Erabaru.net. Anak-anak jalanan yang mengemis di perempatan, di trotoar jalan mungkin tidak pernah merasakan kebahagiaan semasa kanak-kanak sepanjang hidup mereka. Mereka tidak pernah bisa bermain ceria bersama teman-teman sebaya, dan tidak akan bisa dengan leluasa menikmati es krim sambil menonton film kartun kesukaan mereka.

Mereka tidak bisa merasakan hangatnya kasih sayang orangtua, tidak bisa merasakan kebahagiaan masa kecil! Mereka hidup di dunia lain, hanya suasana sepi dan kepiluan serta kegelapan yang menemani mereka!!

Mereka setiap hari dipaksa mengemis di jalanan sambil menahan perut yang lapar. Demi meraup lebih banyak uang receh, demi manarik rasa iba para pedagang manusia itu sengaja menyayat tubuh mereka dengan pisau, kemudian menyayat lagi setelah bekas luka sayatan itu sembuh.

Tak cukup dengan sayatan pisau, mereka bahkan menggunakan air keras atau asam sulfat dan disiram ke tubuh anak-anak yang malang itu.

Gadis cilik yang disiram dengan cairan air keras oleh para kelompok perdagangan manusia itu meratap lirih sambil menahan perih di sekujur badannya : “Om, tolong jangan pakai asam sulfat, lebih baik disayat saja dengan pisau …”katanya lirih dengan bibir gemetar.

Menyedihkan, melihat nasib anak-anak yang malang ini, beberapa dari mereka ada yang diculik, sebagian dicampakkan oleh orangtua mereka yang tak bertanggung jawab.

Hidup mereka yang memang sudah sangat memprihatinkan, masih harus menerima siksaan dan dikendalikan oleh orang-orang terkutuk ini. Mereka sengaja mematahkan kaki atau membakar badan anak-anak yang masih polos itu, kemudian mengobati lagi dengan obat seadanya. Setelah itu, anak-anak ini mengawali hidup mereka yang panjang dan tanpa harapan.

Tanpa pendidikan, tidak ada masa kecil, tidak ada sanak saudara atau teman, mereka juga tidak mampu melawan, terpaksa mengemis di jalanan dengan cara apa pun, hanya agar bisa bertahan hidup dan tidak mendapatkan hukuman berupa pukulan dari para pedagang manusia yang tak bermoral itu …

Di kota-kota besar selalu dapat melihat bayangan anak-anak yang mengemis atau memperagakan atraksi mereka demi beberapa keping uang receh. Mereka ada yang sehat atau cacat secara fisik, mereka mengemis, mengiba minta sedekah, atau digunakan sebagai sarana untuk menarik simpati masyarakat, atau dipaksa untuk berpura-pura seperti orang-orang caca. Di antara mereka ada anak-anak yang baru berusia beberapa bulan, dan paling besar juga tak lebih dari sepuluh tahun usianya.

Pada usia sebelia itu, mereka yang seharusny mendapat kasih sayan orangtua itu mau tidak mau harus menanggung derita dan siksaan yang tidak sanggup dirasakan orang dewasa, hari demi hari, tahun demi tahun, mereka menjalani hidupnya seperti itu.

Beberapa waktu yang lalu, media setempat melaporkan, ditemukannya mayat seorang bocah di samping tempat pembuangan sampah di distrik Shenzhen, Tiongkok.

Bocah malang yang terbujur kaku itu berusia sekitar 3 tahun, tangannya sengaja dipatahkan dan buah zakarnya juga diambil, tewas tersiksa dalam penderitaan.

Bisa dibayangkan, bagaiman seorang bocah yang masih sehat dan aktif lebih dari sebulan yang lalu itu disiksa dengan kejam sampai cacat dan tewas?

Seorang sahabat dari teman saya, anaknya yang berusia 5 atau 6 tahun hilang. Setelah satu atau dua tahun, saat adik laki-lakinya (yaitu paman dari anak yang hilang) berada di Shanghai, seorang bocah yang mengemis tiba-tiba mencengkram pakaiannya, dari bibirnya seolah ingin berkata tapi tertahan, awalnya dia tidak tahu apa yang terjadi dengan si bocah, dan apa maksudnya. Setelah diamati dengan seksama, dia baru sadar bocah pengemis itu adalah keponakannya, namun, lidah anak itu telah dipotong …

Di jalan raya, saat hujan deras. Tampak seorang bocah dengan badan dan bibir gemetar karena dingin sedang mengemis dengan mangkuk kecilnya. Seseorang kemudian memberinya uang, dan karena tak tega, dia memberi lagi beberapa keping uang untuknya.

Siapa pun, selama masih punya hati dan perasaan pasti tak akan tega melihat bocah yang menggigil kedinginaan itu, tetapi meski memberinya lebih banyak uang, orang-orang dewasa di belakangnya tidak akan membiarkannya berteduh dari hujan. Saat hujan adalah cuaca yang baik bagi mereka untuk meraup uang recehan.

Mungkin itu tidak terjadi di sini, tapi saya pikir selalu ada pemandangan seperti itu di belahan dunia sana.

Semoga anak-anak yang diculik itu bisa pulang dan memanggil “Ibu” pada ibunda mereka !

Dan mungkin nasib anak-anak seperti itu akan berkurang seandainya bisa meringkus para pedagang manusia yang menjadikan anak-anak polos itu sebagai sarana mencari uang dan menyiksa mereka sampai tewas!(jhn/yant)

Sumber: goez1.com

Apakah Anda menyukai artikel ini? Jangan lupa untuk membagikannya pada teman Anda! Terimakasih.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds