Erabaru.net. Dampak perang dagang terhadap rakyat Tiongkok secara bertahap mulai muncul, harga makanan menjadi yang paling jelas dirasakan. Seperti daging babi sebagai contoh, harga daging babi di pasar naik sekitar 20 % dalam jangka pendek, sejumlah warga penduduk telah mulai menimbun bahan makanan.

Analis menunjukkan bahwa Tiongkok belum tergolong negara swasembada pangan. Begitu perang dagang berkobar, tidak mengesampingkan kemungkinan negara-negara tetangga akan menghentikan pasokan bahan pangan biji-bijian ke Tiongkok sehingga negara tersebut mengalami krisis pangan.

Menurut laporan Radio Free Asia (RFA) bahwa angka produksi pangan Tiongkok terbaru telah memicu munculnya sejumlah kekhawatiran.

Diperkirakan total output gandum Tiongkok musim panas tahun ini menjadi 138,72 juta ton, turun 2,2% dari periode yang sama tahun lalu.

Menurut pengumuman Badan Urusan Logistik Tiongkok cadangan gandum sampai 31 Juli di daerah penghasil utama yang diperoleh total adalah 3,686.7 juta ton, menurun sampai 50 % jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Dampak perang dagang terhadap rakyat Tiongkok secara bertahap mulai muncul, harga makanan menjadi yang paling jelas dirasakan

Propinsi penghasil biji-bijian utama seperti Henan, total pembelian gandum kumulatif turun tajam dari 17,45 juta ton pada paruh pertama tahun 2017 menjadi 7,794 juta ton pada semester pertama tahun ini.

Adapun luas lahan pertanian di negara itu, hanya ada 1,68 miliar mu pada tahun 2017, menurun 815 ribu hektar dari tahun 2016. Dan itu telah jatuh di bawah garis merah yang 1,8 miliar mu tanah yang dibudidayakan.

Dengan berkurangnya produksi biji-bijian dan kenaikan harga pangan internasional, angka-angka inflasi harus naik secara bersamaan, tetapi Indeks Harga Konsumen (CPI) yang baru saja dirilis oleh Biro Statistik hanya meningkat 2,1% year-on-year. Memicu keraguan dari publik dan pakar.

Nona bermarga Wu kepada Radio Free Asia mengatakan, harga daging babi di daerahnya pada bulan Mei, Juni adalah sekitar 8 Yuan lebih, tetapi kini sudah menjadi 10 Yuan lebih. Karena dia tidak memiliki penghasilan, kenaikan harga memiliki dampak besar padanya.

tarif impor kedelai
Para pekerja memuat kedelai yang diimpor ke sebuah truk di sebuah pelabuhan di Nantong di Provinsi Jiangsu timur, pada 4 April 2018. (AFP / Getty Images)

Ye Tan Finance baru-baru ini menerbitkan artikel yang meragukan laporan data CPI yang dikeluarkan oleh Biro Statistik Tiongkok.

Artikel itu mengatakan bahwa beberapa penduduk Tiongkok sudah mulai menimbun makanan, beras, tepung, minyak, dan bahkan makanan anjing, “Bukan karena takut harganya yang tinggi tetapi tidak ada barang di kemudian hari” kata warga.

Selain harga daging babi yang naik sampai 20 % dalam beberapa bulan terakhir, Sejak bulan Januari sampai Juli, harga bebek juga naik 23.9 %. Harga daging ayam di Yantai, Shandong naik 4.63 %, naik 21.1 % dibandingkan periode sama tahun lalu. Daging sapi naik 3.9 % dari bulan sebelumnya dan naik 11.6 % dibandingkan periode sama tahun lalu.

Selain daging dan bahan makanan biji-bijian yang naik. Bensin dan solar pada bulan Juli juga naik masing-masing 22.7 % dan 25.1 %.

Liu Kaiming, kepala Lembaga Pengamatan Sosial Kontemporer Shenzhen mengatakan kepada Radio Free Asia bahwa indeks harga konsumen yang diumumkan secara resmi jelas memiliki kandungan yang perlu dicurigai.

Liu Kaiming menggambarkan, Tiongkok telah menjadi importir makanan pertama di dunia. Sebagaimana diketahui bahwa tahun lalu, impor gandum Tiongkok telah mencapai lebih dari 1.300 juta ton makanan pokok seperti beras dan gandum, khususnya.

Dia khawatir bahwa begitu eskalasi perang dagang meningkat, negara padat penduduk ini mungkin dapat mengalami krisis pangan. (Sin/asr)

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular