Oleh : Cao Kai (Chinese Academy of Science, Institute of Developmental Biology)

Tahun 1859, Charles Darwin mengemukakan teori evolusi, menurutnya mahluk hidup bukan ciptaan Tuhan, melainkan melalui proses evolusi yang sangat lama dari wujud yang sederhana sampai menjadi rumit. Sebenarnya, teori evolusi sampai saat ini hanyalah semacam hipotesa (praduga yang masih harus dibuktikan kebenarannya, Red.), waktu itu Darwin berharap akan menemukan bukti yang kuat di masa mendatang atas teori ini, namun hingga saat ini bukti yang tahan uji tersebut tidak pernah ditemukan, apalagi teori evolusi ini sangat berlainan dengan fakta, argumennya ambigu, kesimpulannya pun tidak bisa diulang.

Di abad ke-19, Ernst Häckel dari Jerman mengemukakan hukum Ontogeny recapitulates phylogeny, bahwa embriogenesis pada mahluk tingkatan yang lebih tinggi akan memperlihatkan kembali proses evolusi spesies tersebut.

Sebenarnya hukum rekapitulasi itu sendiri hanya hipotesa, tapi hipotesa ini telah menjadi bukti penting bagi teori evolusi: Jika evolusi itu eksis, maka “fenomena rekapitulasi” pada embriogenesis sepertinya merefleksikan proses evolusi; karena ada fenomena rekapitulasi, maka evolusi itu eksis.

Hal ini tidak hanya menggunakan argumentasi melingkar yang tidak berarti, dan telah menutupi satu hal yang paling krusial yakni: Siapa pun tidak mengerti apa hubungan antara “fenomena rekapitulasi” dengan evolusi,dan secara dipaksakan dikatakan ada hubungan sebab akibat.

Sebenarnya, hukum rekapitulasi adalah hipotesa yang dikemukakan pada masa ilmu biologi masih tidak begitu berkembang, seiring dengan munculnya ilmu genetika dan perkembangan biologi molekuler, terutama dalam penelitian mendalam terhadap gen, teori rekapitulasi pun kehilangan dasar teorinya.

Baca juga : Teori Evolusi, Sebuah Keyakinan Yang Keliru (1)

Bila gen sebelumnya telah bermutasi menjadi gen yang baru, mengapa masih memperlihatkan ciri khas sebelumnya? Terhadap hukum rekapitulasi sendiri pada dasarnya pakar paleontology Gould telah mengungkap kelemahan yang mematikan dari teori tersebut, dan ini telah menjadi konsensus.

Sekarang, banyak akademisi telah membuktikan bahwa hukum rekapitulasi adalah suatu kesalahan observasi. Pakar embriologi manusia asal Jerman Erich Blechschmidt dalam bukunya yang berjudul “The Beginnings of Human Life” dengan informasi yang terperinci membuktikan bahwa janin manusia sejak awal adalah berstruktur manusia, seperti pemahaman dulu bahwa di masa awal janin akan muncul “insang” yang menyerupai ikan. Tapi sebenarnya itu adalah keriput pada wajah janin, sepenuhnya adalah struktur wajah manusia, tapi dipaksakan disebut sebagai “insang”.

Saat janin berukuran sekitar 9 milimeter, bagian bawah tubuhnya muncul sesuatu menyerupai ekor, sebenarnya tidak ada ciri khas struktur ekor sedikit pun, itu adalah sebuah tabung syaraf yang kosong bagian tengahnya, pertumbuhannya sangat cepat, berkembang ke arah dimana hambatan paling kecil, sementara menonjol di bagian ujung, yang akan kembali normal/rata dengan segera. Dan memiliki fungsi penting, sama sekali bukan organ yang tersisa.

Terhadap penyakit abnormal yang langka: Anak yang berbulu dan tumbuh ekor, teori evolusi berpendapat bahw itu adalah ciri khas dari leluhur sebelumnya; jika disimpulkan seperti itu, lebih banyak lagi kasus abnormal anak yang tidak memiliki otak, maka apakah berarti leluhur anak tersebut tidak memiliki otak? Cacat bawaan sejak lahir, kelebihan jari tangan maupun kaki juga sering terjadi, apakah itu berarti anggota badan manusia adalah hasil evolusi berbagai jenis abnormal?

Berpikir di luar kerangka teori evolusi, akan didapati “fenomena kembali ke leluhur asal” hanyalah cacat atau abnormal saja, yang merupakan refleksi dari mutasi gen, sama sekali tidak masuk akal jika dikaitkan dengan leluhur manusia.

Dalam ilmu palentologi, hingga saat ini tidak ditemukan bukti konklusif — spesies transisi pada proses evolusi.

Jika teori evolusi itu eksis, pasti akan eksis pula spesies transisi antar spesies dalam proses evolusi tersebut, jika tidak maka evolusi itu adalah teori keliru.

Secara logika, fosil dari spesies transisi juga menjadi salah satu dari tiga bukti utama teori evolusi; padahal faktanya dalam hal ini tidak ada bukti yang konklusif yang bisa dipakai, Darwin dan kawan-kawan menduga akan menemukan bukti yang nyata pada abad ke-20, dengan kata lain di masa itu bukti hanya dibuat berdasarkan “dugaan” saja — lagi-lagi hal yang sangat tidak bertanggung jawab. Lalu bagaimana faktanya? Sampai saat ini, fosil yang ditemukan tak terhitung banyaknya, namun bukti yang dapat disimpulkan dan diidentifikasi sama sekali tidak ada.

Dalam masalah dari pithecanthropus / ape-man menjadi manusia, pernah mencari spesies transisi “manusia kera”, sejak awal telah masuk dalam daftar “sepuluh kasus tak terpecahkan” dalam ilmu pengetahuan. Berkali-kali nenek moyang manusia diumumkan, dengan cepat pula telah disangkal.

Seperti fosil transisi “manusia Jiabo” kera menjadi manusia yang ditemukan tahun 1892, adalah susunan dari sebuah tulang tengkorak kera dan sebatang tulang kaki manusia yang berjarak 40 kaki dari tengkorak tersebut, kalangan akademis telah menyangkal “manusia Jiabo?”, namun pihak pendidikan ilmiah masih saja mempropagandakannya.

Hingga tahun 1984 “manusia Jiabo?” baru tergantikan oleh penemuan fosil manusia kera “Lusy”. Tapi kemudian setelah diidentifikasi, Lucy juga disangkal oleh mayoritas kaum akademisi, ilmuwan telah memastikan Lucy adalah sejenis kera yang telah punah, dan tidak ada kaitannya dengan manusia.

Enam buah “fosil Archaeopteryx” berturut-turut ditemukan dan menggemparkan dunia, serta menjadi model spesies transisi antara unggas dan hewan melata. Kemudian terindentifikasi 5 di antaranya adalah buatan manusia, dan 1 fosil yang tersisa sang penemunya bersikukuh menolak untuk diidentifikasi.

“Penemu” yang pertama mengakui salah satu alasan rekayasa tersebut adalah karena terlalu percaya pada teori evolusi sehingga dibuatlah bukti yang kuat itu. Sementara di dalam buku pelajaran, bahasan mengenai Lucy dan Archaeopteryx tidak juga diralat, sehingga masyarakat luas pun tidak pernah mengetahui kebenarannya.

”Seandainya evolusi terjadi, fosil spesies transisi seharusnya akan mudah ditemukan, tapi mengapa tidak pernah ada? Semua orang pun mengutip penjelasan Darwin: Catatan fosil tidak lengkap.

Patut direnungkan: Terjadinya pembentukan fosil adalah umum dan acak, namun mengapa hanya fosil spesies transisi saja yang tidak ada? Penulis buku “Darwin on Trial” Phillip E. Johnson menyimpulkan sebagai berikut: “Yang diperlihatkan fosil pada kita adalah wujud organik spesies tertentu yang muncul begitu saja, tidak ada jejak evolusi bertahap apa pun… wujud yang organik ini begitu muncul, pada dasarnya tidak berubah lagi, walaupun setelah jutaan tahun berlalu, betapa pun iklim dan lingkungan berubah, tidak akan berubah. Jika teori Darwin memang terbukti, maka kondisi ini pun seharusnya akan memicu perubahan besar pada spesies.”

Berdasarkan fakta sejarah geologi, pakar Paleontologi Stephen Jay Gould dan Eldridge pernah mengemukakan hipotesa “keseimbangan yang terputus”, untuk menjelaskan kecilnya kemungkinan spesies transisi menjadi fosil.  Namun tidak mampu menjelaskan mengapa spesies transisi sama sekali tidak eksis, dan mekanisme evolusi dari hipotesa tersebut, pada kriteria genetika, adalah sama sekali tidak mungkin. (SUD/WHS/asr)

Bersambung

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds