Jika Pakistan kembali ke IMF, itu akan menghentikan ambisi PKT

‘Foreign Policy’ berpendapat, bahwa kembalinya Pakistan ke IMF memiliki dampak geopolitik yang lebih luas. Beberapa warga Pakistan berspekulasi bahwa Tiongkok mungkin akan menentang rencana IMF karena negara komunis itu khawatir bahwa IMF akan memaksa mereka untuk melepaskan persyaratan pembiayaan dari sejumlah proyek CPEC.

Para pekerja Pakistan dan Tiongkok duduk di atas ekskavator ketika mereka meninggalkan terowongan yang baru dibangun di Lembah Gojal, Pakistan utara, pada 25 September 2015. Proyek ini merupakan bagian dari One Belt, One Road initiative yang ambisius dari Tiongkok. (Aamir Qureshi / AFP / Getty Images)

IMF mungkin meminta Pakistan untuk memberikan beberapa informasi keuangan yang relevan untuk lebih memahami pendapatan dan pengeluaran negara. Meskipun pertukaran data ini normal dalam program pinjaman IMF, karena IMF perlu memastikan bahwa pinjaman yang diberikan kepada Pakistan mampu dibayar kembali, Tetapi persyarat tersebut jelas akan membuat PKT berkhawatir atas kembalinya Pakistan ke IMF.

Artikel menyebutkan bahwa pemilihan baru-baru ini di Pakistan dan kembalinya negara itu ke IMF akan menimbulkan 3 ringtangan dalam usaha patungan PKT dengan Pakistan, dengan demikian ambisi PKT jadi terhambat.

Hambatan pertama adalah pemerintah Pakistan yang baru akan melakukan investigasi anti-korupsi terhadap pemerintah sebelumnya. Perdana Menteri baru Imran Khan selama kampanye telah menuduh pemerintahan lama menyepakati perjanjian yang tidak adil, tidak transparan dengan PKT, fokusnya adalah pada banyak proyek infrastruktur berskala besar yang dilaksanakan oleh pemerintah sebelumnya. termasuk proyek CPEC.

Hasil investigasi terhadap korupsi yang dilakukan pemerintah lama akan segera dikeluarkan. Rincian rahasia transaksi keuangan dengan PKT yang berkaitan dengan proyek CPEC akan segera terbuka. Inilah hal yang tidak diinginkan oleh PKT.

Pakistan meminta bantuan kepada IMF akan membawa hambatan kedua bagi ambisi PKT terhadap proyeknya di Pakistan. Para pejabat Pakistan mengatakan bahwa jika terpaksa mencari bantuan dari IMF, maka Pakistan perlu mengikuti peraturan pinjaman dan kontrol pengeluaran yang ketat dari IMF, Pakistan mungkin dipaksa untuk menghentikan program CPEC yang disponsori PKT.

IMF kemungkinan akan membatasi pemerintah baru Pakistan menerbitkan  Sovereign Guarantees bagi proyek CPEC.  Yang dimaksud dengan Sovereign Guarantees adalah menjaminkan kreditur internasional dengan ‘mempertaruhkan’ kedaulatan suatu negara yang sedang membutuhkan pinjaman dana.

‘Foreign Policy’ mengatakan bahwa ini adalah berita buruk bagi PKT karena telah meminta negara-negara mitra OBOR di Asia termasuk Pakistan untuk menyetujui peggunaan Sovereign Guarantees (Jaminan kedaulatan) dalam kerjasama di proyek OBOR.

Dari permukaan, ini adalah pendekatan yang hampir predatori dan mencurigakan. Jika IMF berencana untuk membatasi masalah tambahan Sovereign Guarantees dari pemerintah Pakistan, maka ini akan menunda peluncuran proyek baru PKT di Pakistan, sehingga menjadi penghambat bagi PKT untuk merealisasikan ambisinya yang lebih besar di Pakistan.

Hambatan ketiga adalah, potensi persyaratan pengetatan keuangan dari IMF. Misalnya, pembangunan infrastruktur proyek perkeretaapian Pakistan yang dilaksanakan oleh Tiongkok dengan pinjaman dana sebesar USD. 8 miliar.

Di bawah batasan-batasan rencana IMF, Pakistan tidak hanya akan dicegah mengeluarkan Sovereign Guarantees untuk mendukung pinjaman semacam itu, tetapi Perusahaan Perkeretaapian Pakistan yang milik negara itu kemungkinan akan tunduk pada persyaratan restrukturisasi atau privatisasi. Karena itu, rencana IMF akan secara langsung menghambat perkembangan ambisi PKT untuk mengembangkan koridor darat.

Artikel itu mengatakan bahwa ketentuan-ketentuan pinjaman IMF dapat membantu Pakistan untuk menghindari beberapa risiko, selain itu membantu pemerintah baru Pakistan mencapai kesepakatan yang lebih baik, menelurkan perjanjian yang lebih menguntungkan Pakistan.

Share

Video Popular