Erabaru.net. Wei Ying adalah seorang wanita pekerja keras, dia dan suaminya sama-sama berasal dari keluarga petani. Wei Ying dikaruniai seorang putra setelah dua tahun menikah.

Wei Ying dan suaminya setiap hari banting tulang dari pagi hingga menjelang malam. Setiap pagi mereka membawa sayur mayur dan menjualnya di pasar, namun penghasilan masih tidak cukup untuk menghidupi sekeluarga.

Untuk menambah penghasilan, Wei Ying dan suaminya kemudian menanam beberapa pohon buah pir di belakang rumah mereka, dan menjualnya saat panen tiba.

Tapi nasib buruk masih saja menimpa keluarga miskin ini. Ketika putranya berusia lima tahun, suami Wei Ying mengalami kecelakaan lalu lintas dalam perjalanan pulang usai menjual sayuran di kota kabupaten.

Sepeda roda tiganya hancur tak berbentuk setelah dihantam truk besar yang melaju tak terkendali, dan suaminya tewas seketika di tempat.

Sejak itu, Wei Ying pun menjadi janda, sambil menahan duka kehilangan suami, Wei Ying terus bekerja menggarap ladang buahnya.

Dia berusaha merawat pohon buah pirnya. Dia dan anaknya sekarang hanya mengandalkan ladang sayur dan pohon buah pir-nya.

Untungnya, Ping-Ping anaknya bisa memahami kondisi ibunya. Sejak kecil, Ping-Ping belajar dengan tekun, dan tidak menyusahkan ibunya.

Singkat cerita, Ping-ping pun sudah lulus kuliah dan bekerja di kota.

Ping Ping selalu menyisihkan uang gajinya setiap bulan dan mengirim untuk ibunya di kampung. Sepeninggal ayahnya, Ping Ping bisa merasakan betapa susahnya ibunya membesarkan, dan membiayai studinya hingga lulus. Karena itulah Ping Ping yang sangat berbakti ini akan bekerja keras dan berencana menyicil rumah di kota, kemudian mengajak ibunya untuk tinggal bersamanya di kota. Wei Ying sangat bahagia dan senang mendengar rencana Ping Ping putranya.

Setiap panen buah pir, Wei Ying selalu membawanya ke kota dan dijual di sana.

Pagi itu, seperti biasa Wei Ying membawa buah pirnya yang siap dijual ke pasar. Dia menjajakan buahnya sambil berteriak menarik minat pembeli “Pir segar manis, hanya 20 ribu rupiah sekilo, tak usah bayar kalau tidak manis.”

Padahal, tanpa berteriak juga, selalu ada pelanggan setianya yang datang ke kiosnya untuk membeli, karena banyak orang tahu kalau Wei Ying adalah seorang janda miskin yang baik hati dan patut dibantu, jadi para pelanggannya selalu membantu dengan cara membeli buah pirnya..

Baru beberapa kali berteriak, kios buahnya pun mulai ramai dikunjungi para pelanggan yang sibuk memilih pir segar sambil ngobrol dengannya.

Namun, Wei Ying tampaknya tidak menyadari kalau di balik kiosnya ada gelandangan yang diam-diam mengambil dua buah pir dan langsung melahapnya dengan rakus, tampaknya gelandangan itu sangat lapar. Setelah makan, terdengar gelandangan itu bersendawa dari balik dinding.

Satu jam kemudian, buah pir Wei Ying pun habis dibeli pelanggan setianya, dia pun merapikan kiosnya dan bersiap untuk pulang.

Tak lama dalam perjalanan pulangnya, tiba-tiba Wei Ying merasa pusing dan matanya berkunang-kunang, lalu pingsan di jalan.

Orang-orang yang kebetulan lewat kemudian hanya menonton, tidak ada yang berani mendekat untuk menolong, karena mereka takut itu adalah modus penipuan yang nantinya justru malah diperas.

Di saat tidak ada orang yang mau menolong, tiba-tiba, sesosok bayangan muncul dari kerumunan dan bergegas membawa Wei Ying ke rumah sakit terdekat.

Orang yang mengangkat dan membawanya ke rumah sakit ini ternyata gelandangan yang sebelumnya mencuri buah di kios buah Wei Ying.

Atas penanganan staf medis, Wei Ying pun segera pulih kesadarannya. Tak lama kemudian,dia bertanya pada gelandangan itu: “Mengapa kamu menyelamatkan saya?”

Gelandangan itu tidak berani menatap Wei Ying, seperti seorang anak kecil yang merasa bersalah, dan berkata, “Tadi saya mencuri buah pir di kios Anda. Saya mendengar seorang pelanggan memberitahu Anda kalau saya mencuri pir, tapi nyonya bilang tidak apa-apa, banyak orang yang hidup susah. Selama bertahun-tahun ini, nyonya adalah orang pertama yang begitu baik kepada saya, dan saya ingin melakukan sesuatu untuk nyonya. “

Setelah Wei Ying keluar dari rumah sakit, dia membawa pulang pria tunawisma muda itu dan menganggapnya sebagai anak angkatnya.

Lahan pertanian yang telah lama ditinggalkan Wei Ying sejak kematian suaminya itu kemudian mulai hijau kembali oleh lebatnya sayuran hijau di bawah garapan si gelandangan, anak angkatya itu.

Ternyata memang benar, kalau berbuat baik itu pasti akan mendapatkan balasan baik. Ibarat pribahasa apa yang kau tanam itulah yang kau tuai.

Kebaikan hati sang janda akhirnya memberinya kejutan yang membahagiakan, nyawanya selamat sekaligus mendapatkan seorang anak angkat yang berbakti kepadanya.

Kini Wei Ying punya dua anak laki-laki yang sangat berbakti, anak angkatnya menemani di kampung, sementara putra kandungnya sedang merintis karier di kota.(jhn/yant)

Sumber: life.bldaily.com

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular