Washington DC – Rusia, ketika masih bersatu bersama sejumlah negara Eropa Timur lainnya dalam wadah Uni Soviet pernah cukup mesra dengan Tiongkok. Masa itu, ketika Uni Soviet masih dikuasai sepenuhnya oleh kediktatoran partai komunis.

Setelah Uni Soviet runtuh, pengaruh komunis terus terkikis di Rusia. Mereka hanya menyisakan sosialisme yang kehilangan roh komunisnya.

Rusia kini berusaha kembali untuk membangun kejayaan militer layaknya era Soviet. Mereka menggelar latihan militer terbesar dalam sejarah, setelah berakhirnya era Soiet. Latihan itu sudah dimulai sejak Selasa (11/9/2018) lalu.

Dalam latihan perang besar-besaran ini, Rusia mengundang Tiongkok dan Mongolia. Mereka mengirim pasukan untuk berpartisipasi dalam latihan itu.

Hal ini tentu saja menghidupkan kembali sebuah wacana, apakah ada kemungkinan Rusia dan Tiongkok akan membentuk ‘Sekutu Militer’. Namun, Amerika Serikat dan para pengamat skeptis dengan kemungkinan tersebut. Sebab ada konflik historis antara kedua negara, termasuk diantaranya soal Mongolia.

Menteri Pertahanan AS James Mattis mengatakan bahwa Tiongkok dan Rusia tidak dapat bersatu karena mereka memiliki kepentingan jangka panjang yang berbeda.

“Kemungkinan itu kecil, suatu negara umumnya akan bertindak sesuai dengan kepentingannya sendiri. Saya tidak melihat kepentingan jangka panjang (yang sama antara) Rusia dan Tiongkok komunis, yang akan membuat mereka bersekutu.”

Sementara itu, ABC News mengutip analisa para ahli yang mengatakan bahwa mereka sangat tidak yakin Tiongkok komunis atau Rusia akan membentuk aliansi militer. Voice of America juga melaporkan bahwa banyak analis, termasuk ahli militer Rusia Aleksander Goltz mengatakan bahwa Tiongkok dan Rusia tidak mungkin membentuk aliansi militer yang formal.

Mereka pada umumnya mengatakan bahwa Tiongkok komunis bukan sekutu Rusia. Tiongkok tidak akan berperang untuk Rusia ketika Rusia berkonflik dengan negara-negara Barat atau dengan Amerika Serikat. Tidak hanya itu, militer Rusia selama ini menganggap Tiongkok komunis sebagai ancaman potensial.

Latihan militer Rusia yang diberi nama Vostok-18 sudah mulai diadakan pada wilayah Timur Jauh dekat Mongolia dan Tiongkok. Latihan militer Vostok itu sendiri pada awalnya rutin diadakan pada era Uni Soviet. Latihan itu digunakan untuk persiapan, jika harus berperang secara besar-besaran dengan Tiongkok.

Vostok-18 kali ini melibatkan 300.000 pasukan, dengan 36.000 buah tank, 80 buah kapal perang dan 1.000 pesawat tempur. Ini merupakan yang terbesar dalam sejarah latihan militer Rusia sejak tahun 1981. Tiongkok komunis juga mengirim 3.200 serdadu untuk berpartisipasi.

Pada saat yang sama, Presiden Xi Jinping hadir dalam Forum Ekonomi Timur yang diadakan di Vladivostok, Rusia. Vladivostok yang dulunya bernama Heixenwai, sebelumnya adalah wilayah milik Tiongkok yang diberikan kepada Rusia, pada tahun 1999. Jiang Zemin menyerahkan wilayah itu sebagai imbalan untuk menutupi skandal seksnya dengan wanita Rusia anggota KGB.

Setelah Vostok-18, Rusia dan Mongolia juga akan melakukan latihan militer gabungan. Latihan militer ini akan diadakan setelah kunjungan Xi Jinping ke Rusia berakhir pada akhir September.

Latihan militer Rusia-Mongolia merupakan yang terbesar sepanjang sejarah, dengan masing-masing negara melibatkan 1.000 lebih personil militer. Mongolia hanya memiliki sekitar 5.000 tentara, namun mengirim hingga 1.000 orang. Itu menunjukkan bahwa latihan militer tersebut dianggap sangat penting.

Rusia sejak beberapa tahun yang lalu mulai menawarkan hibah berbagai peralatan militer gratis kepada Mongolia. Pejabat bagian penjualan senjata Rusia baru-baru ini mengunjungi Mongolia dalam rangka persiapan memberikan sejumlah senjata gratis kepada Mongolia. Ada 12 pesawat tempur Su-27, rudal anti-pesawat S-300, tank Rusia T-90A, serta berbagai kendaraan tempur lapis baja, radar dan peralatan lainnya. Rusia juga berencana terus melatih personil militer Mongolia.

Voice of America melaporkan bahwa Rusia dan Mongolia mengklaim bahwa latihan militer kedua negara ini bertujuan untuk memerangi terorisme. Namun, sejumlah analis urusan militer mengatakan bahwa Mongolia adalah negara yang terjepit di antara Rusia dan Tiongkok. Jika mereka latihan militer dengan salah satu tetangganya, bukan tidak mungkin digelar dalam rangka mengantisipasi ancaman tetangga lainnya.

Sejumlah pengamat Rusia mengatakan bahwa hingga tahun 1950-an, para pemimpin Uni Soviet pernah berencana untuk menjadikan Mongolia bagian dari wilayah Uni Soviet, atau secara resmi menjadi negara bagian Uni Soviet. Sementara pengaruh Tiongkok di Mongolia hingga saat ini sangat besar.

Kedua negara tetangga nampaknya selalu berebut pengaruh di Mongolia. Rusia tidak mampu bersaing dengan Beijing dalam memberikan pengaruh melalui ekonomi kepada Mongolia. Sehingga kerja sama keamanan dan militer dijadikan sebagai satu-satunya cara bagi Rusia, untuk mempertahankan pengaruhnya di Mongolia. (Xu Jian/ET/Sinatra/waa)

Video Pilihan :

Simak juga, Pengakuan Dokter yang Dipaksa Panen Organ Hidup :

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds