Epochtimes.com

Sejak dataran Tiongkok dikuasai oleh Partai Komunis Tiongkok (PKT) berbuat semena-mena di segala aspek, hal aneh pun bermunculan. Salah satunya adalah setelah berkuasa puluhan tahun, PKT telah membina semacam mahluk aneh, yakni “bhikhu PKT”.

Bhikhu pada dasarnya adalah orang yang meninggalkan keduniawian dan berkultivasi Buddha. Pada zaman Tiongkok kuno, begitu seseorang meninggalkan keduniawian, berarti sudah keluar dari lingkungan sekuler, dan masuk ke dalam biara membersihkan diri, hati dan pikiran dan segala bentuk nafsu keinginan, hidup sederhana, dan berkultivasi Buddha sepenuh hati, belajar kitab suci dan ajaran Buddha.

Para Bhikku ini juga berusaha keras menghilangkan segala wujud keterikatan hati, untuk mencapai kesempurnaan. Di dalam sejarah peradaban Tiongkok selama 5.000 tahun, telah muncul tidak sedikit bhikhu tingkat tinggi, yang dihormati masyarakat.

Namun di bawah pemerintahan PKT yang atheis, dunia kultivasi pun mengalami bencana. Menurut PKT, tidak pernah ada Penyelamat Dunia, juga tidak ada Dewa atau Tuhan atau Raja. Mereka tidak percaya Buddha atau Tuhan, juga tidak mengizinkan rakyatnya percaya pada Buddha atau berkultivasi Buddha, PKT menghancurkan vihara, menghancurkan patung Buddha, memaksa para bhikhu dan bhikhuni kembali ke keduniawian.

Ketika Bhikhu Xu Yun yang telah berusia ratusan tahun tampil untuk mempertahankan sila ajaran Buddha dan jubah biarawan, ia justru disiksa dan dianiaya oleh PKT.

Namun kemudian PKT melihat di dalam agama ini terdapat begitu banyak pengikutnya, apalagi jika PKT bisa mengenakan jubah agama, maka akan terlihat tidak begitu beringas lagi. Hal ini akan bermanfaat bagi PKT dalam melakukan front persatuan dan menipu rakyat, akhirnya PKT pun membentuk agama model PKT, dan menciptakan semacam mahluk aneh yakni “bhikhu PKT”.

Para oknum ini juga mengenakan jubah biarawan, mencukur gundul kepalanya, mulutnya komat-kamit melafalkan “Amithaba Buddha”, juga berdiam di dalam vihara. Namun, dibandingkan dengan para bhikhu di zaman Tiongkok kuno, mereka sangat berbeda.

Salah satu keunikan “bhikhu PKT” adalah memiliki banyak jabatan. Seorang biarawan seharusnya tak mengejar nama dan kepentingan manusia biasa.

Namun bhikhu PKT ini sangatlah berbeda. Seperti bhikhu Shi Xuecheng yang baru-baru ini terlibat skandal, jabatannya antara lain adalah wakil ketua Komisi Kebangsaan dan Agama pada Kongres Nasional Koordinasi Politik, juga menjabat sebagai ketua Asosiasi Agama Buddha RRT, ketua kehormatan Asosiasi Agama Buddha Propinsi Shanxi, ketua Asosiasi Agama Buddha Vihara Famen Shanxi, kepala biara di Vihara Famen Fufeng propinsi Shanxi, ketua Asosiasi Agama Buddha Propinsi Fujian, kepala biara Vihara Longquan Beijing. Seorang yang berkultivasi menjabat begitu banyak posisi, begitu terikat akan nama, kepentingan, dan uang, bagaimana bisa berkultivasi menghilangkan keterikatan duniawi?

Ciri khas lain dari “bhikhu PKT” adalah, nafsu seksualnya tidak hanya belum dihilangkan, bahkan lebih hebat daripada manusia biasa. Memiliki wanita simpanan, anak di luar nikah, melakukan pelecehan seksual, saat hari terang menjadi bhikhu bhikhuni, tapi pada malam hari menjadi keluarga, banyak yang seperti itu.

Ilustrasi (aboluowang.com)

PKT sangat memperhatikan Shi Xuecheng yang bergelimang jabatan itu, Shi Yongxin juga merupakan contoh yang sangat tipikal, Shi Xuecheng melakukan pelecehan seksual terhadap banyak murid wanitanya, Shi Yongxin memiliki putri di luar nikah.

Biarawan tidak menyimpan uang dan harta benda, namun bagi para “bhikhu PKT” ini, semakin banyak uang semakin baik.

Saat diwawancara oleh Kantor Berita Xinhua tahun 2016 silam, Shi Xuecheng mengakui tempat suci agama Buddha telah dikontrak, listing di bursa saham, dijadikan tempat wisata, mengumpulkan uang mengatas-namakan Buddha dan berbagai fenomena kacau lainnya.

Ironisnya adalah, sekarang Shi Xuecheng juga dilaporkan terlibat korupsi senilai lebih dari RMB 20 juta. Shi Yongxin tidak hanya memiliki mobil mewah Mercedes-Benz, juga dilengkapi supir yang siap melayaninya.

“Bhikhu PKT” juga memiliki beking yang sangat kuat, dilindungi oleh pejabat tinggi. Jika ada yang melaporkan mereka, kebanyakan masalah besar akan menjadi kecil, masalah kecil akan menjadi hilang. Seperti kasus Shi Yongxin yang pernah dilaporkan korupsi dan berhubungan intim, kasusnya diputihkan oleh tim penyelidik. Jadi mereka semakin merajalela, terus berbuat mesum dan melakukan korupsi.

Selain rakus harta dan mengumbar nafsu, “bhikhu PKT” juga memiliki satu keunikan yang tidak pernah ada dalam sejarah, yakni naik ke atas panggung dan memuja partai komunis.

Selain keluar masuk vihara, menerima amal bakti dari para umatnya, ‘menyampaikan ajaran, membacakan kitab suci, melakukan Kai Guang’, juga secara rutin memuja PKT. Setiap ada acara seperti Kongres Nasional ke-19, mereka akan mengenakan jubah biarawannya naik ke atas panggung dan menyanyikan pujian bagi PKT, memuja “partai yang agung”, seolah-olah Buddha harus melindungi partai politik yang atheis itu.

Mahluk aneh seperti “bhikhu PKT” ini tersebar di seluruh vihara yang ada di Tiongkok, para ‘bhikhu’ atheis yang berkedok berkultivasi Buddha itu bahkan membuat alergi media massa Barat, dan menyebut mereka “iblis yang mengenakan jubah biarawan”.

Sifat asli mereka adalah merupakan iblis yang merusak agama di masa akhir Dharma, juga menjadi perwakilan PKT yang dimanfaatkan untuk membohongi rakyat Tiongkok. Dosa kejahatan yang mereka lakukan begitu besar, yang menantikan mereka adalah siksaan neraka tiada akhir. (SUD/WHS/asr)

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds