Erabaru.net. Pada 15 Agustus lalu, mantan ketua Asosiasi Agama Buddha Tiongkok yakni Shi Xuecheng diadukan melakukan pelecehan seksual. Shi pun terpaksa mundur dari jabatannya.

Sebelumnya skandal Shi diberitakan oleh media massa dalam maupun luar negeri. Sejumlah media asing menuding Shia adalah “Iblis yang berjubah biksu”.

Lalu siapakah yang telah menciptakan “iblis” semacam itu? Siapakah yang membiarkannya mengacaukan agama Buddha?

Shi pernah menjabat berbagai posisi antara lain sebagai Komisi Koordinasi Politik Partai Komunis Tiongkok (PKT), ketua Asosiasi Agama Buddha serta kepala biara Vihara Longquan.

Dia adalah biksu berkarir politik tertinggi yang didukung oleh Komunis Tiongkok.

Jadi terungkapnya skandal Shi Xuecheng itu jelas menjadi tamparan telak bagi Komunis Tiongkok.

Shi Xianqi yang melaporkan Shi Xuecheng menulis di internet, menjelaskan proses pengaduan yang dilakukan, juga mengungkap penderitaannya.

Ia khawatir peristiwa ini akan berdampak buruk bagi agama Buddha, dan entah bagaimana lagi nasib Vihara Longquan.

Shi Xuecheng telah tumbang. Bagi umat Buddha yang beriman dengan tulus, hal itu menjadi pukulan yang keras.

Dari sudut pandang lain, peristiwa ini membuka mata masyarakat bahwa sekarang ini agama Buddha di Tiongkok telah tercemar.

Agama Buddha telah meninggalkan ajaran Buddha yang sesungguhnya. Bukan lagi karena pengetahuan, disiplin dan kesucian diri yang kuat, tapi telah menjadi pengikut Komunis Tiongkok.

Pada 11 Desember 2017, Biksu Yin Shun selaku wakil ketua Asosiasi Agama Buddha Tiongkok berbicara di kelas pembinaan Spiritual Kongres Nasional ke-19 bagi Asosiasi Agama Buddha di provinsi Hainan.

Yin Shun menyatakan bahwa dirinya telah menyalin laporan Kongres Nasional ke-19 sebanyak 3 kali dengan tangan, dan masih harus menyalin sebanyak 10 kali lagi.

Yin Shun yang merangkap ketua Asosiasi Agama Buddha Provinsi Hainan itu menegaskan bahwa organisasi agama Buddha harus taat pada petunjuk partai dan mengikuti arahan partai.

Pernyataan Yin Shun ini memicu opini dan reaksi keras. Warganet meragukan, biksu ini harus dicap sebagai gerakan bawah tanah/ penyusupan Komunis Tiongkok dalam tubuh agama Buddha.

Ada yang menyindir, “Di vihara harus dibentuk cabang partai”, “kalau menyalin 10 kali lagi, bisa langsung ke neraka menemui roh leluhur komunis yakni Karl Marx”.

Oknum seperti Shi Xuecheng dan Yin Shun yang merupakan Biksu Merah, telah mencemarkan vihara dan juga agama Buddha. Biksu palsu berjubah biara ini sangat sesuai dengan kriteria Komunis Tiongkok.

Komunis Tiongkok yang atheis melarang anggotanya untuk beragama. Pada saat yang sama mereka getol menodai agama.

Komunis Tiongkok berniat mengendalikan jiwa seluruh mahluk hidup, memaksa manusia menjauh dari Tuhan dan hanya menyembah Komunis Tiongkok, serta melakukan kejahatan bersama dengan Komunis Tiongkok.

Buku “Sembilan Komentar Partai Komunis Tiongkok” dijelaskan: “Kebudayaan tradisional berakar dari Konfusius, Buddha dan Tao, langkah pertama PKT merusak kebudayaan adalah menyingkirkan wujud nyata kebudayaan itu di dunia, yakni agama. Di masa awal kekuasaannya Komunis Tiongkoktelah memusnahkan kitab suci, memaksa biksu menjadi umat awam, juga merusak fasilitas-fasilitas agama lainnya. Hingga tahun 1960an, rumah ibadah di Tiongkok yang tersisa sudah tidak banyak. Saat gerakan ‘hancurkan 4 konsep lama’ di masa Revolusi Kebudayaan bahkan merupakan suatu malapetaka bagi agama dan kebudayaan.”

Puluhan tahun setelah Revolusi Kebudayaan (1966-1976), arah Front Persatuan PKT terhadap agama pada dasarnya tidak berubah, hanya metodenya yang diperbaharui. Berpanji reformasi agama, menciptakan fenomena palsu ciptakan kebebasan beragama, berupaya mengubah sifat asli agama dari dalam keluar, mengubah setiap agama menjadi alat propaganda bagi Komunis Tiongkok.

Di satu sisi Komunis Tiongkok membina umat beragama yang pro-merah. Di sisi lain memperketat pengawasan terhadap tempat-tempat ibadah, menindas para umat yang menuntut kebebasan beragama dan yang tidak mau tunduk pada Komunis Tiongkok.

Pada bulan Maret tahun ini, Biro Urusan Agama PKT masuk di bawah naungan Departemen Front Persatuan PKT, dan kebijakan “mengkomuniskan agama” pun diperluas.

Sejak Mei lalu, pihak pemerintah memaksa setiap tempat ibadah untuk menaikkan bendera merah Lima Bintang Tiongkok di tempat yang mencolok. Sejak tahun 2014, pemerintah telah membongkar paksa hampir 2000 buah salib dan menggantinya dengan bendera merah Lima Bintang.

Forum Kebebasan Beragama Tingkat Menteri pada Kementerian Luar Negeri AS, mengumumkan sebuah pernyataan khusus terhadap Beijing. Di dalamnya tertulis, “Sejumlah kelompok agama dan minoritas di Tiongkok, termasuk suku Uyghur, kaum Muslim sukuHui, Muslim Kazakh, umat Buddha Tibet, umat Kristiani, umat Protestan dan Falun Gong, telah mengalami penindasan serius dan didiskriminasi hanya karena kepercayaan mereka.”

Semua kelompok itu terus menerus melaporkan berbagai pelanggaran yang dilakukan Komunis Tiongkok terhadap kelompok mereka seperti penganiayaan, siksaan badan, penangkapan ilegal, penahanan, vonis hukuman, pelecehan dan sebagainya.

Stasiun Radio Asia Freedom pada 24 Agustus, memberitakan serangkaian aksi penindasan yang dilakukan pemerintah daerah Beijing terhadap umat Kristen, seperti membubarkan paksa gereja, menutup gereja, juga memaksa umat Kristen menandatangani surat perjanjian untuk tidak lagi menganut agama Kristen dan lain-lain.

Selama ribuan tahun, agama ortodoks (murni/sejati) di dunia selalu mengajarkan manusia untuk berbuat baik dan kembali ke fitrahnya. Sedangkan Komunis Tiongkok justru memaksa manusia menjauh dari keindahan spiritual dan membebasliarkan nafsu.

Di bawah pemerintahan Komunis Tiongkok, kalangan agama telah dipenuhi dengan kekalutan dan kekacauan, tanah suci sudah sulit ditemukan.

Lalu, jika“mengikuti langkah partai Komunis Tiongkok”, apa jadinya?

Akhinya adalah meninggalkan Tuhan, menjauh dari kebajikan, semakin lama semakin menuju kemerosotan dan kehancuran. (sud/whs/rpg)

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular