oleh Zhang Ting

Proyek One Belt One Road atau Sabuk Ekonomi Jalur Sutra Tiongkok (OBOR) terus menarik perhatian media Barat. Sebuah artikel analisis dari sebuah media AS yang diterbitkan baru-baru ini menyebutkan bahwa sebagaimana yang dialami oleh Uni Soviet di masa lalu yang mengalami keruntuhan ekonomi akibat berupaya mengembangkan wilayah Siberia.

Melakukan investasi besar pada daerah yang rendah penghasilan bagi negara cenderung juga menurunkan produktivitas ekonomi hingga membuat jatuhnya rezim. Partai komunis Tiongkok tampaknya sedang menapak jalan tersebut.

Kolumnis Bloomberg, David Fickling, baru-baru ini menerbitkan sebuah artikel berjudul ‘Runtuhnya Uni Soviet Bergema pada Sabuk Ekonomi Jalur Sutra Tiongkok’.

Artikel dibuka dengan pertanyaan : Apa yang menyebabkan runtuhnya sebuah kekaisaran ? Sebuah pandangan yang cukup berpengaruh percaya bahwa investasi adalah masalahnya.

Artikel tersebut menyebutkan bahwa negara-negara besar dapat menggunakan potensi ekonomi mereka untuk mengembangkan kekuatan militer. Tetapi ketika mereka menjadi terlalu ekspansif, biaya besar untuk mempertahankan keunggulan strategis akan membuat bagian ekonomi yang lebih produktif kekurangan modal, sehingga mengarah pada resesi yang tak terhindarkan.

Bagi Tiongkok yang berada di bawah kepemimpinan Partai Komunis Tiongkok (PKT), ini seharusnya menjadi prospek yang mengkhawatirkan.

Pertumbuhan ekonomi Tiongkok saat ini terkait erat dengan ekspansi di bidang militer yang semakin agresif dan pengeluaran besar untuk menghadapi negara tetangga strategis.

Pengeluaran besar untuk OBOR membawa dampak berupa masalah ekonomi, dianggap sebagai investasi yang keliru

Yang sangat dikhawatirkan oleh dunia luar terhadap OBOR adalah inisiatif tersebut hanyalah digunakan sebagai sarana strategis oleh PKT untuk memperluas pengaruh globalnya.

Kritikus mengatakan bahwa proyek ini acap kali menyebabkan negara-negara kecil peserta jatuh ke dalam krisis utang.

Dan, PKT mengambil kesempatan untuk menguasai negara-negara ini dan bahkan mendapatkan dukungan mereka di Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Situs web Kantor Informasi dari Dewan Negara dalam sebuah artikelnya yang dirilis pada 2 November 2015 mnyebutkan bahwa sukses OBOR tidak terlepas dari keberhasilan merebut Eropa. Keberhasilan merebut Eropa berarti keberhasilan merebut dunia. Dari sini dapat terlihat betapa besarnya ambisi strategis PKT.

Komentar lain percaya bahwa PKT telah menghabiskan banyak uang untuk mempertahankan keunggulan strategisnya, tetapi telah menyeret pertumbuhan ekonominya. Beberapa negara kecil peserta proyek sudah tidak mampu membayar utang mereka, karena itu risiko kredit Tiongkok membesar.

‘Business Insider’ mengutip analisis Herve Lemahieu, Direktur Asian Power and Diplomacy Program at Lowy Institute menyebutkan bahwa jika negara kecil tidak mampu mengangsur dan terpaksa menunda pembayaran utang, maka risiko yang dihadapi ekonomi Tiongkok akan meningkat.

Artikel Bloomberg juga menunjukkan bahwa default investasi akan membawa serangkaian masalah bagi kreditur dan debitur. Risiko yang dihadapi PKT adalah bahwa semua pengeluaran yang salah ini secara bertahap telah memperlemah pertumbuhan produktivitas dalam ekonomi Tiongkok.

Perusahaan BUMN Tiongkok CITIC Group sedang memimpin proyek pembangunan pelabuhan laut Kyaukpyu dan kawasan industri yang nilai totalnya mencapai USD. 9.6 miliar. Pembangunan tersebut nantinya akan dikaitkan dengan pemasangan pipa minyak dan gas alam yang dibangun bersama oleh Myanmar bersama China National Petroleum Corporation.

Pipa minyak dan gas alam Tiongkok – Myanmar telah dianggap sebagai proyek mahal sejak dimulai. The New York Times sebelumnya telah menerbitkan sebuah artikel analisis berjudul Pipa Minyak dan Gas Alam Tiongkok – Myanmar, Sebuah Pelajaran Mahal Buat Tiongkok ?

Artikel mengutip majalah Caijing Tiongkok yang mengatakan bahwa total investasi proyek PetroChina mencapai USD. 5 miliar.

Namun proyek ini belum membawa manfaat bagi Tiongkok. The New York Times mengatakan bahwa investasi ini telah menimbulkan kerugian besar bagi Tiongkok.

Untuk mencapai titik impas, setengah dari kapasitas pipa gas alam harus dipenuhi. Tapi sejak pipa dioperasikan tahun 2013, pemanfaatannya bahkan masih berada di bawah sepertiga kapasitas pipa. Bloomberg melaporkan bahwa dibandingkan dengan jumlah dana yang dikeluarkan, jelas ini bukan sebuah investasi yang baik.

Saluran pipa tersebut terhubung ke pabrik pengolahan minyak mentah di kota Kunming, Tiongkok dengan kapasitas pemrosesan sebesar 260.000 barel per hari.  Kapasitas produksi pabrik pengolahan ini bahkan berukuran hampir sama dengan kilang minyak terbesar di Inggris.

Namun, karena pasokan minyak mentah yang tidak mencukupi, pabrik pengolahan pun dalam kondisi tidak dapat sepenuhnya dimanfaatkan.

Beberapa komentator juga percaya bahwa perang dagang Tiongkok – AS yang sedang berlangsung membawa dampak terhadap ekonomi Tiongkok, membuat PKT tidak mampu lagi menebarkan uang dalam jumlah besar.

Komentator politik Ma Yungen mengatakan, perang dagang akan memicu langkah OBOR untuk lebih menghamburkan kemampuan, juga membuat proyek OBOR yang sedang kesulitan menjadi semakin sulit.

PKT mengabaikan sejarah dan hukum ekonomi dasar perdagangan Timur-Barat, menyebabkan munculnya salah tafsir

Artikel Bloomberg mengatakan bahwa jaringan proyek kereta api di Asia Tengah membentuk inti dari sebagian besar Sabuk Ekonomi Jalur Sutra. Proyek-proyek ini melanggar sejarah panjang perdagangan Timur dan Barat dan hukum ekonomi dasar.

Untuk waktu yang lama, perdagangan Timur-Barat selalu lebih mengandalkan transportasi maritim melalui Asia Tenggara, India, dan Semenanjung Arab daripada Jalur Sutra darat melalui padang rumput Eurasia.

Artikel ini lebih lanjut menjelaskan transportasi laut lebih menguntungkan dibandingkan dengan transportasi darat. Transportasi laut modern sekarang memiliki kapal kontainer raksasa yang dapat membawa hampir USD. 1 miliar nilai kargo dalam sekali pelayaran.

Peristiwa ini jelas memperparah kerugian kompetitif transportasi darat. Ditambah lagi dengan adanya perbedaan dalam ukuran rel kereta api yang digunakan di Asia dan Eropa, pada dasarnya transportasi darat seringkali berbiaya lebih tinggi dan memakan waktu.

Menurut data China Railway Express Company, dalam empat bulan pertama tahun ini, nilai pengiriman kargo antara Yiwu (pusat kereta api dekat Shanghai) menuju Eropa mencapai RMB. 2,27 miliar (USD. 330 juta). Tapi ini hanya sepertiga dari nilai yang dapat dibawa kapal kontainer raksasa. Selain itu, jumlah ini hanya setara dengan nilai barang yang diproses setiap 3 jam di 4 pelabuhan utama Tiongkok.

Sebagian besar perdagangan antara Tiongkok dengan Eropa adalah melalui laut dan udara. Menurut data dari Pusat Studi Strategis Internasional tahun 2016, transportasi udara menyumbang 28%, transportasi laut menyumbang 64%, dan rel kereta api dan jalan raya menyumbang hanya 8,1% dari total pengiriman kargo.

Mengingat sejarah dan hukum perdagangan antara Timur dan Barat, proyek OBOR masih kebanyakan berorientasi pada investasi besar dalam pembangunan transportasi darat. Hal mana pasti akan mengarah pada masalah pendapatan. Bloomberg mengatakan, ada baiknya untuk menengok kembali tentang semua investasi yang salah dengan kemunduran ekonomi Uni Soviet.

Pembangunan Siberia menyeret runtuhnya Uni Soviet

Pada pertengahan abad ke-20, Moskow menjadi tuan rumah keajaiban ekonomi gaya Tiongkok yang menyebabkan banyak negara Barat khawatir bahwa mereka akan dilampaui. Pada 1950-an, Uni Soviet tumbuh lebih cepat daripada negara besar lainnya kecuali Jepang.

Perkembangan Uni Soviet ini mulai menurun pada tahun 1970-an karena sejumlah alasan, termasuk rigidisasi ekonomi terencana dan pengeluaran militer besar selama Perang Dingin. Meskipun demikian, ketika menyinggung soal penurunan produktivitas Uni Soviet, suatu keharusan untuk dipertimbangkan adalah inisiatif OBOR, sama seperti pengembangan Siberia.

Sejak tahun 1960-an, Siberia telah menyerap sekitar sepertiga peralatan konstruksi berat Soviet. Moskow telah banyak berinvestasi dalam pengembangan ladang gas alam, tambang batu bara, pabrik aluminium dan kereta api.

Pada tahun-tahun 1970-1980, penurunan produktivitas minyak, batu bara, dan baja menyeret turun kinerja ekonomi seluruh Uni Soviet.

Ekonom Robert C. Allen mengatakan dalam sebuah penelitian tahun 2001 yang berjudul Kebangkitan dan Kejatuhan Ekonomi Soviet, ia melukiskan bahwa pengembangan sumber daya alam Siberia menelan sejumlah besar investasi Soviet dan mengalihkan perhatian para investor dari proyek yang lebih menarik di sebelah barat Urals, akhirnya merusak produktivitas seluruh ekonomi.

Laporan itu mengatakan bahwa sumber daya alam Uni Soviet yang kaya sampai batas tertentu telah menghambat perkembangan ekonomi Uni Soviet. Pengembangan sumber daya telah menelan porsi besar dari anggaran investasi, tetapi PDB hampir tidak mengalami peningkatan.

Ini menjadi alasan penting untuk menyeret runtuh Uni Soviet. Bloomberg melaporkan bahwa tenaga kerja Tiongkok diperkirakan akan menurun untuk pertama kalinya dalam 50 tahun pada tahun 2018. Seperti Uni Soviet pada tahun 1970-an, Tiongkok akan mengakhiri periode panjang kemakmuran pekerja, PKT berharap untuk mempertahankan keajaiban lama melalui investasi gila-gilaan sambil menstabilkan wilayah perbatasan.

Berhasil tidaknya proyek OBOR, serta sejumlah besar pengeluaran domestik, akan memastikan apakah negara tersebut akan mewujudkan kemakmuranmenapak jejak runtuhnya Uni Soviet. (Sin/asr)

Share
Tag: Kategori: OPINI

Video Popular

Ad will display in 09 seconds