Ketika direktur National Institutes of Health (NIH) mengirimkan surat ke lembaga penelitian di seluruh negeri, memperingatkan adanya kemungkinan pengaruh asing dalam melemahkan penelitian dan kekayaan intelektual AS, dia tidak mengidentifikasi musuh tertentu.

Surat yang dikirim pada 20 Agustus oleh Dr. Francis Collins tersebut hanya mencatat bahwa “beberapa entitas asing telah memasang program-program sistematis untuk mempengaruhi para peneliti NIH dan peer reviewer [rekan spesialis penelitian yang menilai kesesuaiannya untuk publikasi atau pengembangan lebih lanjut],” seperti melalui mendapatkan kekayaan intelektual (IP) dan informasi rahasia dalam permohonan beasiswa, atau melalui menawarkan dukungan finansial kepada para peneliti.

Bagaimanapun seorang akademisi Tiongkok mungkin secara tidak sengaja telah mengarahkan perhatiannya ke Tiongkok ketika dia tersinggung dengan surat Collins dan telah menerbitkan sebuah tanggapan terbuka, dalam bahasa Inggris dan Mandarin, bersikeras bahwa surat itu secara tidak adil menunjuk ke Tiongkok dan para peneliti Tiongkok.

Surat itu “secara jelas menargetkan para ilmuwan asal Tiongkok, menjadikan Tiongkok sebagai [sic] kambing hitam baru dari irasionalitas anti intelektual di AS,” tulis Rao Yi, seorang ahli neurobiologi di Universitas Peking di Beijing, dalam komentarnya yang dipublikasikan di Zhishifenzi.com, situs web yang berfokus pada ilmu pengetahuan yang dia buat.

Membicarakan tentang ilmu pengetahuan dan pencurian terkait teknologi IP tentu membawa ingatan ke Tiongkok, mengingat bahwa para anggota parlemen dan pejabat intelijen AS baru-baru ini menekankan kerasnya ancaman-ancaman dari negara tersebut dan kebutuhan untuk melawan spionase yang perlu dilakukan untuk melayani tujuan-tujuan ekonomi Beijing, termasuk di kalangan akademisi AS.

“Pemerintah dan Partai Komunis Tiongkok menggunakan cara-cara terbuka dan rahasia untuk menargetkan para elit politik dan ekonomi, media dan opini publik, masyarakat sipil dan akademisi, dan anggota-anggota dari perantuan Tiongkok,” menurut rancangan undang-undang yang diperkenalkan pada bulan Juni yang akan membutuhkan badan-badan intelijen AS untuk memberikan laporan rinci tentang operasi-operasi pengaruh Beijing di Amerika.

Dalam tanggapannya, Rao membuat argumen-argumen pembelaan tentang upaya-upaya penelitian Tiongkok.

“Tiongkok belum mencoba mempengaruhi para peneliti NIH atau peninjau sejawat (peer reviewer). ‘Program Seribu Talenta’ adalah merekrut lebih banyak ilmuwan, bukan untuk mempengaruhi negara lain,” tulisnya, menyebutkan program rekrutmen yang didanai Beijing yang ditujukan untuk memikat para ilmuwan Tiongkok dan para profesional teknologi yang bekerja di Barat untuk kembali ke Tiongkok dengan menyediakan mereka paket uang dan jaminan kerja.

Dalam sebuah laporan oleh BioCentury, situs berita bioteknologi, Collins menjelaskan bahwa suratnya tidak menargetkan Tiongkok.

“Saya telah berusaha dalam berbagai cara untuk mencoba menekankan bahwa ini sama sekali tidak dimaksudkan menjadi sebuah serangan terhadap individu-individu yang tidak terlahir di AS,” kata Collins kepada BioCentury. “Kita memiliki banyak hal untuk diperoleh dengan bekerja bersama lintas batas internasional; kita hanya harus memastikan semua orang bermain adil.”

Pada saat penulisan, Collins tidak menanggapi permintaan oleh The Epoch Times untuk komentar.

Pernyataan 23 Agustus yang dipublikasikan di situs web NIH juga mengakui kontribusi jujur ​​dari para peneliti AS dan asing.

“Posisi kepemimpinan [bidang biomedis AS] kita dimungkinkan karena mayoritas peneliti yang berpartisipasi dalam dana beasiswa NIH besar sekali, apakah yang kelahiran AS ataupun luar negeri adalah jujur, para kontributor yang bekerja keras untuk kemajuan pengetahuan yang bermanfaat bagi kita semua,” pernyataan tersebut terbaca.

Mengutip Collins, majalah Science melaporkan bahwa NIH sedang menyelidiki beberapa lembaga AS karena tidak memberitahukan hubungan-hubungan dengan luar negeri pada beberapa proyek.

Kasus-kasus Pengaruh Beijing

Bagaimanapun memang ada kasus warga negara Tiongkok yang melakukan spionase yang bermanfaat bagi Beijing, yang meningkatkan kekhawatiran nyata tentang potensi ancaman terhadap penelitian AS.

Contoh yang paling menonjol adalah Liu Ruopeng, yang datang ke Amerika Serikat untuk belajar demi mendapatkan gelar doktor di Duke University. Dia telah mencuri teknologi kunci dan data dari laboratorium “jubah tak terlihat” milik profesornya, lalu mendirikan perusahaan sendiri di Tiongkok menggunakan informasi tersebut. Entitas pemerintahan Tiongkok telah berinvestasi jutaan dolar di perusahaan awal miliknya.

Kasus lain melibatkan pencurian rahasia dagang dari perusahaan-perusahaan penting AS, seperti ilmuwan Tiongkok yang telah mencuri benih padi dari perusahaan Ventria Bioscience Inc. tempat dia bekerja, untuk dibawa ke lembaga budi daya tanaman Tiongkok. Dia telah dijatuhi hukuman penjara federal pada bulan April.

Selain itu, banyak peneliti Tiongkok dan beberapa non-Tiongkok yang bekerja di bidang-bidang yang ditargetkan Beijing untuk pengembangan agresif, seperti sektor-sektor teknologi tinggi yang digariskan dalam rencana industri “Made in China 2025”, telah disewa melalui Program Seribu Talenta untuk bekerja pada perusahaan-perusahaan pemerintah Tiongkok dan perusahaan swasta. Ini termasuk para ilmuwan di Perusahaan Nuklir Nasional Tiongkok yang dikelola negara; seorang insinyur energi surya yang telah mendirikan Fotolistrik Suzhou Juzhen; dan seorang eksekutif senior di salah satu produsen OLED terbesar di Tiongkok (sejenis teknologi layar tampilan), di antaranya.

Tanggapan Rao terhadap NIH adalah fokus dari beberapa laporan yang disampaikan pada media yang dikelola pemerintah Tiongkok, kemungkinan mengkonfirmasi bahwa Beijing memiliki andil dalam pernyataan-pernyataan-pernyataan terbuka tentang spionase Tiongkok.

Selain itu, rencana “Made in China 2025” termasuk “farmasi dan perangkat-perangkat medis canggih” di antara daftar 10 sektor pembangunan yang ditargetkan. Untuk memerangi pencurian IP seperti itu, Gedung Putih telah memperpendek masa berlaku beberapa visa yang dikeluarkan untuk warga negara Tiongkok yang belajar di bidang sains dan teknologi tertentu.

Dan baru-baru ini, para pejabat FBI membuat pertemuan kelompok lebih dari 100 pejabat akademis di Texas, termasuk dari Texas Medical Center, untuk menjelaskan bagaimana mencegah pencurian IP, menurut laporan 8 Agustus di Houston Chronicle. (ran)

Rekomendasi video:

 

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds