Erabaru.net. Karena suka makan makanan gorengan, seorang pria bermarga Lin (60) kerap mengalami sakit perut dan diare, namun, tak dia hiraukan. Beberapa waktu kemudian, gejala tidak enak badan kembali menghampirinya. Lin yang mengalami diare selama 2 minggu ini tiba-tiba merasa ada yang tidak beres dengan kesehatannya.

Kemudian bergegas ke rumah sakit untuk memeriksakan diri. Dokter memberinya tes darah okultisme tinja, dan hasilnya menunjukkan reaksi positif. Kemudian dilanjutkan dengan pemeriksaan melalui kolonoskopi, yakni pemeriksaan yang dilakukan untuk mengetahui terjadinya gangguan atau kelainan pada usus besar (kolon) dan rektum yang sering menimbulkan gejala berupa sakit perut, darah pada tinja, diare kronis, gangguan buang air besar.

Dari hasil pemeriksaan lanjutan itu didiagnosis sebagai tahap awal kanker kolorektal atau kanker usus besar. Kemudian Lin menjalani operasi untuk proses pengobatan, dan ditindaklanjuti secara teratur untuk menghindari kambuhnya gejala terkait.

Orang yang punya riwayat keluarga kanker, dan kebiasaan makan makanan yang berminyak adalah kelompok orang yang rentan terserang kanker kolorektal.

Direktur Klinik Rumah Sakit Kanker setempat yang telah menangani banyak kasus penyakit terkait mengatakan, bahwa pasien bersangkutan sehari-hari menyukai makanan tinggi kalori, makanan yang digoreng, dan tidak punya kebiasaan berolahraga. Ketika ditanya lebih lanjut, ayahnya ternyata meninggal karena kanker usus besar.

Untungnya, Lin segera menyadarinya dan memeriksakan diri ke rumah sakit, sehingga belum terlalu serius dan tumornya bisa diangkat serta ditindaklanjuti secara teratur.

Jutaaan orang menderita kanker usus setiap tahun

Kanker kolorektal adalah kanker telah menjadi kanker paling umum ketiga di dunia. Pada tahun 2000 saja, lebih dari 700.000 orang di seluruh dunia menderita kanker kolorektal. Penyebab kanker kolorektal, selain terkait dengan riwayat penyakit genetik keluarga, kebiasaan sehari-hari dan pola makan yang buruk juga dapat meningkatkan risiko kanker usus besar.

Deteksi dini dapat meningkatkan kelangsungan hidup

Karena gejala awal kanker kolorektal tidak begitu jelas, sehingga umumnya sulit dideteksi, sampai setelah terjadi kelainan pada proses BAB, seperti diare yang berlangsung lama, sembelit berkepanjangan, bahkan tinja bercampur darah, semuanya pun sudah terlambat.

Dihimbau agar sejak usia 30 tahun sebaiknya menjalani tes darah tinja okultisme secara berkala. Pemeriksaan sederhana ini merupakan tes screening awal kanker kolorektal.Caranya dilakukan dengan mengambil contoh feses yang diletakkan pada kartu khusus yang akan berubah warnanya jika feses tersebut mengandung darah.

Ingat! Deteksi dini, dan pengobatan dini, maka tingkat kelangsungan hidup fase pertama bisa mencapai 95%, dan kurang dari 20% setelah memasuki fase keempat. (jhn/yant)

Sumber: kknews.cc

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular