oleh Qin Yufei

Sebuah fenomena aneh muncul di hampir semua rumah sakit besar di Tiongkok : Para ibu hamil bergegas untuk melahirkan bayinya sebelum datangnya bulan September. Ini dengan maksud agar bayinya kelak dapat bersekolah setahun lebih cepat daripada anak-anak yang dilahirkan pada bulan September.

Dari sebuah video yang dirilis media Tiongkok menunjukkan betapa sibuknya petugas medis dalam membantu kelahiran di sebuah rumah sakit kota Wuhan.

Pada bulan Agustus, jumlah wanita mengandung yang akan melahirkan bayinya di semua rumah sakit besar di kota tersebut melonjak 30% lebih tinggi dari biasanya.

Seorang dokter bernama Song Xiaohui mengatakan kepada media daratan bahwa beberapa wanita hamil meminta bahwa jika mereka proses kelahiran alami tidak bisa berlangsung sebelum 1 September, mereka akan memilih cara operasi caesar pada 31 Agustus.

Para orangtua Tiongkok berharap putra putrinya dapat mulai bersekolah sedini mungkin.

Video ini memicu debat online tentang sikap para orangtua Tiongkok terhadap sistem pendidikan. Orang-orang khawatir bahwa sebelum anak-anak dilahirkan, tekanan sosial telah dibebankan kepada mereka.

Sikap orangtua Barat berbalikan dengan orangtua Tiongkok

Hal yang bertolak belakang dengan sikap orang tua Tiongkok adalah bagaimanapun, orang tua Barat khawatir bahwa anak-anak yang masih berusia terlalu dini untuk disekolahkan dapat mempengaruhi prestasi akademik.

BBC melaporkan bahwa hasil studi di Inggris menunjukkan bahwa anak-anak yang lahir di musim panas (yang termuda di dalam kelas) tidak menunjukkan hasil ujian/tes pelajaran sebaik anak-anak lainnya.

Karena itu, orang-orang mengimbau untuk memberikan nilai tambahan kepada anak-anak yang lahir di musim panas untuk mengganti/menutupi kekurangan alami yang mereka hadapi. Beberapa orangtua memulai kampanye untuk menunda sekolah anak-anak tersebut selama satu tahun.

Penjelasan yang paling umum untuk anak-anak yang lahir di musim panas dengan performa sekolah yang lebih buruk adalah bahwa mereka kurang berkembang secara fisik dan mental daripada anak-anak sekelas lainnya karena usianya lebih muda.

Seorang anak yang lahir pada akhir bulan Agustus hampir satu tahun lebih muda dari seorang anak yang lahir pada awal September.

Meskipun perbedaan usia, mereka harus menghadapi ujian yang sama. Efek kesenjangan usia ini pada prestasi akademik tersebut akan berlanjut hingga mereka berusia 16 tahun.

Hasil studi menunjukkan bahwa anak-anak yang lahir di musim panas lebih mungkin ditempatkan ke dalam kelompok anak-anak berkemampuan rendah.

BBC melaporkan bahwa memulai sekolah lebih awal tampaknya tidak berarti perkembangan anak akan lebih baik di masa depan.

Misalnya, Finlandia yang dianggap sebagai pemimpin pendidikan dunia. Pendidikan sekolah formal baru dimulai pada anak setelah mencapai usia tujuh tahun, tetapi kinerja murid Finlandia dengan cepat berhasil menyusul dan melampaui murid di negara-negara di mana anak-anak sudah mulai disekolahkan pada usia yang lebih muda.

Tren gila

Beberapa wargabet mengkritik keras wanita hamil yang memilih melahirkan bayi mereka lebih cepat agar dapat disekolahkan lebih cepat 1 tahun daripada bayi lainnya. Banyak warganet mengatakan bahwa ini adalah tren gila yang menunjukkan bahwa orangtua Tiongkok terlalu banyak memberi tekanan pada anak-anak mereka.

“Apakah para orang tua sekarang sudah tidak peduli lagi dengan kesehatan janin ? Bukankah bayi yang lahir cukup bulan akan lebih baik kesehatannya”.

“Gila ! Masyarakat sudah begitu tertarik pada kesuksesan yang asal cepat”, tulis seorang warganet lainnya.

“Seorang anak belum lahir saja oleh orang tuanya sudah ditempatkan di garis start” tulis warganet lain.

“Sistem pendidikan ini terlalu konyol. Wanita-wanita ini tersebut ikut konyol”

Sejumlah netizen berpendapat, mereka percaya bahwa yang salah adalah sistem pendidikan Tiongkok yang sangat kompetitif. Netizen lain menunjukkan bahwa sistem pendidikan tersebut sama halnya dengan ‘membantu pertumbuhan tanaman dengan mencabut tunasnya’ hasil yang dicapai justru sebaliknya.

“Kelahiran anak prematur dapat berdampak pada kecerdasannya”, seorang warganet menulis.

Warganet lainnya menyebutkan bahwa ia percaya bahwa tren aneh ini hanya terjadi di Republik Rakyat Tiongkok, karena sistem-sistem kami memang tidak berperikemanusiaan. (Sin/asr)

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular