13 Agustus 2018. (Murad Sezer/Reuters/The Epoch Times)

Sanksi dan Tarif AS
Amerika Serikat telah menjatuhkan sanksi terhadap dua menteri Turki. Sanksi dipicu oleh persidangan atas tuduhan terorisme terhadap seorang pastor Amerika di Turki. Pekan lalu Washington menaikkan tarif atas ekspor aluminium dan baja Turki ke AS.

Lira Turki mencapai titik terendah sepanjang waktu, menjadi 7,24 per dolar AS, pada Senin (13/8/2018) lalu. Pelemahan didorong oleh kekhawatiran atas permintaan Erdogan untuk bank sentral dalam melonggarkan kebijakan moneter. Pelemahan nilai tukar juga dipicu memburuknya hubungan negara anggota NATO itu dengan Amerika Serikat.

Lira sempat menguat menjadi 6,53 per dolar AS pada hari Selasa (14/8/2018). Penguatan kemungkinan didukung oleh berita tentang seruan atas rencana pertemuan antara menteri keuangan Turki dan sekitar 1.000 investor.

Pada hari Kamis, 16 Agustus, menteri keuangan Berat Albayrak akan berusaha untuk meyakinkan investor yang bersangkutan dengan kemampuan Erdogan mengendalikan ekonomi. Para investor juga akan diyakinkan dengan kemampuan perlawanannya terhadap kenaikan suku bunga untuk mengatasi inflasi dua digit.

Seruan untuk Suku Bunga Tinggi
Para ahli mengatakan setiap dampak dari seruan menteri keuangan bersifat sementara. Pasar membutuhkan lebih dari solusi teknis seperti janji bank sentral untuk menyediakan likuiditas darurat kepada bank, atau janji pemerintah untuk tidak menyita deposito bank dalam denominasi dolar.

Sementara suku bunga rendah menyuntikkan uang ke dalam ekonomi dan dapat memberikan stimulus pada saat krisis. Inflasi yang merajalela memotong keuntungan ini. Meningkatkan suku bunga diperlukan untuk menenangkan pasar dan membendung penjualan lira.

“Apa yang ingin Anda lihat adalah kebijakan moneter ketat, kebijakan fiskal ketat, dan pengakuan bahwa mungkin ada rasa sakit ekonomi jangka pendek. Tetapi tanpa itu tidak ada kredibilitas janji untuk menstabilkan sesuatu,” kata Craig Botham, Ekonom Emerging Markets di Schroders.

Ekonom memperingatkan krisis mata uang dapat meluas ke resesi ekonomi penuh.

“Terjunnya lira, yang dimulai pada bulan Mei, sekarang terlihat pasti mendorong ekonomi Turki ke dalam resesi,” Andrew Kenningham, kepala ekonom global di Capital Economics, mengatakan kepada Reuters.

Lobi bisnis Turki juga menyerukan kebijakan moneter yang lebih ketat untuk menstabilkan lira. Lira juga membutuhkan solusi diplomatik terhadap perselisihan Amerika Serikat-Turki. (Tom Ozimek dan Reuters/The Epoch Times/waa)

Simak juga, Pengakuan Dokter yang Dipaksa Panen Organ Hidup :

Share

Video Popular