oleh Chen Juncun

Sementara perang dagang AS – Tiongkok sedang berkobar, perusahaan fashion asing yang berinvestasi di Tiongkok satu demi satu memindahkan jalur produksi mereka ke negara Asia Tenggara seperti Kamboja, Vietnam dan lainnya untuk menghindari pengaruh terkenanya tarif mahal di AS.

Komoditas ‘Made in Cambodia’ besar kemungkinan dapat menggeser kedudukan komoditas ‘Made in China’ dan menjadi merk baru yang jadi favorit konsumen.

Menurut laporan media ‘Bloomberg’, sejumlah perusahaan fashion yang aktif melakukan diversifikasi rantai pasokan mereka telah mendirikan pabrik di negara-negara Asia Tenggara, dan mendudukkan pabrik mereka yang berada di Tiongkok sebagai alternatif.

Sekarang, setelah perang dagang berkobar, produk tas Tiongkok yang diekspor ke AS akan dikenakan tarif yang lebih tinggi. Ini membuat para investor produk barang-barang konsumen lebih tertarik untuk berinvestasi di Kamboja, Vietnam atau  negara-negara Asia Tenggara lainnya.

Meskipun pemerintah AS memberlakukan tarif pada banyak mitra dagang besar tahun ini, pemerintah masih mengizinkan beberapa barang Kamboja untuk terus masuk ke pasar AS dengan bebas bea.

Stephen Lamar, Executive Vice President American Apparel & Footwear Association mengatakan, perubahan (mengacu pada hengkangnya lini produksi dari Tiongkok) sudah berlangsung. Kenaikan tarif membuat perusahaan asing yang telah berinvestasi di Tiongkok sangat khawatir dan mereka menilai seberapa cepat mereka dapat membuat perubahan pada sumber pasokan mereka.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh US Fashion Industry Association pada bulan Juli menunjukkan bahwa sementara semua perusahaan yang berpartisipasi dalam penelitian ini telah mengimpor produk dari Tiongkok, tetapi 67% dari mereka berharap dalam 2 tahun ke depan untuk mengurangi jumlah termasuk minta penurunan harga produk-produk buatan Tiongkok.

Merek sepatu fashion Amerika Steve Madden telah memindahkan lini produksi tas dari Tiongkok ke Kamboja selangkah lebih maju. Perusahaan akan memasarkan 15% tas tangan yang diproduksi dari pabriknya di Kamboja tahun ini, dan rasio ini akan berlipat ganda pada tahun 2019.

CEO perusahaan tersebut Edward Rosenfeld mengatakan, perusahaan sudah hengkang 3 tahun lebih cepat dibandingkan dengan perusahaan sejenis, sedangkan perusahaan rekan-rekannya sekarang baru berusaha untuk hengkang dari Tiongkok.

Insentif bagi investor asing untuk berinvestasi di Kamboja

Kamboja menyediakan layanan konsultasi investasi untuk negara-negara Asia Tenggara bernama Cambodia at Emerging Markets Consulting. Direktur perusahaan tersebut Matt van Roosmalen mengatakan : “Kamboja memang menawarkan insentif investasi yang baik, seperti tax holidays. Selama pembebasan tarif berlanjut, perusahaan akan lebih tergoda untuk berinvestasi di Kamboja”.

Bahkan sebelum perang dagang berkobar produk tas tangan, tas kerja, dan dompet buatan Kamboja telah menikmati fasilitas bebas pajak. Ini adalah salah satu rencana Amerika Serikat untuk membantu merevitalisasi negara-negara berpenghasilan rendah untuk mengembangkan ekonomi mereka. Pemerintahan Trump saat ini masih mempertahankan kebijakan tersebut.

Selain ancaman kenaikan tarif, peningkatan upah pekerja Tiongkok juga menjadi salah satu alasan perusahaan asing hengkang. Sebaliknya, Kamboja masih merupakan salah satu negara dengan biaya tenaga kerja rendah. Menurut perkiraan Oxford Economics, biaya tenaga kerja di Kamboja hanya seperempat dari Tiongkok. (Sin/asr)

Share

Video Popular