Brussels – Anggota parlemen Uni Eropa memberikan suara signifikan untuk mendukung undang-undang hak cipta di benua itu. Inisiatif untuk melahirkan UU kontoversial tersebut muncul setelah terjadinya perselisihan berskala besar antara perusahaan raksasa teknologi informasi melawan para penerbit dan seniman.

Anggota Parlemen Uni Eropa mendukung serangkaian proposal yang dipertentangkan dengan sengit, yang telah dirancang untuk membantu perjuangan industri kreatif bertahan hidup di era internet, dengan selisih yang signifikan. Perolehan suara untuk mendukung UU itu adalah 438, sementara 226 anggota parlemen menolak pengesahan RUU tersebut. Sehingga dalam pemungutan suara pada 12 September 2018 waktu setempat, Mereka menyetujui UU Hak Cipta yang baru

Kemenangan RUU ini menjadi pukulan telah terhadap para raksasa website, termasuk Google dan Facebook. Mereka sebelumnya sangat menentang kelahiran RUU ini.

Undang-undang baru itu mengandung dua langkah kontroversial. Langkah yang diharapkan oleh para regulator akan dapat membantu para pembuat konten, seperti jurnalis dan musisi. Para seniman itu diharapkan dapat mengklaim kembali atau mendapatkan pemasukan lebih besar dari pendapatan raksasa situs web, dengan menggunakan konten mereka.

Logo Google di dalam gedung kantor mereka di Zurich pada 5 September 2018. (Arnd Wiegmann/Reuters/The Epoch Times)

Namun, perwakilan untuk perusahaan teknologi besar memperdebatkan kata-kata dalam peraturan saat ini yang bias dan berpotensi melanggar kebebasan berbicara di internet. Bahkan berpotensi menjadi pelarangan terhadap meme.

Tokoh internet, termasuk pelopor website, Sir Tim Berners-Lee dan pendiri Wikipedia, Jimmy Wales mengeluh bahwa, jika diterapkan, langkah-langkah tersebut akan secara signifikan membatasi kreativitas online.

Namun, sebagian besar seniman, termasuk mantan personel Beatle, Sir Paul McCartney dan DJ Prancis David Guetta, mendukung upaya Eropa untuk semakin mengatur ruang online.

Kontroversi terutama berpusat di sekitar Pasal 13 dari peraturan, yang akan memaksa situs web mengambil “langkah-langkah yang tepat” untuk mencegah konten buatan pengguna yang melanggar hak cipta. Argumen juga terfokus pada Pasal 11, yang memberikan hak kepada ‘saluran berita’ untuk mengklaim hak cipta atas pembagian konten mereka secara online. Pasal ini juga bertujuan menargetkan situs-situs seperti Google News dan Facebook.

Hasil pemungutan suara langsung disambut meriah oleh kelompok perusahaan media dan berita, News Media Europe. Mereka mengatakan langkah-langkah itu akan membantu mengamankan masa depan yang lebih berkelanjutan untuk industri media dan berita di Eropa pada sektor digital.

“Kami membutuhkan hak penerbit untuk melindungi ratusan ribu pekerjaan di sektor media berita Eropa dan, khususnya, untuk melindungi masa depan jurnalisme profesional dan perannya dalam memfasilitasi debat demokratis,” ujar Direktur Eksekutif News Media Europe, Wout van Wijk.

Sementara itu, EDiMA, asosiasi perdagangan yang mewakili platform online, mengutuk pemungutan suara dan bersumpah untuk terus melobi masing-masing pemerintah Eropa untuk menentang proposal tersebut.

“Hari ini, anggota parlemen telah memutuskan untuk mendukung penyaringan internet untuk kepentingan bisnis besar di industri musik dan penerbitan, meskipun ada protes publik yang besar. Kami berharap bahwa pemerintah Uni Eropa akan mendengar kekhawatiran warga negara mereka di tahap negosiasi selanjutnya.”

Pemungutan suara ini akhirnya menjadi akhir dari perselisihan yang membagi anggota parlemen menjadi dua blok. Bahkan, tidak hanya anggota antar bangsa, tetapi juga di dalam internal partai masing-masing.

Anggota Parlemen Uni Eropa, Sajjad Karim, yang juga juru bicara urusan hukum untuk Konservatif Inggris di Parlemen Uni Eropa, mengatakan bahwa itu menunjukkan bahwa, “Undang-undang hak cipta akhirnya mengejar ketinggalan dari era digital.”

Namun Daniel Dalton, seorang anggota parlemen dari partai yang sama, kecewa dengan hasil voting ini.

“Ini tidak baik untuk masa depan teknologi di Eropa. Saya tidak percaya itu akan membantu pembuat konten, tetapi itu akan memperkenalkan penyaringan. Lebih banyak konten legal akan dihapus,” katanya.

Setelah disahkan oleh Parlemen, undang-undang itu kini akan dipertimbangkan dalam pembicaraan teknis dengan dua lembaga Uni Eropa lainnya. Parlemen akan membahasnya dengan Komisi Uni Eropa sebagai badan eksekutif UE dan Counsil yang mewakili pemerintah nasional negara-negara anggota Uni Eropa.

Para pejabat mengatakan hasil diskusi, yang dikenal sebagai trilog masih bisa diubah. Hasil finalnya diharapkan akan diumumkan pada akhir tahun ini. (NICK GUTTERIDGE/The Epoch Times/waa)

Video Pilihan :

Simak juga, Pengakuan Dokter yang Dipaksa Panen Organ Hidup :

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds