Erabaru.net. Kasus baru flu babi Afrika melanda Kota Wuxi di Tiongkok timur Provinsi Jiangsu pada Senin, 3 September 2018 lalu. Kementerian Pertanian Tiongkok mengkonfirmasi wabah penyakit itu di Kota Xuancheng di provinsi timur Anhui, yang terjadi di sebuah peternakan kecil dengan 308 babi, telah menewaskan 83 ekor.

Kasus itu menimbulkan kekhawatiran, khusunya bagi para peternak. Pasalnya penyakit tersebut dapat mempengaruhi mata pencaharian mereka. Jika berkepanjangan maka nasib para peternak kian merana.

Tiongkok kini telah menemukan delapan kasus penyakit mematikan tersebut di lima provinsi, seperti di Liaoning di timur laut Tiongkok, di Henan di bagian tengah, dan di provinsi timur Anhui, Jiangsu, serta Zhejiang. Penyakit itu menyebar dengan cepat di tingkat produsen daging babi ternama dunia.

Langkah Kementerian Pertanian Tiongkok pada awal bulan yang lalu, dengan menutup pasar-pasar babi hidup di provinsi-provinsi yang terkena dampak.

Di samping itu juga memberlakukan larangan mengangkut babi dan produk-produk daging babi dari provinsi-provinsi yang terkena itu. Larangan tersebut secara efektif mencegah rumah-rumah jagal atau pemotongan hewan dan pabrik-pabrik pengolahan daging dalam menggunakan babi atau daging babi dari daerah yang terkena dampak.

Bukan itu saja, pemerintah juga melarang babi-babi hidup dari provinsi yang tidak terkena dampak diangkut melalui tempat yang telah dilaporkan terinfeksi. Akibat menghentikan produk-produk daging babi untuk diangkut keluar dari daerah-daerah itu akan menyebabkan gangguan besar bagi para peternak, pedagang, dan rumah pemotongan hewan.

Di Provinsi Henan, salah satu daerah penghasil babi terbesar di Tiongkok, stok babi melonjak karena para peternak tidak dapat lagi menjualnya ke wilayah lain.

“Saya belum punya bisnis dalam dua hari terakhir karena ada terlalu banyak babi di pasar. Harganya buruk dan tidak banyak permintaan,” kata Ni seorang agen di Provinsi Henan, Tiongkok.

Sampai saat ini, pihak berwenang hanya menghentikan transportasi babi dan produk-produk serta menutup pasar-pasar babi hidup di dalam dan di sekitar area yang terinfeksi.

Sebelumnya, pemerintah telah memusnahkan lebih dari 38.000 babi pada Minggu, 1 September 2018 yang lalu, sebagai langkah menahan wabah.

Flu babi Afrika ini ditularkan oleh kutu dan kontak langsung antar hewan. Menularnya juga dapat melalui makanan yang terkontaminasi, pakan hewan, dan orang-orang yang berpindah. Tidak ada vaksin untuk penyakit ini, namun tidak berbahaya bagi manusia. (ran/rpg)

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular