Caracas – Venezuela memangkas lima angka nol dari harga mata uang, pada 20 Agustus 2018 waktu setempat. ‘Sulap’ mata uang itu menjadi bagian dari rencana ekonomi yang luas yang diklaim akan dilakukan oleh Presiden Nicolas Maduro.

Presiden Maduro mengatakan akan menjinakkan hiperinflasi dengan kebijakan baru. Akan tetapi, para kritikus dan oposisi menyebut itu sebagai rangkaian lain dari kebijakan sosialis yang gagal, yang akan mendorong negara yang kacau itu jatuh lebih jauh ke dalam liang krisis.

Jalan-jalan sepi dan toko-toko ditutup karena liburan nasional yang ditetapkan oleh Maduro untuk hari pertama dari rencana harga baru untuk ekonomi yang terpukul. Perekonomian negara, yang diperkirakan oleh Dana Moneter Internasional (IMF) akan memiliki 1 juta persen inflasi pada akhir tahun 2018.

Perubahan nilai dibarengi dengan kenaikan upah minimum 3.000 persen, kenaikan pajak untuk menopang pundi-pundi negara dan rencana untuk mematok gaji. Perubahan nilai mata uang juga dibarengi dengan rencana mematok harga dan nilai tukar uang negara terhadap petro, sebuah cryptocurrency yang didukung oleh negara, yang sulit dipahami.

Para ekonom mengatakan rencana tersebut, yang diumumkan pada 17 Agustus lalu, kemungkinan akan meningkatkan krisis yang dihadapi negara yang pernah berkembang itu. Negara kini menderita kekurangan produk ala Soviet dan eksodus massal warga yang melarikan diri ke negara-negara Amerika Selatan lainnya.

Rakyat Venezuela skeptis rencana itu akan mengubah perekonomian.

“Saya tidak dapat menemukan mesin uang tunai (ATM) karena semua bank ditutup hari ini,” kata Jose Moreno, 71, seorang pensiunan insinyur di pusat kota Valencia, yang mengeluhkan layanan publik yang disfungsional secara kronis.

“Tidak ada uang, tidak ada air, tidak ada listrik. Tidak ada apa-apa.”

Setelah tambang minyak selama satu dasawarsa sempat melahirkan ledakan konsumsi sebagai anggota OPEC, banyak warga kini menjelajahi sampah untuk mencari makanan. Karena gaji bulanan saat ini hanya beberapa dolar AS per bulan.

Langkah-langkah baru membuat khawatir para pemilik toko. Mereka sejak lama sudah berjuang untuk tetap bertahan karena hiperinflasi. Belum lagi kebijakan harga yang ditetapkan pemerintah untuk berbagai barang, mulai dari tepung hingga popok, dan kontrol mata uang ketat yang merusak impor.

Organisasi bisnis utama Venezuela, Fedecamaras, pada 20 Agustus mencibir rencana ekonomi Maduro sebagai ‘improvisasi’. Dia mengatakan kebijakan itu akan menyebabkan kebingungan serta menempatkan kegiatan ekonomi negara itu pada ‘risiko yang parah’.

“Mematok bolivar ke petro kepada kami tampaknya merupakan kesalahan serius. Rencananya tidak koheren,” kata Presiden Fedecamaras, Carlos Larrazabal pada konferensi pers.

BBM Tetap Murah
Maduro mengumumkan bulan ini, bahwa pemerintah akan menaikkan harga bensin bersubsidi menjadi tingkat harga internasional. Namun para pengemudi pada 20 Agustus membayar harga yang sama dengan pekan lalu.

Satu-satunya perbedaan yang mencolok di SPBU-SPBU adalah, tempat sampah dipenuhi dengan catatan 100-bolivar yang lama. Uang dengan nilai itu, sudah tidak lagi laku sebagai alat pembayaran yang sah, dibuang oleh para pengemudi. Uang lama dalam denominasi 1.000 ke atas akan terus beredar bersama dengan uang baru untuk jangka waktu yang belum ditentukan.

Bolivar diperdagangkan di pasar gelap sekitar 96 bolivar terhadap dolar, pada 20 Agustus. Tingkat nilai tukar yang mencerminkan perbaikan moneter, dan yang menyiratkan depresiasi dalam bentuk riil hampir 30 persen sejak pekan lalu.

Tingkat nilai itu bisa jadi tidak mewakili nilai pasar secara keseluruhan. Karena volume perdagangan tipis akibat libur umum, menurut pakar industri.

Ketidakpuasan yang berkembang terhadap Maduro telah menyebar ke kalangan militer, ketika tentara berjuang untuk mendapatkan makanan yang cukup. Banyak tentara turut meninggalkan negara itu, bersama dengan ribuan warga sipil.


Warga negara Venezuela duduk di kawasan utama pemukiman berpenghasilan rendah, Catia di Caracas, Venezuela, pada 20 Agustus 2018. (Marco Bello/Reuters/The Epoch Times)

Dua perwira militer berpangkat tinggi ditangkap bulan ini karena dugaan keterlibatan mereka dalam ledakan pesawat tak berawak ketika pidato Maduro digelar dalam sebuah parade militer. Peristiwa yang digambarkan sebagai upaya pembunuhan.

Kekacauan yang meningkat kini menjadi perhatian serius untuk wilayah tersebut. Dalam beberapa hari terakhir, Ekuador dan Peru telah memperketat persyaratan visa untuk Warga Negara Venezuela. Kekerasan dari warga lokal kini juga mendorong dan mengusir kembali ratusan migran Venezuela untuk kembali melintasi perbatasan dengan Brasil ke negara mereka pada 18 Agustus.

Maduro, terpilih kembali untuk masa jabatan kedua pada bulan Mei 2018 dalam pemungutan suara yang dikutuk dunia internasional. Namun, dia selalu mengatakan pemerintahannya adalah korban dari ‘perang ekonomi’ yang dipimpin oleh musuh politik dengan bantuan Washington, dan menuduh Amerika Serikat berusaha menggulingkannya.

Amerika Serikat sudah membantah tuduhan itu. Tapi, itu menggambarkan mantan sopir bus dan pemimpin partai itu sebagai diktator. Maduro dikenakan beberapa putaran sanksi keuangan terhadap pemerintahnya dan pejabat tinggi dalam lingkaran kekuasaannya, oleh Amerika Serikat. (Reuters/The Epoch Times/waa)

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular