Erabaru.net. Segenap cinta kasih seorang ayah yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Selama berkabung atas kepergian ayah tercintanya, putrinya selalu memasak semangkuk sup ikan dan diletakkan di atas meja altar almarhum ayahnya, sebagai rasa hormatnya. Namun, sang ibu mengatakan yang sebenarnya, bahwa ayahnya selalu alergi terhadap makanan laut, tapi demi agar putrinya sering-sering makan sup ikan untuk menambah gizi, sang ayah pun berbohong bahwa dia suka sup ikan.

Rahasia yang disembunyikan selama lebih dari sepuluh tahun ini membuat putrinya seketika berlinang air mata merasa bersalah dan menyesal tidak mengetahui keadaan itu, dan dia sangat berharap bisa bertemu lagi dengan almarhum ayahnya.

Ilustrasi. (Internet)

Zhang Junkai, seorang pekerja rumah duka di Keelung, Taiwan, mengatakan di akun Facebook-nya, bahwa Pak Zhang yang telah meninggal tidak memiliki seorang pun anak laki-laki, tetapi dia memiliki 3 anak perempuan.

Saat upacara pemakuan peti mati tergolong istimewa, pasalnya yang menggigit paku itu adalah putri bungsu, anak-anaknya tidak membuat mendiang ayah mereka kecewa ………semua putrinya berhasil dalam hidupnya … dan masing-masing memiliki kehidupan yang baik …”

Zhang Junkai mengungkapkan dalam postingannya, bahwa semasa hidupnya pak Zhang selalu tak lupa berkeliling pasar hanya untuk membeli sup ikan saat menjemput putri bungsusnya pulang sekolah.

Dia ingin memenuhi nutrisi putrinya yang masih sekolah. namun, putrinya selalu menolak karena dia tidak suka sup ikan.

Pak Zhang pun mengatakan pada putrinya, “Kalau tidak kamu temani ayah makan, kamu tidak lapar, tapi ayah kan lapar.”

Putrinya pun melunak, begitulah sang ayah yang selama lebih dari 10 tahun selalu menyantap sup ikan, dan putrinya selalu berpikir bahwa ayahnya memang sangat suka dengan sup ikan.

Selama berkabung, dia yang tidak tahu kenyataan yang sebenarnya itu selalu memasak semangkuk sup ikan dan diletakkan di atas meja altar almarhum ayahnya. Dia berharap almarhum ayahnya dapat menikmati sup ikan panas di alam sana.

Namun, ibunya selalu secara diam-diam membawa pergi sup ikan dari meja altar itu setelah membakar kertas dupa dalam tungku. Tindakan ibunya itu jelas membuat putrinya bingung tidak tahu kenapa ibunya membawa pergi sup ikan tersebut dari meja altar.

Belakangan, sang ibu baru memberitahu putrinya tentang hal yang sebenarnya saat dia memasak sup ikan :

“Sebenarnya, ayahmu sama sekali tidak suka makan sup ikan, lagipula dia sama sekali tidak boleh makan sup ikan. Dia alergi terhadap makanan laut. Dia akan gatal-gatal dan tersiksa lebih dari setengah jam baru tidur sementara kamu sudah terlelap dalam mimpi,” kata sang ibu.

Sang ibu juga sering membujuknya, tetapi sang ayah tidak pernah mau mendengarkan sarannya, dia selalu beralasan : “Kalau saya tidak makan, dia juga tidak mau makan, dia dalam masa pertumbuhan pada usia ini, apalagi studinya juga cukup menguras pikirannya, jadi, harus dipenuhi dengan asupan nutrisi yang memadai, bukan ? Apalagi dalam waktu setengah jam itu saya juga bisa menemaninya kalau setiap hari saya makan sup ikan, kalau tidak menemaninya sekarang, bagaimana nanti kelak kalau dia sudah menikah, rasanya akan sulit lagi untuk menemaninya.”

Tanpa disadari, kata-kata ibunya seketika membuat sang putrinya meneteskan air mata. Lebih dari sepuluh tahun sudah, tidak pernah lagi ditemani ayahnya. Sekarang dia baru sadar, kalau mendiang ayahnya selalu menjaga rahasia ini, dan menyembunyikannya, hanya agar dia selalu ceria dan tumbuh sehat.

Itulah wujud cinta kasih seorang ayah yang tak pernah diungkapkannya….yang rela mengorbankan diri hanya untuk putri tercintanya.(jhn/yant)

Sumber: bastillepost.com

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds