Erabaru.net. Jika Anda memiliki seorang anak perempuan, apakah Anda setuju putri Anda tinggal bersama dengan calon suaminya sebelum ada ikatan nikah ? Hari ini, saya akan mengangkat sebuah kisah tentang dua sejoli yang tinggal bersama sebelum nikah.

Beberapa waktu lalu saat ulang tahun paman saya karena kebetulan berbarengan dengan hari libur, saya pun mengajak putra saya dalam perayaan ulang tahun itu.

Dalam jamuan itu total ada sekitar 40 orang yang hadir, yang terdiri dari anggota keluarga dan teman dekat, tua dan muda, laki dan perempuan. Pada hari itu, di samping hari ulang tahun paman, masih ada satu tokoh penting lainnya, yaitu, sepupu saya, Rangga, yang mengajak Devi, pacar barunya dalam jamuan itu.

Sebelumnya, baik ayah maupun ibu Rangga telah pernah bertemu Devi, pacar Rangga. Namun, ayah dan ibu Rangga kurang puas dengan sosok Devi, mereka kurang suka karena perawakan Devi terlalu pendek, selain itu, konon katanya keluarga Devi juga memiliki riwayat keluarga diabetes.

Awal mula mereka berpacaran, itu dikenalkan oleh teman sekampusnya. Awalnya, Rangga juga tidak begitu tertarik sama Devi, tapi entah bagaimana ceritanya keduanya yang baru dua bulan kenal itu tiba-tiba saja tinggal bersama.

Sekarang nasi sudah jadi bubur, ayah dan ibu Rangga juga tidak bisa berkata apa-apa, mereka terima saja. Meskipun mulut mengatakan demikian, namun, karena Rangga mencari calon yang mengecewakan mereka, tetap saja sedikit banyak ada yang mengganjal dalam hati mereka.

Menjelang jam 12 siang, hampir semua tamu sudah pada hadir, hanya Rangga dan pacarnya yang belum kelihatan batang hidungnya. Ibu Rangga tampak mulai kesal, lalu bermaksud menghidangkan makanan di atas meja, tapi saya berusaha membujuknya untuk menunggu sebentar mereka berdua, jangan sampai membuat pacarnya Rangga jadi canggung dan malu.

Tak lama kemudian, Rangga dan pacarnya akhirnya tiba, keduanya datang dengan tangan kosong, tidak membawa kado apa pun, ayah dan ibu Rangga tampak tidak senang, kemudian basa basi sebentar dengan Devi, lalu pergi dan sibuk menyapa tamu lain.

Kerabat dan teman-teman tampak kasak kusuk di belakang membicarakan tentang Devi. Calon menantu yang tidak tahu diri, sedikit pun tidak tahu tatakrama, sudah tahu ulang tahun calon ayah mertua, masa datang dengan tangan kosong ? bisik mereka.

Pada hari itu, orang-orang bersikap dingin pada Devi, bahkan kakak Rangga juga cuek tidak peduli pada calon adik iparnya, membuat suasana itu tampak kikuk. Namun, tak disangka, Devi juga tampaknya tidak peduli, dia makan sendiri dan pergi ke kamar Rangga setelah makan. Tak lama kemudian, keduanya mohon pamit dengan alasan besok harus kerja.

Sebelum menikah, umumnya para gadis remaja selalu dengan naifnya berpikir bahwa “Yang penting saya mencintainya” itu juga sudah cukup. Namun, setelah Anda menikah, hal-hal terkait rumah tangga pun mulai datang silih berganti, terutama kontradiksi antara menantu dan mertua, yang akan ikut serta dalam kehidupan sehari-hari.

Dan disaat inilah Anda akan tiba-tiba menyadari bahwa perkawinan itu bukanlah masalah dua orang, tetapi melibatkan dua keluarga besar. Dalam kehidupan sehari-hari, banyak perkawinan itu mati dari hal-hal selain hubungan suami-istri, misalnya, tidak harmonisnya hubungan dengan bapak-ibu mertua, atau ketidakharmonisan dengan ipar dan sebagainya..

Saat ini, banyak orangtua yang sekilas tampak sangat terbuka (pikiran), mereka sering berkata, “Terserah anakku mau cari pasangan seperti apa nantinya, yang penting dia suka, kita sebagai orangtua tidak perlu ikut campur.”

Orangtua yang berkata seperti ini, karena putranya belum menemukan calon yang benar-benar disukainya, kalau tidak, mustahil Anda tidak akan memasang muka masam, dan mencari gara-gara padanya, lagipula orangtua mana yang tidak ingin putranya mendapatkan istri yang baik!

Jika orangtua si pria tahu kalau gadis itu telah hidup bersama dengan putranya, atau jika gadis itu tidak tahu tatakrama, seperti pacar Rangga ini, maka mereka akan semakin meremehkan gadis itu.

Jika saya memiliki seorang anak perempuan, saya pasti akan mengajarkan dua hal ini kepadanya :

Pertama : Menghargai diri sendiri, tidak boleh gegabah tinggal/hidup bersama tanpa ikatan sah, terutama jika belum mendapatkan persetujuan dari orangtua si pria

Kesan pertama itu sangat penting, jika calon mertua belum pernah melihat Anda, tapi mendengar bahwa Anda tinggal bersama dengan putranya, maka mereka akan memandang rendah Anda, bahkan berpikir bahwa Anda tidak tahu malu.

Mungkin ini tidak adil bagimu, tetapi memang demikianlah konsep budaya masyarakat, terutama masyaraat timur. Meski pada akhirnya Anda akan bersama dengannya, namun, hal itu akan terus melekat dalam benak bapak-ibu mertuamu, dan akan selalu mencari masalah atau sengaja mempersulit dirimu yang jelas akan membuatmu tertekan.

Banyak orang yang bilang bahwa antara menantu dan mertua itu sulit untuk bisa berhubungan harmonis. Kesan pertama yang buruk akan mempengaruhi interaksi atau hubunganmu dengan mertua di kemudian hari.

Oleh karena itu, anak perempuan dihimbau jangan begitu mudahnya memutuskan untuk tinggal bersama pacar atau calon yang belum terikat secara sah, terutama jika belum mendapatkan persetujuan dari orangtua si pria. Hanya orang-orang yang menghargai diri mereka sendiri baru bisa mendapatkan kasih sayang dari orang lain.

Kedua: Berbudaya (mengacu pada pendidikan/tatakrama)

Tentu saja, penampilan fisik itu atas anugrah Tuhan melalui perantara orangtua kita..Dan kita tidak bisa mengubahnya, tetapi kita mutlak harus memiliki etika moral. Jika tidak, maka secantik apa pun Anda pasti akan membuat mertua cemberut, dan hal ini bukan saja akan berdampak pada anak Anda dikemudian hari, tetapi juga merasa bahwa Anda selaku ibunya tidak memiliki budaya pendidikan maupun etika, kalau tidak, mana mungkin punya anak yang tidak tahu tatakrama ?

Pernikahan merupakan peristiwa besar seumur hidup, dan bagi wanita, tidak boleh gegabah, sebagian wanita selalu menganggap nasib mereka jelek saat bersuamikan pria yang tidak berkualitas. Terkadang, kelemahan wanita juga merupakan salah satu faktor bersuamikan sesosok pria yang tidak berkualitas.

Jika ingin putri Anda menikah dengan sosok pria yang baik dan berkualitas di masa depan, mulai sekarang didiklah putri Anda. Asal tahu saja, pendidikan keluarga juga menentukan kebahagiaan hidup putri Anda kelak.(jhn/yant)

Sumber: twgreatdaily.com

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds