Ren Jianhao

Pada awal milenium, bintang pria Amerika Jim Caviezel menjadi rebutan dunia perfilman berkat perannya di film: “The Thin Red Line”, “Frequency” dan “The Count of Monte Cristo”, dan tampaknya masa kejayaan dalam dunia acting akan segera dimulai. Namun setelah membintangi film “The Passion of the Christ” yang disutradari Mel Gibson, karier layar lebar Jim Caviezel tampaknya telah terhenti. Apa yang terjadi?

Jim Caviezel yakin bahwa setelah menjadi pemeran utama Jesus Kristus dari ‘the Passion of the Christ’, yang menenggelamkan karir Hollywoodnya.

Mel Gibson ketika memutuskan untuk memberinya peran sebagai Yesus Kristus sejak awal mengatakan kepadanya: “Anda mungkin tidak dapat kembali bekerja di sini kelak.” Jim Caviezel masih ingat kala itu menanggapi Mel Gibson dengan mengatakan, “Kalau begitu mari kita sama-sama memeluk salib kita!”

Jim Caviezel memutuskan mempertaruhkan karier aktingnya untuk memerankan kisah Yesus yang sebenarnya di mata Mel Gibson. Dia berkata: “Pro-kontra yang tidak banyak berubah sejak 2000 tahun ini adalah apakah Yesus Kristus benar-benar pernah eksis … Maka yang harus kami lakukan adalah mengatakan kebenaran, bahkan jika harus melepaskan reputasi, gengsi dan kehidupan kita.”

Di tengah melubernya film-film Hollywood yang berorientasi pada film dewasa dan bahkan berdeskripsi vulgar, Jim Caviezel, yang sangat enggan untuk melakukan adegan intim, dihindari oleh para pembuat film.

Jim Caviezel berkata: “Adegan panas sangat membuat saya menderita. Saya tidak mempercayai ini, saya rasa itu tidak benar. Dalam keyakinan saya, saya diajarkan bahwa tidak berzinah adalah penting. Dalam pembuatan film “The Peerless Heroes”, Caviezel menarik tokoh wanita Dagmara Dominczyk ke pinggir dan berkata, “Anda tahu saya sudah menikah dan sangat setia pada pernikahan.” Jawaban Dagmara  adalah: “Jim, ini adalah film Disney, saya tidak akan membuat aksi berlebihan.”

Dalam kehidupan nyata, Jim Caviezel juga tanpa malu-malu menyatakan pandangan politiknya yang konservatif.

Pada tahun 2006, bintang film Michael J. Fox (trilogi “Back to future”) memilih untuk memberikan suara setuju unutk ‘amandemen penelitian sel induk embrio’; untuk perilaku Fox ini, Caviezel muncul dalam sebuah iklan anti penelitian sel induk embrio dan berkata dalam bahasa Aram, “Kamu telah mengkhianati anak manusia dengan sebuah ciuman” serta merespon dengan metafora pengkhianatan Yudas terhadap Yesus Kristus.

Menurut argumentasi organisasi “Anti-Replicator Missouri”, amandemen ini dikhawatirkan adalah sebuah tipuan yang  membuat bingung (masyarakat), karena “ia memperbolehkan proyek penelitian yang dapat diperluas ke proyek lain”.

Sedangkan kalimat Caviezel itu juga membuatnya sulit untuk berteman di Hollywood, dimana dewasa ini dipenuhi nilai-nilai aliran kiri. Bukan setiap pandangan politik dan keagamaan bintang film Hollywood akan memiliki dampak negatif terhadap karirnya. Ketika menanggapi wawancara media, Jim Caviezel berkata: “Orang-orang di Hollywood sering bertanya kepada saya mengapa saya tidak dapat memisahkan identitas Katolik saya dari profesi seni?” Dia menjawab: “Keyakinan saya membantu saya melakukan putusan yang benar.”

Di depan layar, dia tidak mendapatkan pengakuan yang pantas ia dapatkan, sebaliknya hal itu membukakan pintu lain untuk keluarga Jim Caviezel. Jim Caviezel dan istrinya, Kerri Browitt, adalah penganut Katolik yang taat, mereka telah menikah selama 22 tahun dan mengadopsi tiga anak khusus dari daratan Tiongkok: Dua mengidap tumor otak dan yang ketiga tumor ganas. Dibandingkan dengan mengadopsi anak yang normal, mereka percaya bahwa mereka dapat memberi anak-anak khusus ini peluang yang lebih baik. “Mereka itu dicampakkan, tak peduli apakah mereka dibutuhkan oleh orang lain, mereka adalah manusia sama seperti kita,” kata Caviezel.

Jim berperan sebagai Kristus dalam film “the Passion of the Christ”.

Jim Caviezel, yang tidak mendapatkan perhatian Hollywood, sepertinya tidak peduli sama sekali. Dibandingkan dengan Hollywood, yang lebih dipentingkan oleh Caviezel adalah karya keagamaannya.

Pada tahun 2016, Caviezel berperan dalam dubbing untuk film dokumenter “Selamatkan benua Eropa: John Paul II dan runtuhnya komunisme.”

Film dokumenter ini menceritakan kisah tentang Eropa Timur pasca Perang Dunia Kedua yang terjerumus ke kubu komunisme dan bagaimana Yohanes Paulus II bertahan hingga keruntuhan komunisme.

Setelah tenggelam hampir satu dekade, Jim Caviezel tampaknya aktif kembali baru-baru ini. Jim Caviezel memerankan St. Lukas dalam film biblikal “Paul, Apostle of Christ, (2018)”. Kemudian Caviezel akan terus berperan dalam dubbing di film eksplorasi sejarah “Onyx, Kings of the Grail.”

Selanjutnya, Jim Caviezel dan Mel Gibson tampaknya hendak memulai sebuah proyek yang lebih besar. Caviezel telah sepenuhnya siap untuk muncul kembali sebagai karakter klasik abadi dari “the Passion of the Christ”; “Namun saya tidak bisa memberitahu Anda bahwa bagaimana dia (Mel Gibson) akan melakukannya,” “Tapi saya dapat memberitahu Anda bahwa ini akan menjadi film terbesar dalam sejarah, sangat bagus!” Kata Caviezel dengan gembira.

Tidaklah mengherankan bahwa Jim Caviezel bersemangat untuk bisa memerankan Yesus Kristus lagi, kembali ke titik awal nasib memang adalah takdirnya. Caviezel berkata: “Jangan bilang ini suatu kebetulan. Ini bukanlah kebetulan, hanya kaum ateis yang percaya pada kebetulan. Bagi Tuhan tidak ada yang kebetulan.” (HUI/WHS/asr)

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds