Jin Yan

Di dalam agama Buddha terdapat kisah mengenai Buddha Sakyamuni dengan judul“mengalahkan iblis mencapai pencerahan di bawah pohon Bodhi”: 2.500 tahun silam, menjelang Sakyamuni mencapai tingkat Buddha di bawah pohon Bodhi.

Ketika itu, raja iblis Boxun yang khawatir Sang Pangeran Sakya apabila telah mencapai kesempurnaan, dan meraih posisi yang lebih tinggi dari dirinya. Langit dan bumi akan meninggalkannya dan mengikuti ajaran Sang Buddha.

Karena iri hati, si raja iblis lantas mengerahkan seluruh pasukan iblis untuk mengganggu Sakyamuni, akan tetapi Sakyamuni duduk diam, bergeming dan tetap tenang. Karena pasukan iblis tidak berhasil, raja iblis pun mengutus tiga iblis wanita yang paling cantik untuk menggoda sang pangeran.

Melihat godaan seksual para iblis wanita juga gagal, raja iblis semakin murka, ia turun tangan sendiri memimpin para iblis yang paling jahat dan menakutkan untuk mencelakakan pangeran. Tapi apa pun yang dilakukannya, tidak dapat menyentuh sang pangeran walau sehelai rambut pun.

Akhirnya raja iblis putus asa dan berkata, “Tunggu saja sampai ajaran Mu ini memasuki masa akhir Dharma (Red.: ada yang menafsirkannya di zaman ini). Di saat itu aku akan kembali dan mengutus anak cucu dan murid-muridku untuk menjadi biksu di kuil-kuil, memakai kasaya (jubah biksu), dan mengacaukan ajaran Mu, untuk mencapai tujuan yang tidak bisa ku capai dengan kekuatanku sekarang, kita lihat saja nanti”. Seketika itu Sakyamuni meneteskan air mata.

(Purshi/ Wikimedia Commons)

Di dalam kitab “Sutera Musnahnya Ajaran Buddha”, Buddha Sakyamuni juga telah meramalkan berbagai fenomena kekacauan yang akan terjadi ketika ajaran Buddha memasuki masa akhir Dharma:

“Setelah aku moksha, ketika ajaran Dharma ortodoks di masa mendatang akan musnah, di tengah dunia mahluk ternoda yang bahkan tidak mampu memegang teguh lima larangan dasar, maka ajaran iblis kian hari akan kian merajalela.”

“Orang yang menganut ajaran iblis akan masuk ke dalam aliran Buddha, dan dengan status sebagai pengikut ajaran Buddha mereka akan mengacaukan dan merusak ajaranBuddha ortodoks yang kuajarkan ini. Mereka memakai baju dunia fana, rakus maksiat yang ditutupi jubah biksu, minum alkohol, makan daging, membunuh dan melakukan hal-hal keserakahan. Mereka tidak memiliki hati belas kasih bahkan saling iri hati dan membenci.”

Maka marilah kita lihat di bawah pemerintahan Partai Komunis Tiongkok (PKT) yang atheis ini, berbagai kekacauan yang kita dengar yang begitu mengejutkan yang terjadi di kalangan agamawan di RRT, seberapa jauh berbeda dengan ramalan yang dikatakan Buddha Sakyamuni pada 2.500 tahun silam tersebut?

Inilah fakta-faktanya :

— Tanggal 1 Agustus 2018, sebuah “Laporan Pengaduan Setingkat TeksPendidikan” yang panjang mencapai 95 halaman beredar luas di internet, bahwa ketua Asosiasi Agama Buddha binaan PKT yang merangkap sebagai anggota Dewan Tetap Komisi Koordinasi Politik Nasional PKT yakni Shi Xuecheng telah diungkap melakukan pelecehan seksual terhadap murid wanitanya, kasus ini memicu kegemparan dan berbagai opini.

Walaupun laporan itu langsung disensor (oleh badan sensor negara), Shi Xuecheng sendiri malam itu juga menyangkal semua tuduhan tersebut. Namun berbagai media massa dari Barat seperti CNN, BBC, Reuters, dan Guardian Inggris telah menerbitkan berita terkaitnya.

CNN bahkan menghujat Shi sebagai “iblis yang mengenakan jubah biksu”. Di bawah tekanan opini baik dari dalam maupun luar negeri yang begitu massif, akhirnya tanggal 15 Agustus Shi Xuecheng menyatakan pengunduran diri dari jabatan ketua Asosiasi Agama Buddha PKT, berikut jabatan direktur dan direktur tetap, dan sejak saat itu Shi Xuecheng pun menjadi “biksu merah” yang menghiasi berita skandal di “Me Too (gerakan sosial yang mengungkap kasus pelecehan seksual terhadap kaum perempuan).”

Biarawan Kuil Shaolin pada upacara pengibaran bendera. (Screenshot via situs web Kuil Shaolin)

— Tanggal 8 Agustus 2018, di internet beredar informasi, kuil Yuantong di kota Kunming provinsi Yunnan baru-baru ini menyediakan layanan baru berupa “ritual mendoakan arwah dengan biaya ekstra”, dikatakan bisa tambah biaya 500 yuan bagi kerabat yang telah meninggal, layanan baru itu akan menjamin roh kerabat tersebut akan tereinkarnasi di Amerika, begitu berita tersebut beredar, sontak memicu kehebohan di kalangan warganet RRT.

— Tanggal 8 Agustus 2015, kepala biara Shaolin bernama Shi Yongxin yang merangkap sebagai wakil ketua Asosiasi Agama Buddha PKT sekaligus ketua Asosiasi Agama Buddha provinsi Henan, dilaporkan melakukan “sepuluh kejahatan” oleh muridnya sendiri.

Sebenarnya pada Oktober 2011 empat tahun sebelumnya, media massa dalam maupun luar negeri telah memberitakan “biksu politik” Shi Yongxin yang disebut sebagai CEO biara Shaolin ditangkap di lokasi pelacuran, juga mempunyai wanita simpanan yang berstatus mahasiswi Beijing University, memiliki tabungan bernilai besar dan vila di luar negeri, juga terlibat skandal dengan bintang film wanita dan banyak lagi yang membuat heboh seluruh negeri.

Analisa mengatakan, selama bertahun-tahun Shi Yongxin selalu lolos dari berbagai pengaduan atas dirinya, semua ini berkat dilindungi oleh Li Changchun (mantan politisi senior PKT) dan Jiang Zemin (mantan ketua PKT periode 1999-2002) di baliknya.

Dan ……………masih banyak lagi kasus-kasus seperti itu, disini tidak disebut satu per satu.

kuil shaolin berubah jalur
Biksu Tiongkok menghadiri upacara di Kuil Shaolin untuk merayakan Tahun Baru Imlek di Kabupaten Dengfeng, Provinsi Henan, Tiongkok, pada 28 Januari 2017. (STR / AFP / Getty Images)

Masyarakat yang masih memiliki sedikit hati nurani tak pelak bertanya, apakah ini yang disebut tempat ibadah, atau dunia bisnis, atau dunia mafia? Penuh dengan bau keserakahan dan keduniawian, masih adakah sedikit kesakralan di dalam agama Buddha (di RRT)?

Di dalam hati masyarakat masih tersisa seberapa sedikitkah keagungan dan kewibawaan agama Buddha? Yang disembahyangi di dalam kuil Buddha itu, apakah Sang Buddha yang suci, tentram dan bersinar terang, ataukah iblis berjubah kasaya yang mengejar keuntungan dan menipu? Ini bahkan telah melebihi kondisi kacau di masa akhir Dharma seperti yang diramalkan Buddha Sakyamuni 2500 tahun silam!

Ada yang mengomentari, tangan hitam yang ada di balik semua ini sesungguhnya adalah ulah PKT yang selalu mempropagandakan “agama dipentaskan, ekonomi dilantunkan”.

Setiap biksu atau biarawan di RRT yang mengepalai kuil atau vihara, adalah lulusan institut agama Buddha atau Tao yang dikendalikan oleh PKT, bahkan ada juga yang menyandang jabatan pemerintahan seperti setingkat biro, setingkat divisi, atau setingkat unit, mereka itu semua sebenarnya adalah pejabat PKT yang mengenakan jubah biksu.

Akibatnya adalah agama di RRT di-duniawi-kan, disekularisasi, organisasi agama di-institusikan, tempat ibadah di-komersial-kan, pemuka agama dipolitisasi atau dikaderisasi dan berbagai kekacauan lainnya.

Samahalnya dengan kehadiran Yesus telah memicu kemarahan agama Yahudi, dan munculnya Buddha Sakyamuni juga menyinggung ajaran Brahmana yang ada pada masa itu.  

Adanya oknum agama yang telah menjadi sesat itu, demi melindungi agama di masa akhir Dharma serta status dan pamor ajaran Buddha. Sehingga dirinya tidak menghiraukan telah dimanfaatkan oleh iblis sesat PKT, dan membantu partai sesat PKT untuk menindas kepercayaan ortodoks (ortodoks bermakna: berpegang teguh pada peraturan dan ajaran resmi dalam agama).

Begitu banyak fakta membuktikan, kelompok agama yang dikendalikan oleh PKT, tidak hanya telah berubah sesat menjadi alat bagi PKT untuk mencari uang sekaligus untuk merusak ajaran agama itu sendiri. Tapi juga telah menjadi kaki tangan bagi kubu Jiang Zemin untuk melakukan gerakan politiknya dalam menindas agama/kepercayaan ortodoks, membohongi dan menghancurkan kehidupan para umat. (SUD/WHS/asr)

Video Rekomendasi :

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds