Washington DC – Amerika Serikat menyatakan kerusuhan sipil Nikaragua merupakan ancaman terhadap keamanan kawasan Amerika Tengah dan sekitarnya, pada 5 September. AS mengatakan penindasan pemerintah terhadap demonstran berisiko menciptakan perpindahan luar biasa (eksodus) WN Nikaragua, yang mirip dengan situasi di Venezuela atau Suriah.

Lebih dari 300 orang tewas dan 2.000 orang terluka dalam penindasan oleh polisi dan kelompok bersenjata Nikaragua terhadap gerakan aksi protes. Gelombak aksi unjuk rasa dimulai pada bulan April 2018, menyusul rencana pemerintah sayap kiri Presiden Daniel Ortega untuk mengurangi tunjangan kesejahteraan. Namun, kebijakan itu sudah batal diterapkan.

Protes segera meningkat menjadi gerakan oposisi yang lebih luas terhadap Ortega, yang telah menjabat sejak 2007. Dia menyamakan dirinya dengan presiden pada masa 1980-an, ketika tokoh antagonis Perang Dingin Amerika Serikat memimpin semasa perang sipil Nikaragua.

Dalam pidato di hadapan Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa, Duta Besar AS, Nikki Haley mengatakan bahwa jika situasi di Nikaragua terus memburuk, itu bisa menyebabkan lonjakan migran yang melarikan diri ke negara-negara tetangga. Tentunya AS akan menderita karena turut diserbu imigran gelap.

“Ketika hak asasi manusia ditolak, (akan terjadi) kekerasan dan ketidakstabilan yang diikuti tumpahan (eksodus imigran di) perbatasan,” kata Nikki Haley.

Dia membandingkan Nikaragua dengan Venezuela, yang telah menghasilkan lebih dari 1,6 juta eksodus sejak 2015, merujuk data badan pengungsi PBB, UNHCR.

“Dengan berlalunya setiap hari, Nikaragua berjalan lebih jauh menuju arah yang sudah dapat diprediksi. Ini adalah jalan yang diambil oleh Suriah. Ini adalah jalan yang dilalui oleh Venezuela,” sambung Haley.

Pada pertemuan Dewan Keamanan PBB, pemerintah Nikaragua membantah pendapat Haley. Pada hari yang sama, Presiden Ortega mengingatkan para pendukungnya yang bersorak, bahwa Amerika Serikat memiliki sejarah ‘ekspansionis’ di negara Amerika Tengah.

“Apa yang kita katakan kepada Amerika Serikat? Jika mereka ingin membantu rakyat Nikaragua, jika mereka ingin berkontribusi untuk perdamaian, hal terbaik yang dapat mereka lakukan, dan seharusnya mereka lakukan, tidak mengganggu (campur tangan) di Nikaragua, dan menghormati Nikaragua,” kata Ortega di ibukota, Managua.

Pada pertemuan AS, perwakilan (konsulat) untuk negara tetangga Nikaragua, Costa Rica mengatakan bahwa negara itu telah mengalami ‘peningkatan signifikan’ dalam permintaan suaka dari Nikaragua sejak protes dimulai. Total ada 12.830 permohonan dalam delapan bulan pertama tahun ini.

Sementara itu, Menlu Nikaragua meminta agar Dewan Keamanan PBB tidak campur tangan. Menurutnya tidak ada ancaman signifikan dari krisis Nikaragua terhadap keamanan internasional. Sebab, jumlah pengungsi Nikaragua tidak sebesar Suriah yang mencapai 5,5 juta jiwa.

“Ada konsensus dalam hal ini (Dewan) bahwa Nikaragua tidak mewakili ancaman terhadap perdamaian dan keamanan internasional,” kata menteri luar negeri Nikaragua, Denis Moncada.

Dewan Keamanan PBB bertugas menjaga perdamaian dan keamanan internasional.

Perwakilan dari Rusia, Bolivia, dan Venezuela mendukung pemerintah Nikaragua. Mereka menyatakan bahwa situasi di negara itu tidak merusak stabilitas kawasan.

Moncada menyebut Nikaragua adalah contoh model penjaga keamanan di kawasan itu, khususnya dalam pertempuran melawan kejahatan terorganisasi. Dia mengatakan bahwa pencantuman krisis Nikaragua dalam agenda DK PBB adalah pelanggaran hukum internasional.

Pekan lalu, delegasi hak asasi manusia PBB merilis laporan yang mendokumentasikan pelanggaran hak asasi manusia dalam beberapa bulan terakhir. Pelangaran HAM termasuk penggunaan kekuatan yang tidak proporsional dan pembunuhan di luar hukum oleh polisi Nikaragua, penghilangan, penahanan sewenang-wenang dan termasuk penyiksaan dan kekerasan seksual.

Tidak lama setelah itu, pemerintah Nikaragua memerintahkan pengusiran delegasi HAM PBB. (Reuters/The Epoch Times/waa)

Video Pilihan :

Share

Video Popular