Beijing berusaha untuk mendinginkan pasar properti realestat yang terlalu panas dengan kebijakan-kebijakan yang mendorong investor untuk menempatkan investasi mereka di pasar persewaan Tiongkok. Tetapi pergeseran kebijakan tersebut menyebabkan lonjakan tajam dalam harga sewa perumahan, yang menyebabkan banyak orang Tiongkok kelas menengah mengeluh tentang biaya hidup yang terus meningkat.

Di 11 kota besar Tiongkok, harga sewa rumah naik rata-rata lebih dari 20 persen di bulan Juli, dibandingkan bulan yang sama tahun lalu, menurut artikel 22 Agustus oleh surat kabar bisnis Tiongkok, 21st Century Business Herald, mengutip data dari situs web perumahan Tiongkok, CityHouse.cn.

Secara mengejutkan, peningkatan terbesar tidak terjadi di ibu kota Beijing; yang merupakan peringkat keenam di antara 11 kota, dengan peningkatan 21,9 persen. Chengdu, ibu kota Provinsi Sichuan Tiongkok barat daya, memiliki peningkatan tertinggi, lebih dari 31 persen; diikuti oleh 30,7 persen untuk Guangzhou, sebuah kota pelabuhan di Tiongkok selatan; dan 30,5 persen untuk Shenzhen, sebuah kota selatan yang berbatasan dengan Hong Kong.

Lonjakan harga sewa telah membuat kesulitan hidup bagi banyak pekerja berpenghasilan menengah dan rendah, menurut artikel online yang tersebar luas yang memicu banyak diskusi di dalam media sosial Tiongkok. Artikel ini membahas pengalaman Huang, contoh sempurna dari masalah ini.

Pemilik lahan yang disewa Huang meminta kenaikan sekitar 26 persen dalam sewa menjadi 24.000 yuan (sekitar $3.500) dari 19.000 yuan (sekitar $2.800), ketika sewanya berakhir. Dia kemudian pergi ke perusahaan persewaan untuk mencari tempat baru untuk menyewa. Ketika perusahaan tersebut menyodorkan pada pemilik lahan yang sama, pemilik lahan tersebut telah menaikkan harga lagi, menjadi 28.000 yuan ($4.100), atau meningkat sekitar 47 persen dari harga sewa awal.

Pada bulan Juli 2017, Komisi Pembangunan dan Reformasi Nasional Tiongkok (NDRC), bersama dengan delapan lembaga pemerintah lainnya, mengeluarkan pengumuman bersama untuk mendorong perusahaan persewaan perumahan yang dikelola negara dan swasta untuk mempercepat pembangunan mereka di kota-kota besar. Pengumuman tersebut juga mendorong perusahaan-perusahaan realestat Tiongkok untuk memperluas bisnis-bisnis mereka ke pasar persewaan.

Pada 31 Juli, Politburo Tiongkok, kelompok beranggotakan 25 anggota dari sebagian besar pejabat elit Partai Komunis Tiongkok, mengadakan pertemuan untuk membahas kebijakan-kebijakan ekonomi nasional. Salah satu arahan yang dikeluarkan pada akhir pertemuan tersebut adalah untuk mengatur lebih lanjut pasar realestat dan untuk mengekang kenaikan harga perumahan. Para ekonom telah lama memperkirakan bahwa gelembung perumahan akan meledak jika pasar terus-menerus memanas.

Baru-baru ini, pihak berwenang Tiongkok telah mengambil tindakan konkrit untuk mengendalikan harga perumahan. Para pejabat Tiongkok di lima kota: Haikou dan Sanya di Provinsi Hainan Tiongkok selatan; Yantai di Provinsi Shandong, Tiongkok timur; Yichang di Provinsi Hebei, Tiongkok utara; dan Yangzhou di Provinsi Jiangsu di Tiongkok pesisir, dipertanyakan oleh Kementerian Perumahan dan Pembangunan Pedesaan Perkotaan Tiongkok pada Agustus 17, menurut artikel 21 Agustus di portal berita Tiongkok yang dikelola Partai Komunis, China.cn.org.

Pihak berwenang pusat meminta agar para pejabat tersebut mengambil langkah-langkah untuk memerangi spekulasi perumahan.

Sejauh ini, harga masih naik di pasar realestat. Menurut data yang dirilis oleh Biro Statistik Nasional Tiongkok pada 15 Agustus, di 65 kota terlihat harga-harga untuk perumahan baru (dibandingkan dengan perumahan yang dijual sebelumnya) meningkat pada bulan Juli dibandingkan dengan bulan sebelumnya, dari total 70 ukuran menengah dan kota-kota besar. Hanya tiga kota: Shanghai; Nanjing, ibu kota Jiangsu; dan Quanzhou, sebuah kota di Provinsi Fujian Tiongkok selatan, mengalami penurunan.

Beberapa orang sekarang memilih untuk berinvestasi di pasar persewaan rumah sebagai gantinya, yang telah menyebabkan pertumbuhan dari dua tipe perusahaan persewaan perumahan yang berbeda.

Tipe pertama adalah perusahaan persewaan apartemen Tiongkok yang menerbitkan sekuritas yang didukung aset sewa (ABS). Ini mirip dengan Dana investasi lahan yasan (realestat) atau real estate investment trust (REIT) di Amerika Serikat. Namun, kurangnya peraturan undang-undang yang berlaku untuk REIT di Tiongkok telah menyebabkan banyak orang yang menyebut ABS sebagi “kuasi-REIT” dari Tiongkok [tidak benar-benar REIT].

REIT, serupa dalam konsep untuk reksa dana, memungkinkan para investor untuk membeli saham dari perusahaan yang memiliki portofolio properti, tanpa harus membeli atau membiayai properti tersebut. Sewa dan pendapatan yang dihasilkan dari properti-properti ini pada gilirannya dibayarkan kepada para investor perusahaan dalam bentuk dividen.

Beberapa perusahaan realestat Tiongkok telah memperluas bisnis mereka menjadi ABS. Sebagai contoh, pada bulan Mei, Bursa Efek Shanghai memberikan lampu hijau untuk Evergrande, pengembang real estat terbesar kedua di Tiongkok berdasarkan penjualan, untuk menerbitkan 10 miliar yuan (sekitar $1,5 miliar) ABS yang terkait dengan persewaan apartemen, menurut Mingtiandi, situs web berita real estate.

Tipe kedua adalah perusahaan manajemen persewaan tradisional. Perusahaan-perusahaan ini mengelola unit-unit perumahan secara massal dan menawarkan pada penyewa diskon persentase dalam persewaan, jika mereka bersedia menyewa untuk jangka waktu tertentu di muka, seperti satu atau dua tahun.

Di Beijing, persaingan antara perusahaan-perusahaan persewaan apartemen di Tiongkok telah berkembang pesat, dengan perusahaan-perusahaan mencoba mengalahkan satu sama lain untuk sumber perumahan.

Misalnya, Chen (nama samaran), mengatakan ia menawarkan unit hunian seluas 4.260 kaki persegi kepada perusahaan manajemen persewaan rumah setelah perusahaan tersebut mengalahkan pesaing, menurut artikel 18 Agustus oleh surat kabar Tiongkok Southern Weekly. Chen mengatakan perusahaan tersebut menawarkan untuk menyewakan tempatnya dengan harga 10.800 yuan (sekitar $1,586) per bulan, sekitar 3.300 yuan (sekitar $484) lebih tinggi dari harapannya. (ran)

Share

Video Popular