Barcelona — Pariwisata memang menjadi salah satu sumber utama pemasukan bagi Barcelona, ibukota daerah otonom Catalonia, di Spanyol. Akan tetapi warga kota tepi pantai yang populer itu, akhir-akhir ini mengaku semakin muak dengan sejumlah besar turis yang membanjiri kota mereka.

“Membebani infrastruktur dan menaikkan biaya hidup. Barcelona bukan taman bermain,” kata David Riojo, yang tinggal di La Barceloneta, distrik wisata tepi pantai Barcelona.

Pada bulan Agustus, penduduk di lingkungan Riojo juga mengeluhkan kemah turis di taman umum terdekat. Para wisatawan minum alkohol dan berbuat gaduh di taman itu.

“Kami selalu hidup bersama dengan turis, tetapi tahun ini tingkat perilaku tidak beradab (turis) telah meningkat. Ada penduduk yang tidak bisa tidur di malam hari,” kata Riojo.

Menurut dewan kota Barcelona, setiap tahun sekitar 17 juta turis asing mengunjungi Barcelona. Itu berarti rata-rata jumlah turis per harinya hampir sama dengan jumlah penduduk yang hanya 1,6 juta, jika rata-rata waktu tinggal wisatawan selama tiga hari. Jika rata-rata masa tinggal mereka lebih lama, maka jumlah wisatawan akan lebih banyak dari warga setempat, pada saat bersamaan.


Sebuah demonstrasi menentang kejahatan dan pariwisata massal digelar di distrik La Barceloneta, Barcelona, pada 15 September 2018. Spanduk besar yang dibawa berbunyi, “Tsunami lingkungan. Barcelona tidak berfungsi (lumpuh).” (Anna Llado/The Epoch Times)

Namun, otoritas pemerintah kota setempat, Dewan Kota, mengatakan kasus perilaku tidak beradab hanya dilakukan oleh sekelompok kecil atau minoritas wisatawan. “Kebanyakan turis menghormati,” kata Agustí Colom, seorang anggota dewan yang bertanggung jawab atas pariwisata.

Colom menambahkan bahwa publikasi kasus-kasus turis yang berperilaku buruk mungkin terlalu berlebihan. “Media memperbesar insiden yang melibatkan turis.”

Namun perilaku kasar bukanlah satu-satunya kekhawatiran yang ditimbulkan oleh warga lokal. Volume besar turis yang datang ke kota itu telah membebani sumber daya dan menaikkan harga dan sewa properti.

Sejumlah warga mengadakan sejumlah protes musim panas ini. Mereka menyerukan Dewan Kota untuk membatasi pariwisata. Protes baru-baru ini digelar pada 15 September 2018, dimana warga La Barceloneta berbicara menentang kejahatan dan juga pariwisata massal. Para pengunjuk rasa memegang spanduk yang bertuliskan, “Lebih aman, minim ketidaksopanan,” dan “Menolak booming pariwisata.”

Kekuatan Ekonomi
Pariwisata adalah salah satu industri utama Barcelona, terhitung sekitar 12 persen dari GDP kota. Ketika sebagian penduduk mengeluhkan volume besar turis yang membahayakan kualitas hidup mereka, banyak bisnis yang bergantung pada kunjungan turis untuk mata pencaharian mereka.

Tahun ini, meskipun jumlah wisatawan yang mengunjungi kota itu masih pada tingkat tinggi, beberapa bisnis mengalami penurunan pendapatan.

Salamanca Restaurant di La Barceloneta di Barcelona, ​​Spanyol, pada 15 September 2018. (Anna Llado/The Epoch Times)

“Omset menurun antara 30-40 persen,” kata Alfonso Gómez, manajer restoran Salamanca, yang terletak di jantung distrik La Barceloneta, dan terkenal dengan Paella, makanan tradisional Meksiko.

Menurut Manel Casals, direktur sebuah penginapan di Barcelona, ​​tingkat hunian hampir sama dengan 2017. Akan tetapi perusahaan terpaksa menurunkan harga untuk menarik wisatawan. “Sebagai konsekuensinya, untuk hotel, perputaran pemasukan turun 14 persen pada bulan Agustus.”

Di antara alasan penurunan pendapatan pariwisata, keduanya menyebutkan ketidakstabilan politik karena gerakan pro-kemerdekaan di daerah otonom Catalonia. Barcelona adalah ibukota dari wilayah pesisir Spanyol ini.

Faktor-faktor lain, menurut Casals, adalah berkembangnya tujuan pantai lainnya, terutama di negara-negara Afrika Utara yang pulih setelah serangan teroris di tahun-tahun sebelumnya. Selain itu, juga cuaca hangat di Eropa utara tahun ini membuat wisatawan beralih meninggalkan Spanyol, untuk menikmati sinar matahari.

Menurut Agustí Colom, Dewan Kota menyadari bahwa pariwisata adalah salah satu kekuatan pendorong utama ekonomi di kota itu. Dewan sedang bekerja untuk mendorong ‘rencana wisata yang berkelanjutan’. Sehingga dapat menyeimbangkan antara kebutuhan untuk menghasilkan pendapatan dan menjaga kualitas hidup warga kota.

“Kami bekerja untuk mengurangi dampak negatif pariwisata massal pada kehidupan sehari-hari penduduk Barcelona,” kata Colom.

“Sekarang ada lebih banyak petugas sipil untuk menjamin perilaku terhormat (wisatawan) dan kami telah mengurangi jumlah apartemen turis yang tidak berlisensi.”

Menumbuhkan Biaya Perumahan
Menurut laporan terbaru dari Lembaga Statistik Nasional Spanyol, harga perumahan telah tumbuh sebesar 9 persen di Catalonia. Secara nasional, tingkat pertumbuhan mencapai 7 persen.

Ketika menyangkut harga sewa, tarif sewa bulanan rata-rata naik sekitar 20 persen antara 2015 dan 2018 di Barcelona.

Faktor-faktor yang berperan dalam kenaikan harga memang masih seputar permintaan yang tinggi dan pasokan perumahan yang rendah. Namun, meningkatkan biaya perumahan, juga disebabkan meningkatnya minat perusahaan untuk berinvestasi di Barcelona. Belum lagi jumlah properti yang diubah menjadi akomodasi liburan.

Dalam upaya untuk mengekang dampak negatif pariwisata massal, Dewan Kota telah mengurangi jumlah ‘flat wisata’ ilegal, sebagian besar diiklankan di Airbnb. Lebih dari 2.300 apartemen tanpa izin ditutup dalam dua tahun terakhir.

Pasar perumahan yang panas juga telah menghasilkan beberapa ide bisnis kreatif, meskipun beberapa orang mungkin berpendapat tidak semua ide itu praktis.

Haibu 4.0, sebuah perusahaan yang berbasis di Barcelona, ​​meluncurkan rencana kontroversial untuk menyewakan kamar kecil dengan ukuran masing-masing 2,65 meter persegi.

Replika kamar kecil dari Haibu 4.0. (Foto : Haibu 4.0)

“Penyewa akan hidup berdampingan seperti lebah di sarang seharga 200 euro (sekitar 3,5 juta rupiah) per bulan,” jelas Marc Olivé, manajer Haibu 4.0.

Setiap kamar akan mencakup tempat tidur, TV, ruang penyimpanan, dan colokan listrik. Juga akan ada area komunal, di mana penyewa berbagi dapur, lounge, dan kamar mandi.

Walikota Barcelona, Ada Colau telah menolak untuk mengeluarkan lisensi agar ide bisnis itu menjadi kenyataan. “Tidak layak untuk manusia,” tegas Colau. (ANNA LLADO/The Epoch Times/waa)

Video Pilihan :

Simak juga, Pengakuan Dokter yang Dipaksa Panen Organ Hidup :

Share

Video Popular