Erabaru.net. Rencana gelontoran dana sebesar USD. 60 miliar oleh Tiongkok ke negara-negara Afrika ditanggapi serius para analis.

Para analis menilai tindakan Tiongkok itu sebagai menabur bibit kesengsaraan bagi rakyat Afrika. Pasalnya efek bantuan itu selain tidak mampu menumbuhkan ekonomi lokal, juga akan menghancurkan sumber daya alam lokal yang sama sekali tidak menguntungkan rakyat Afrika.

Untuk diketahui, rencana penggelontoran dana itu, tercetus dalam Forum Kerjasama Tiongkok dan Afrika yang digelar di Beijing pada 3 September 2018 yang lalu.

Banyak respon publik bermunculan, termasuk suara protes rakyat daratan Tiongkok yang tak kalah lantang.

Berikut ini 4 hal yang ditakutkan terjadi akibat penggelontoran dana itu.

1. Menjarah sumber daya alam Afrika

Dr. Tian Yuan, seorang komentator menilai salah satu niat Tiongkok menabur uang di Afrika adalah menguasai sumber daya alam lokal. Itu masuk akal, mengingat Afrika memiliki 40% dari total sumber daya alam dunia. Dari 50 jenis mineral paling penting di dunia, setidaknya 17 jenis telah terbukti berada di Afrika dan cadangannya menempati urutan pertama di dunia.

“Afrika Utara memiliki sumber daya minyak dan gas yang sangat kaya. Nigeria merupakan negara penghasil minyak besar. Angola memiliki sumber daya alam berupa minyak dan gas. Itu adalah sumber daya yang sangat didambakan oleh Komunis Tiongkok,” kata Tian Yuan.

Seiring perkembangan kendaraan listrik dan teknologi baterai lithium, kobalt telah menjadi unsur kimia langka yang menjadi rebutan dunia.

Kobalt adalah bahan baku yang diperlukan dalam pembuatan baterai jenis baru seperti baterai lithium yang banyak digunakan dalam kendaraan bertenaga listrik, elektronik konsumen 3C, dan peralatan presisi di dunia kedirgantaraan.

Hasil penelitian dari US Geological Survey, cadangan kobalt dunia yang ditemukan saat ini adalah sekitar 7,1 juta ton dan paling banyak berada di Republik Demokratik Kongo, Afrika yang akuntansi cadangannya sebesar 49,3% dari total cadangan kobalt global.

Data dari regulator pasar, Darton Commodities, 94% dari hasil kobalt Kongo diekspor ke Tiongkok untuk industri peleburan. Jika demikian, sudah pasti Afrika sangat penting peranannya bagi Tiongkok.

2. Rakyat tidak termasuk bagian yang menikmati Saling Menguntungkan

Tiongkok mempromosikan proyek Sabuk Ekonomi Jalur Sutra atau One Belt One Road (OBOR) untuk membantu negara-negara Afrika membangun infrastruktur yang diklaim saling menguntungkan.

Namun benarkah demikian?

Dunia internasional memandang lain. Proyek OBOR selain untuk menjarah sumber daya alam Afrika, itu tidak benar-benar membawa keuntungan bagi rakyat Afrika.

Media Jepang ‘Yomiuri Shimbun’ pada 9 September 2018 lalu, melaporkan bahwa program bantuan Komunis Tiongkok tidak akan mengubah kehidupan dan kemandirian ekonomi masyarakat setempat.

Artikel ‘Yomiuri Shimbun’ menyebutkan bahwa perusahaan Tiongkok yang beroperasi di Afrika sering membawa masuk tenaga kerja dari negara asal mereka. Tiongkok tidak menciptakan peluang kerja lokal karena mereka tidak mempekerjakan penduduk setempat. Itu berbeda dengan Jepang yang sangat mementingkan penyediaan teknologi berteknologi tinggi dan berusaha untuk membudidayakan bakat lokal.

Selain itu, menurut Dr. Tian Yuan di Afrika belum ada negara yang memiliki demokrasi yang bersih, termasuk Afrika Selatan. Pemerintahan demokrasinya sudah berada di ambang kehancuran. Kondisi seperti itu dimanfaatkan oleh Tiongkok.

“Pemerintah yang korup, politisi yang bercokol dalam kediktatoran inilah yang dijadikan target pembelian Tiongkok komunis. Dengan demikian Tiongkok dapat memperoleh sumber daya alam negara lain dengan membayar harga yang relatif rendah,” kata Dr. Tian Yuan.

3. Membebaskan utang demi menciptakan pemerintahan boneka

Inisiatif OBOR Tiongkok telah menimbulkan krisis bagi negara-negara Asia Selatan, seperti Sri Lanka. Ia terpaksa menyerahkan hak kelola pelabuhan Hambantota selama 99 tahun kepada pihak Tiongkok karena gagal dalam membayar utang. Pelabuhan laut tersebut kini dikuasai Tiongkok. Secara internasional ini disebut neokolonialisme.

Menurut Dr. Tian Yuan, negara seperti Sri Lanka dan Pakistan memiliki peringkat yang rendah dalam sistem keuangan internasional. Solvabilitas atau kemampuan untuk membayar kembali utang mereka dinilai cukup lemah, sehingga tidak ada lembaga yang akan bertindak sebagai kreditur untuk memberikan pinjaman.

Jika demikian, apa alasan Tiongkok komunis memberikan pinjaman kepada negara-negara Afrika ini yang bahkan memiliki solvabilitas lebih rendah daripada negara Asia Selatan itu ?

“Niat mereka sudah sangat jelas, yaitu menciptakan krisis utang buat negara-negara itu. Kemudian membiarkan pemerintahan bertangan besi negara itu menjadi pemerintahan boneka Tiongkok, atau memaksa pemerintahnya membayar utang melalui pertukaran dengan sumber daya alam yang mereka miliki,” kata Dr. Tian Yuan.

Bagi negara-negara Afrika, jika mereka menerima dana pinjaman dari Tiongkok, masa depan mereka akan menjadi cukup suram. Sri Lanka dan Pakistan contohnya.

4. Mengurangi kerugian ekonomi adalah harapan yang diberikan kepada orang-orang idiot

Pada 28 Agustus, Wei Jianguo, anggota think thank “Pusat Pertukaran Ekonomi Internasional Tiongkok” dan mantan wakil menteri Perdagangan mengatakan dalam sebuah seminar di Beijing bahwa ekspor barang tahunan Tiongkok ke Afrika akan mencapai USD. 500 miliar dalam lima tahun ke depan. Afrika akan menggantikan Amerika Serikat sebagai pasar terbesar untuk ekspor komoditas Tiongkok.

Qin Peng, seorang analis politik dan ekonomi yang tinggal di New York mengatakan bahwa volume perdagangan antara Tiongkok dengan Afrika masih terlalu kecil dibandingkan dengan antara Tiongkok dengan Amerika Serikat.

Volume perdagangan Tiongkok dengan Amerika Serikat telah melebihi USD. 600 miliar. Pada tahun 2017, ekspor komoditas Tiongkok ke AS telah mencapai lebih dari USD. 500 miliar dengan impor dari Amerika Serikat hanya USD 130,37 miliar.

Menurut statistik Bea Cukai Tiongkok bahwa, pada tahun 2017, surplus perdagangan Tiongkok – Afrika hanya sebesar USD. 169,75 miliar. Ekspor komoditas Tiongkok ke Afrika sekitar USD. 94,5 miliar dan impor dari Afrika sekitar USD. 75,25 miliar.

Qing Peng menilai, ekonomi Tiongkok tidak digantungkan pada perkembangan persahabatan dengan negara-negara Afrika. Ekonomi Tiongkok dapat berkembang karena terpengaruh oleh persahabatan dengan Amerika Serikat dan normalisasi hubungan diplomatik, terutama setelah Tiongkok bergabung dengan WTO.

Qing Peng mengatakan bahwa dalam konflik dagang Tiongkok dengan Amerika Serikat, perang tarif hanyalah yang terlihat di permukaan, tetapi memperkuat kemampuan perusahaan lokal Amerika Serikat dan membuat negara kuat adalah tujuan dasar dari pemerintahan Trump.

Sedangkan Komunis Tiongkok berharap melalui penggelontaran bantuan kepada negara-negara Afrika untuk memecahkan masalah perang tarif dengan Amerika Serikat sama saja dengan ungkapan pepatah kuno Tiongkok yang menyindir seseorang berusaha memanjat pohon dengan harapan untuk mendapatkan ikan.

“Apa yang dilakukan komunis Tiongkok justru sebaliknya, Konfrontasi tarif dengan Amerika Serikat telah meningkatkan arus hengkangnya modal besar dari perusahaan asing. Hal itu bukannya diatasi dengan memberikan pemotongan pajak, malahan pendapatan fiskal tahun ini dibesarkan,” kata Qing Peng.

Qin Peng percaya bahwa Tiongkok mencoba memperkuat hubungan dengan negara-negara Afrika bertujuan untuk menguasai sumber daya alam mereka, demi mengurangi dampak ekonomi yang diakibatkan oleh konflik dagang dengan Amerika Serikat.

Jika demikian, apakah komunis Tiongkok sudah kalang kabut? Apakah itu bukan harapan yang diberikan kepada orang-orang idiot?

Bagi Qin Peng, dari perspektif menguntungkan negara dan rakyat, sebaiknya membuang jauh-jauh rencana konfrontasi dengan Amerika Serikat. Lalu semestinya berkonsentrasi pada rencana reformasi secara menyeluruh di bidang politik dan ekonomi. (sin/rpg)

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular