Xia Lin

Trump pernah mengatakan, ia mempunyai seorang teman baik, saat ia menyatakan akan mencalonkan diri sebagai Presiden AS, temannya langsung memutuskan hubungan dengannya. Sedangkan hubungan Trump dengan media massa sayap kiri AS, juga seperti hubungan dengan temannya ini.

Selama bertahun-tahun, media massa sayap kiri memperlakukan Trump ibarat tamu agung, tidak pernah kurang melontarkan pujian padanya. Namun sejak Trump mengumumkan pencalonan dirinya dalam pilpres AS, media massa ini pun langsung berbalik menyerangnya, menudingnya sebagai badut, orang gila, lelucon, Hitler, seorang rasis, mendiskriminasi HAM dan lain sebagainya, serta menyerangnya habis-habisan saat pilpres.

Setelah Trump mengalahkan Hillary dan resmi menjabat, media massa sayap kiri ini semakin intens menyerang Trump, menciptakan berbagai berita rekayasa. Oleh Trump yang mahir memberi julukan kepada orang lain, mereka disebut sebagai “media massa hoax” dan juga “musuh bersama rakyat”, membuat kalangan media massa yang mengira dirinya pengemban “Political Correctness (benar secara politik)” ini kehilangan muka.

Kegagalan mendukung Hillary dan terungkapnya wajah asli mereka oleh Trump membuat dendam itu menumpuk, dan media massa sayap kiri itu pun semakin beringas menyerang Trump.

Walaupun cara-cara yang mereka lakukan semakin lama semakin licik, tapi juga terlihat semakin lama semakin bodoh.

Baru-baru ini surat resmi dari pejabat Gedung Putih yang namanya disamarkan dan publikasi buku baru Woodward (“Fear”) pada surat kabar “New York Times” malah membuat masyarakat merasa dibodohin.

Berawal dari waktu yang saling tumpang tindih. Tanggal 5 September, surat resmi pejabat Gedung Putih yang dirahasiakan identitasnya dipublikasikan surat kabar “New York Times”, di hari yang sama kelompok media sayap kiri secara besar-besaran mempublikasikan buku baru Bob Woodward berjudul “Fear: Trump in the White House”.

Perhatian seluruh AS kini beralih menjadi ramai-ramai ingin menangkap “hantu internal Gedung Putih” dan yang lebih parah lagi, dengan alasan keamanan negara Trump memerintahkan surat kabar “New York Times” menyerahkan ‘hantu internal’ ini. (fox news)

Mungkin media sayap kiri mengira, kedua publikasi tersebut akan mengungkap hal negatif tentang Trump, dipublikasikan di hari yang sama akan berdampak pukulan ganda terhadap Trump.

Sebenarnya, minus ketemu minus justru yang didapat adalah plus, terlalu banyak yang diungkap oleh media massa beraliran kiri, justru membuat orang tidak bisa mengingatnya, tidak jelas lagi, orang yang membenci Trump pun tidak bisa mendalami topik mana pun.

Jadi hanya sempat heboh sesaat, akhirnya sama seperti berita negatif untuk menyerang Trump sebelumnya, semuanya terbukti tidak berujung.

Yang kedua adalah surat anonim pejabat Gedung Putih (yang dirahasiakan namanya), tadinya berniat menjelekkan Trump, justru tanpa diduga media kelas kakap yang begitu serius ternyata memakai “nama alias” yang tidak jelas, membuat peristiwa ini terkesan seperti film kartun, dan perhatian seluruh AS beralih menjadi menangkap “hantu internal Gedung Putih”.

Yang lebih parah lagi, dengan alasan keamanan negara Trump memerintahkan surat kabar “New York Times” menyerahkan ‘hantu internal’ ini. Sepertinya tembakan surat kabar “New York Times” kali ini tidak hanya meleset, tapi juga berbalik menyerang dan menyusahkan diri sendiri!

Ketiga, reputasi Woodward terancam berantakan. Woodward saat masa mudanya pernah mengungkap kasus Watergate yang melibatkan Presiden Nixon dan memenangkan penghargaan Pulitzer, membuatnya ternama di kalangan media massa.

Kali ini ia di dalam buku barunya mengatakan, banyak menteri kabinet Trump beranggapan Trump tidak waras, tidak bisa dipercaya, tidak tahu apa-apa, sangat emosional dan berbahaya.

Sementara para menteri kabinet Trump menyangkal pernah mengatakan hal ini, dan terhadap buku Woodward mereka menilai, hanya sebuah novel.

Seorang reporter yang di masa mudanya berani mencari kebenaran namun di masa tuanya menjadikan novel sebagai kisah nyata, ini benar-benar adalah lelucon yang sangat konyol.

Ke empat, adalah tindakan CNN yang di luar dugaan. Di tengah permainan seluruh negeri menebak siapa hantu internal Gedung Putih, CNN melontarkan sebuah daftar nama 13 orang yang dicurigai, selain Pence dan Melania, Menhan James Mattis, Direktur Intelijen Nasional Daniel Coats, Kepala Staf Gedung Putih John Kelly, putri sulung Trump yakni Ivanka bersama suami, mendiang senator John McCain dan lain-lain ada dalam daftar tersebut.

Sejak zaman kuno hingga zaman kini, selain partai komunis yang getol memaksa rakyat bertarung di dalam keluarganya sendiri, tidak pernah ada kejadian istri dan anak menulis surat dengan nama samaran ke media massa untuk mencaci maki suami dan ayahnya sendiri.

Apalagi, Trump memperlakukan keluarganya dengan baik, keluarganya juga sangat mendukungnya terjun ke dunia politik, bagaimana mungkin hal seperti ini terjadi?

Sementara pejabat tinggi lain termasuk wakil presiden semua mempunyai pandangan yang serupa dengan presiden, sehingga bisa menjadi satu, bagaimana mungkin menjadi gerakan bawah tanah Gedung Putih? Begitu lemahnya pikiran CNN, siapa sebenarnya yang tidak berakal sehat?

Serangan media sayap kiri AS terhadap Trump kali ini, mengira bisa berhasil. Tapi justru membuat masyarakat menilai mereka bodoh, apalagi mantra penguatan “berita palsu” semakin membelenggu mereka.

Jika terus berulah seperti itu, mereka akan semakin dekat bernasib seperti koran-koran kecil yang dijual di pinggir jalan. (SUD/WHS/asr)

Share

Video Popular