Canbera – Para petani di Australia memetik buah stroberi untuk dibuang. Sebab, permintaan akan buah stroberi menurun drastis dalam beberapa pekan terakhir. Warga enggan membeli dan memakan buah stroberi karena penemuan jarum di dalam buah merah itu, di beberapa tempat di negeri kanguru.

Dengan banyak orang yang tidak mau membeli buah yang berpotensi terkontaminasi, para petani terpaksa membuang persediaan mereka. Pemilik perkebunan Pinata Farms di Wamuran, Queensland, Gavin Scurr, mengatakan kepada Daily Mail Australia bahwa perusahaannya mengalami kerugian yang signifikan akibat krisis industri buah.

“Kami membelanjakan 25.000 dolar (Australia) per hari (sekitar 270 juta rupiah) hanya untuk membayar tenaga kerja, untuk memanen stroberi yang akan kami buang,” ujar Gavin Scurr, baru-baru ini.

“Kami harus memanennya, karena jika tidak, dalam dua atau tiga hari, buah akan menjadi busuk. Penyakit dan lalat buah akan datang dan menyerang seluruh tanaman,” sambungnya.

Pejabat Pengembangan Industri Stroberi Australia, Jennifer Rowling mengatakan kepada ABC bahwa industri buah hancur oleh insiden dan krisis ini. “Dan yang sangat menyedihkan untuk berpikir bahwa seseorang telah melakukan sesuatu seperti ini.”

Industri stroberi Australia bernilai 160 juta dolar Australia, menurut sektor ini. Sebagian besar buah dikonsumsi di dalam negeri. Sejumlah kecil buah juga diekspor ke Selandia Baru.

Dua supermarket terbesar di Selandia Baru pun menghentikan pesanan stroberi dari Australia. Meskipun Kementerian Industri Primer Selandia Baru telah mengkonfirmasi bahwa tidak ada merek stroberi yang terkontaminasi yang berhasil masuk ke rak-rak toko di negara mereka.

Sebanyak enam merek telah terkena dampak langsung dan ditarik dari penjualan. Konsumen juga mulai menghindari membeli semua jenis buah.

Negara bagian Queensland, negara penghasil stroberi terbesar di negara itu, adalah yang paling terpukul dengan krisis ini. Queensland sangat rentan terhadap penurunan yang berkelanjutan di seluruh pasar Australia.

Otoritas Australia sendiri menduga krisis industri buah bermula dari aksi prank atau aksi mengerjai orang lain untuk tujuan lucu-lucuan. Sebuah aksi prank tersebut kemudian ditiru secara masif.

Polisi mengaku sudah menangkap orang pertama yang melakukan ide prank itu. Tersangka adalah seorang remaja laki-laki, yang mengaku meletakkan jarum di buah stroberi. Dia mengakui bahwa aksinya itu adalah aksi prank atau lelucon.

Penangkapan itu diumumkan oleh polisi New South Wales pada Rabu, 19 September 2018. Asisten Asisten Komisaris Stuart Smith mengatakan bocah laki-laki itu ditangkap beberapa hari sebelumnya.

“Jelas dalam beberapa hari terakhir kami menemukan seorang anak muda mengaku melakukan lelucon, termasuk meletakkan jarum dalam stroberi,” kata Smith, menurut Daily Mail.

Polisi sebelumnya mengatakan bahwa buah lain yang telah terkontaminasi jarum di seluruh Australia adalah ‘karya prank tiruan’. Smith mengatakan bahwa semua pelanggar yang terlibat dalam lelucon itu akan mendapatkan hukuman yang berat.

Polisi mengatakan bahwa mereka yang bertanggung jawab bisa dipenjara hingga 10 tahun. Meskipun bocah itu akan ditangani di bawah ‘sistem peringatan pemuda’.

“Semua kasus akan diperlakukan sebagai kontaminasi, yang merupakan pelanggaran serius dan terancam hukuman 10 tahun penjara.”

Polisi di NSW mengatakan pada 18 September 2018 bahwa jarum ditemukan di lebih dari 20 keranjang strawberry. Ada juga laporan penemuan jarum pada pisang dan apel.

Ketakutan terkait kesehatan buah kemudian menyebar di seluruh Australia. Bahkan, mendorong supermarket untuk meminta penyalur buah bermerek dan petani untuk membuang buah. Padahal petani sedang berada pada puncak musim panen. (The Epoch Times/waa)

Video Pilihan :

Simak juga, Pengakuan Dokter yang Dipaksa Panen Organ Hidup :

Share

Video Popular