Erabaru.net. Untuk  mengatasi  defisit  neraca  perdagangan,  Pemerintah  melalui Kementerian Perdagangan memutuskan melakukan evaluasi terhadap kebijakan tata niaga.

Hal ini disampaikan Menteri Perdagangan  Enggartiasto Lukita  saat  menghadiri konferensi pers  bersama dengan  Menteri  Koordinator  Bidang  Perekonomian  Darmin  Nasiution,  Menteri  Keuangan  Sri Mulyani, dan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, pada Rabu (5/9/2018).

“Untuk  mengatasi  defisit  neraca  perdagangan  dan  mengendalikan  impor,  instrumen  yang  akan diatur adalah melalui tata niaganya,” ungkap Mendag dalam keterangan Kemendag.

Mendag menjelaskan, Kemendag akan mengatur beberapa komoditas impor wajib melalui Pusat Logistik  Berikat  (PLB).  Beberapa  produk  yang  diwajibkan  melalui  PLB  yaitu  besi  baja,  minuman beralkohol, ban, dan produk tertentu.

Selain  itu,  Kemendag  juga  akan  mengkaji  peraturan  beberapa  impor  barang  konsumsi  yang sebelumnya  bebas  tata  niaga  impornya  menjadi  diatur  ketentuannya  impornya. 

“Barang  impor tersebut   bukan   merupakan   bahan   baku   untuk   kebutuhan   industri   dalam   negeri.   Selain   itu Kemendag  akan  meningkatkan  pengawasan  terhadap  kualitas  dan  kesesuaian  standar  sanitasi dan phitosanitasi (SPS) terhadap barang impor,” ujarnya.

Langkah  lainnya,  Kemendag  akan  mendorong  optimalisasi  dan  akurasi  perolehan  devisa  hasil ekspor. Salah satunya dengan melakukan  evaluasi  terhadap Permendag Nomor 4 Tahun 2015  jo Nomor 67 Tahun 2015 tentang Ketentuan Penggunaan Letter Of Credit (L/C) untuk ekspor barang tertentu  yaitu  komoditas  sumber  daya  alam.  Hal  ini  dilakukan  untuk  penguatan  penerapan  dan pengawasan sanksi, monitoring implementasi L/C dan revisi pos tarif.

“Dengan  diwajibkannya  penggunaan  L/C,  diharapkan  hasil  ekspor  komoditas  sumber  daya  alam dapat kembali ke dalam negeri,” terang Mendag.

Mendag   menambahkan   bahwa   upaya   meningkatkan   ekspor   juga   telah   dilakukan   dengan meningkatkan  daya  saing  produk  ekspor  Indonesia  melalui  percepatan  kerja  sama  perdagangan dengan  beberapa  negara  mitra  seperti  dengan  Australia,  Pakistan  dan  beberapa  negara  di kawasan  Afrika  yaitu  Tunisia,  Maroko  dan  Mozambik. 

Indonesia  juga  telah  melakukan  negosiasi dengan Amerika Serikat (AS) agar ekspor produk baja dan aluminium mendapat pengecualian dari US global tariff.

“Permintaan  ini  telah  dikabulkan  USDOC  yang  membebaskan  161  produk  baja  Indonesia  dari kenaikan  tarif  di  AS.  Pemerintah  Indonesia  juga  telah  menegosiasikan  agar  Indonesia  tetap mendapatkan Generalized System of Preferences (GSP) atas country review oleh AS,” kata Mendag. (asr)

Share

Video Popular