Erabaru.net. Barisan mobil mewah yang panjang tak berujung, hotel bintang lima yang mewah, gemerlapnya balai pertemuan, sajian kuliner yang lezat, dan beragam perlakuan kelas atas, memanjakan para pemimpin 52 negara Afrika saat menghadiri Forum Kerjasama antara Republik Rakyat Tiongkok atau RRT dengan Afrika yang baru saja berakhir di Beijing.

Forum Kerjasama RRT-Afrika yang dihelat pada 3 – 4 September 2018 lalu, menyisakan kisah misterius dibalik manisnya perlakuan Beijing.

Setelah menikmati perjamuan mewah, para pemimpin Afrika itu, membawa pulang bingkisan dari Komunis Tiongkok. Bingkisan yang sangat diperlukan Negara-negara Benua Afrika itu. Bingkisan dana yang mereka terima senilai USD 60 milyar atau sekitar 892 triliun rupiah diterima.

Dana itu terinci berupa dana bantuan, kredit tanpa bunga, dana proyek dan investasi. Tak hanya itu Tiongkok juga berjanji akan menghapus hutang yang belum dibayar oleh negara miskin Afrika yang akan jatuh tempo akhir 2018 itu.

Namun apa reaksi rakyatnya terhadap perjamuan mewah yang dilakukan di tengah-tengah kondisi dalam negeri yang sedang krisis?

Perolehan yang terlihat adalah Komunis Tiongkok semakin menguatkan ambisi meluaskan pengaruh ke Negara-negara Afrika. Hal itu menguatkan sinyal bahwa Beijing tidak mau mundur dari perang dagang melawan Amerika Serikat. Komunis Tiongkok berupaya menggandeng Afrika dalam rangka melawan Amerika, juga menyampaikan sinyal tidak akan berkompromi pada AS.

Afrika sebagai bagian yang ikut serta dalam “One Belt One Road” tengah melangkah menuju jebakan yang digali oleh Beijing. Diprediksi kemungkinan munculnya krisis utang Afrika di masa depan bisa dibilang tidak kecil. “One Belt One Road” adalah proyek membuka jalur perdagangan jalan sutra kuno yang digagas Xi Jinping, Presiden Tiongkok.

Aksi berlebihan Tiongkok ini mejadi sorotan dalam Rapat Intelijen dan Keamanan Nasional di Washington pada 4 September 2018, dimana Direktur Intelijen Nasional AS Dan Coats menilai kebijakan diplomatik Tiongkok semakin gencar, berambisi mendorong kepentingan negara dan modal Tiongkok yang semakin luas.


Dan Coats mengatakan bahwa Tiongkok berusaha membentuk sosok negara besar yang berupaya mengubah tatanan internasional, untuk memperbesar keuntungan di pihaknya. Tidak diragukan forum Afrika telah membuktikan pernyataan Dan Coats bukan isapan jempol belaka.

Data yang dihimpun oleh Institut Tiongkok-Amerika di John Hopkins University menunjukkan, sejak tahun 2000 hingga 2016, Tiongkok telah memberikan bantuan sebesar USD 125 milyar (1.862 triliun Rupiah) untuk Afrika.

Timbul pertanyaan, hubungan yang didapat dengan uang, bisa bertahan berapa lama? Negara Afrika yang kekurangan bantuan dana, apakah masih akan menyebut Tiongkok sebagai saudara?

Jika perang dagang AS-RRT mengakibatkan perekonomian Tiongkok merosot, ekspor berkurang, modal asing hengkang, berapa USD yang bisa diberikan Beijing untuk membantu saudara miskinnya? Pada saat itu, apakah rakyat Tiongkok masih akan terus berdiam diri menerimanya?

Selain itu, ke depan reaksi Negara Afrika seperti apa, jika negara-negara Afrika di kemudian hari terjerumus kedalam jebakan utang, dan harus membayar mahal untuk itu.


Namun dibalik perjamuan mewah itu, memicu rasa tidak puas di tengah rakyat Tiongkok sendiri. Hal yang mengancam Komunis Tiongkok kehilangan dukungan rakyatnya, seiring rakyat yang makin terjerumus ke dalam kondisi yang semakin parah.

Kondisi di dalam negeri Tiongkok memprihatinkan, dimana harga barang meroket, harga jual property terus melonjak, bencana dimana-mana, jaminan hari tua, kesehatan, pencemaran dan kemiskinan bermasalah.

Pada saat rakyat mengeluh akan kesulitan hidup, petinggi Komunis Tiongkok kembali menghamburkan uang, tidak hanya jamuan dan perlakuan mewah, bahkan memberi bantuan dalam jumlah besar. Hal itu membuat banyak rakyat Tiongkok yang berada di negara berkembang tidak bisa menerimanya. Lalu kepentingan siapakah yang dipentingkan oleh pemimpin negara seperti itu?


Beijing tidak menyadari gunung api di bawah singgasananya tengah mengumpulkan kekuatan. Aspirasi rakyat adalah politik terbesar, ini bukan sekedar omong kosong. Sebagai wajib pajak, bukankah sudah sepantasnya mendapat manfaat dari uang yang disetorkan?

Kemewahan pesta di Beijing ternyata sebenarnya menyimpan banyak krisis di baliknya. Jika demikian berapa kali lagi pesta glamour itu akan bisa digelar oleh Beijing? (sud/rpg)

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular