London – Sekelompok anggota parlemen dari internal partai pemerintahan Perdana Menteri Inggris, Theresa May bertemu untuk membahas bagaimana dan kapan mereka akan melengserkan koleganya sendiri. Seperti dikutip dari BBC pada 12 September 2018, ada sekitar 50 politisi yang menentang usul kesepakatan pasca-Brexit dengan Uni Eropa.

Para anggota parlemen itu adalah bagian dari Kelompok Penelitian Eropa (ERG), sebuah kelompok anti-UE dalam partai Konservatif yang mengusung May sebagai Perdana Menteri. Mereka menggelar pertemuan pada 11 September malam waktu London. Mereka juga secara terbuka mendiskusikan masa depan May sebagai pemimpin Inggris, BBC mengutip sumber yang tidak disebutkan namanya.

“Sejumlah orang di pertemuan itu mengatakan bahwa mereka sudah menyerahkan surat-surat mosi tidak percaya pada May,” kata sumber itu kepada BBC.

Di bawah aturan Konservatif, pemilihan ulang kepemimpinan dapat lakukan jika 15 persen anggota parlemen Konservatif menyampaikan mosi tidak percaya. Jumlah yang saat ini sudah mencukupi syarat minimal, yaitu 48 dari 315 anggota parlemen.

ERG telah mengutuk rencana May bagi Inggris untuk tetap dalam zona perdagangan bebas bagi arus barang dengan Uni Eropa, setelah meninggalkan blok itu pada Maret tahun depan. Akan tetapi, mereka harus menghadapi kritik balik, karena gagal memberikan alternatif jalan lebih baik yang rinci.

Jacob Rees-Mogg, pemimpin ERG, mengatakan pada 11 September 2018 bahwa kelompoknya akan mengungkap proposal pada 12 September waktu setempat. Mereka akan menyampaikan saran alternatif, bagaimana agar Inggris dapat meninggalkan Uni Eropa tanpa membangun perbatasan yang keras antara Irlandia Utara (Inggris Raya) dan Irlandia (negara merdeka), salah satu poin utama dalam mengamankan kesepakatan Brexit.

BBC mengatakan mereka pada pertemuan 11 September yang tidak memasukkan semua tokoh senior ERG, dalam mendiskusikan skenario yang mungkin tergantung pada apakah May dapat mengamankan kesepakatan dengan Uni Eropa berdasarkan usulannya.

Komentar di pertemuan itu dikatakan sangat kritis pada PM May, tetapi laporan BBC mengatakan ERG tidak mungkin memaksakan pemilihan kepemimpinan kecuali mereka yakin mereka memiliki kandidat yang bisa menang menghadapi May.

Keretakan di partai May semakin membesar pekan ini, dengan mantan Menteri Luar Negerinya, Boris Johnson, yang mundur dari kabinet karena proposal Chequers. Dia menulis di kolom surat kabar, dengan mengatakan bahwa rencana May adalah ‘rompi bunuh diri’ bagi konstitusi Inggris.

Kelompok ‘The eurosceptics’ mengeluh bahwa menerima perdagangan bebas pada arus barang dengan Uni Eropa akan berarti Inggris harus mengikuti dan menerapkan peraturan Uni Eropa bahkan setelah meninggalkan blok itu.

Juru bicara May mengatakan apa yang disebut sebagai ‘proposal Checkers’ adalah satu-satunya rencana yang serius, kredibel, dan dapat dinegosiasikan. Namun, surat kabar ‘the Sun’ melaporkan pada 12 September bahwa kantor May sedang menyusun rencana rahasia untuk membuang dan menggantikan ‘cetak biru Checkers’ jika para pemimpin Uni Eropa menolaknya pada pertemuan puncak pekan depan. (Reuters/The Epoch Times/waa)

Video Pilihan :

Simak juga, Pengakuan Dokter yang Dipaksa Panen Organ Hidup :

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds