oleh Zhang Ting

Mantan bintang olahraga kriket Imran Khan pada hari Sabtu (18/8/2018) telah resmi menjabat sebagai Perdana Menteri Pakistan yang baru. Perkiraan sejumlah analis pasar menyebutkan bahwa pemerintah Pakistan yang baru dapat menghadapi krisis neraca pembayaran utang sehingga terpaksa menyelamatkan diri dengan meminta bantuan IMF. Akibat langkah ini, ambisi partai komunis Tiongkok (PKT) yang semakin luas untuk ‘menguasai’ Pakistan jelas akan terhambat.

Menurut laporan majalah AS ‘Foreign Policy’ pada 16 Agustus, Perdana Menteri Pakistan yang baru terpilih Imran Khan, yang tugas utamanya bukan untuk menstabilkan Afghanistan, atau membatasi perluasan senjata nuklir di Pakistan, tetapi bekerja dengan tim untuk menyelesaikan krisis yang timbul karena kesenjangan penerimaan dan pengeluaran negara.

Pemerintah baru sudah mempertimbangkan untuk meminta bantuan dari Dana Moneter Internasional (IMF) dalam rangka mengurangi risiko krisis pembayaran utang karena kesenjangan antara pendapatan dan pengeluaran negara. Namun, banyak analis percaya bahwa kembalinya negara Pakistan ke IMF akan membuat Tiongkok cemas karena proyek ambisius Sabuk Ekonomi Jalur Sutra mereka di Pakistan dapat terhambat.

Proyek prototipe PKT di Pakistan kandas karena krisis pembayaran utang

Jalur kereta api bawah tanah pertama di Pakistan ‘Orange Line’  dibangun dan didanai perusahaan BUMN Tiongkok. Proyek pertama tersebut bernilai USD. 62 miliar. Beijing sejak awal telah merancang proyek tersebut menjadi proyek prototipe yang dapat mewakili inisiatif Sabuk Ekonomi Jalur Sutra (OBOR) mereka. Untuk ‘dijual’ kepada negara tetangga lainnya. Namun, utang negara Pakistan sekarang yang tinggi menjadikan promosi dalam mengembangkan proyek-proyek OBOR terhalang.

‘Wall Street Journal’ mengatakan bahwa dalam 3 tahun pelaksanaan proyek PKT di Pakistan tersebut, pemerintah Pakistan telah dibawa menuju jalan krisis pembayaran utang, sebagian itu disebabkan oleh biaya yang berkaitan dengan proyek ‘Orange Line’ termasuk bahan-bahan yang dibutuhkan harus diimpor dari Tiongkok melonjak, pinjaman pun naik.

Pejabat pemerintah Pakistan mengatakan bahwa, proyek ‘Orange Line’ baru dapat beroperasi jika ada subsidi publik. Pihak berwenang Pakistan sekarang ini sudah gagal dalam melunasi tagihan listrik yang dipasok dari pembangkit listrik baru Tiongkok, Sedangkan proyek-proyek pembangkit listrik ini mencakup sebagian besar dari proyek OBOR PKT di Pakistan.

Buruh berjalan melalui Pelabuhan Gwadar di Pakistan, sebuah proyek infrastruktur bernilai miliaran dolar yang telah diinvestasikan Tiongkok, sebagai bagian dari prakarsa ‘One Belt, One Road’ yang terakhir. (Amelie Herenstein / AFP / Getty Images)

Pejabat Pakistan mengatakan bahwa pemerintah Pakistan yang baru besar kemungkinan akan meminta bantuan IMF untuk pertama kalinya sejak tahun 2013.

Jika hal ini sampai terjadi, promosi PKT yang berbunyi : Proyek-proyek OBOR yang dijadikan ‘Koridor (kemakmuran) Ekonomi Tiongkok dan Pakistan’ (CPEC) diharapkan dapat berhasil untuk mengentaskan kemiskinan rakyat negara berpenduduk 200 juta yang cukup lama berada dalam kondisi negara yang kurang stabil.

Dan ini adalah kesempatan untuk membuktikan kepada negara lain bahwa model pembangunan tersebut akan menguntungkan negara peserta OBOR. Tetapi sekarang, justru yang menonjol adalah Pakistan berada dalam kondisi krisis yang mendalam.

‘Foreign Policy’ mengungkapkan bahwa CPEC kemungkinan akan mendorong Pakistan masuk krisis berikutnya kecuali jika terjadi perubahan kondisi. Jika tidak mereformasi dan tidak meningkatkan daya saing negara, negara tersebut kemungkinan akan jatuh ke dalam perangkap utang yang tidak terhindarkan.

Ini adalah pertanyaan yang harus dibahas oleh Tiongkok dan Pakistan. Tiongkok adalah mitra dagang terbesar Pakistan dan sumber utama penyebab defisit perdagangan Pakistan. Pakistan hanya mengekspor barang senilai USD. 1,62 milyar ke Tiongkok, yang jauh lebih rendah daripada ekspor mereka ke Uni Eropa atau Amerika Serikat.

‘The Economic Times’ dari India mengatakan bahwa cadangan devisa Pakistan sedang menurun, dan mereka sedang berusaha untuk memperoleh suntikan dana pinjaman dari IMF atau sekutunya sebesar USD. 10 miliar agar krisis mata uang tidak meletus di negara tersebut.

Andrew Small, seorang ahli hubungan Tiongkok-Pakistan di German Marshall Fund di Washington Think Tank dalam penjelasannya mengatakan bahwa jika keuangan Pakistan sampai harus ‘berteriak minta tolong’ kepada Barat, maka itu berarti “Sebuah noda besar bagi seluruh rencana dalam proyek OBOR,” katanya.

Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo telah memperingati IMF bahwa bail out baru kepada Pakistan tidak dapat digunakan untuk membayar utang negara kepada Tiongkok.

Share

Video Popular