Yang Ning

Baru saja Forum Kerjasama RRT-Afrika berakhir, pernyataan para pemimpin Zhongnanhai bahwa “kerjasama RRT – Afrika sama-sama menang” seakan masih segar di telinga, dan USD 60 milyar (865 triliun Rupiah) ditebarkan untuk “saudara” di Afrika, tanggal 5 September 2018 lalu negara di timur Afrika yakni Kenya surat kabar kedua terbesarnya “The Standard (edisi bahasa Inggris)” memuat karikatur sindiran berukuran besar memenuhi separo halaman utamanya. Digambarkan seekor ‘babi betina’ yang bertuliskan “China” di badannya sedang terbaring di tanah, dan pada perutnya terdapat 10 ekor babi kecil “African Leaders”, sedang berebut menyusu pada ‘babi betina’ itu.”

Karikatur itu secara sangat visual mengungkap hubungan sesungguhnya antara Beijing dengan negara Afrika yang menghadiri pesta tersebut, yakni negara Afrika harus mengandalkan investasi Beijing untuk bisa menjadi besar dan kuat, hubungan kedua pihak tidak setara, dan karena tidak setara, maka kerjasama yang ‘sama-sama menang’ pun tidak benar-benar murni lagi.

Sedangkan mengapa menggambarkan RRT sebagai babi betina yang terlihat bodoh, seorang warganet Tiongkok mengatakan, “Uang tidak bisa membeli kehormatan, ini adalah pengetahuan umum.”

Entah suatu kebetulan saja, di hari yang sama, sedikitnya belasan polisi imigrasi Kenya bersenjata otomatis, menerobos masuk ke dalam gedung China Global TV Network cabang Afrika di Kenya, dan membawa pergi 13 orang WN-RRT, termasuk 7 orang editor dan reporter. Walaupun keesokan harinya pihak kepolisian Kenya meminta maaf, dan pihak Kedubes RRT juga menanganinya secara low profile, namun peristiwa tersebut telah menorehkan cacat bagi pesta perjamuan yang diadakan di Beijing itu.

Bicara soal sejarah hubungan RRT dan Kenya, pada dasarnya adalah miniatur dari hubungan Beijing dengan negara Afrika lainnya.

Setelah era tahun 1960-an abad lalu, Kenya yang merupakan negara koloni Inggris berkobar tuntutan melepaskan diri dari Inggris dan memerdekakan diri. RRT mendukung kuat hal ini, dan membangun hubungan diplomatik dengan Kenya hanya dua hari setelah kemerdekaannya.

Presiden pertama Kenya Jomo Kenyatta memiliki hubungan baik dengan Beijing. Setelah itu, menteri pengembangan dan perencanaan ekonomi Kenya yang anti-komunis pada masa itu yakni Tom Mboya dibunuh, karena kematiannya dicurigai ada kaitannya dengan Beijing, maka hubungan kedua negara pun memburuk, gedung Kedubes RRT di Kenya sempat dirusak sebanyak lima kali.

Tahun 1966 terjadi aksi rasialis anti-Tionghoa di Kenya, pihak pemerintah menuduh Kedubes RRT telah membagikan karya tulis Mao Zedong dan lencana fotonya adalah campur tangan yang kasar terhadap urusan dalam negeri Kenya, oleh karena itu mengumumkan persona non grata terhadap Dubes RRT di Kenya, serta melarang buku karya Mao Zedong “A Single Spark Can Start a Fire (Sepercik api bisa menghanguskan padang ilalang)” versi Bahasa Swahili beredar di Kenya.

Oktober 1967 Kenya menutup kantor kedubesnya di Tiongkok. Maret 1969, Kenya memutuskan hubungan kedua negara secara sepihak menjadi status ditinjau ulang. Di masa akhir Revolusi Kebudayaan (sekitar 1976), Beijing mulai menyesuaikan kebijakan diplomatiknya, dan pada akhirnya mengaktifkan kembali hubungan diplomatiknya dengan Kenya dengan status duta besar.

Sejak era 1990-an, terutama saat baru memasuki abad ke-21, pihak RRT di satu sisi mengekspor produk tenunan dan logam, serta alat permesinan dalam jumlah besar ke Kenya, juga tidak sedikit perusahaan RRT mendirikan kantor perwakilan di Kenya.

Tapi jelas perdagangan kedua belah pihak tidak seimbang. Sebagai contoh di tahun 2012, nilai dagang kedua negara adalah USD 2,84 milyar dengan ekspor RRT ke Kenya mencapai USD 2,79 milyar sedangkan ekspor Kenya ke RRT hanya USD 0,5 milyar saja.

Tahun 2013 RRT menjadi negara investor terbesar di Kenya. RRT selalu menjadi negara surplus dagang. Di sisi lain, RRT juga telah memberikan berbagai bantuan bagi Kenya antara lain membangun jalan, jalur KA, rumah sakit, gedung olahraga dan sarana budaya lainnya. Secara logika orang Kenya seharusnya sangat berterima kasih atas bantuan RRT, tapi……

Penulis menyukai artikel yang ditulis reporter Jepang etnis Tionghoa bernama Xu Jingpo di tahun 2016 lalu yang berjudul “Mengapa Orang Kenya Lebih Menyukai Investasi Jepang Ketimbang RRT? (Why Kenya Likes Japanese Investment More Than Chinese)”, membuat kita bisa memahami pemikiran sesungguhnya orang Kenya.

Artikel itu menuliskan, tahun 2008 Beijing membantu Nairobi membangun jalan tol sepanjang 50 km yang menghubungkan kawasan industri tambang Sika di wilayah utara. Proyek itu melebarkan jalan yang tadinya dua arah empat jalur menjadi dua arah delapan jalur, di antaranya termasuk jembatan jalan raya dua arah empat jalur terpanjang yang terbentang dari Kenya sampai ke wilayah Afrika timur, juga terowongan bawah tanah dan jembatan penyeberangan dan lain-lain.  Teknologi yang digunakan bertaraf internasional, menghabiskan biaya sekitar USD 360 juta dan perusahaan RRT hanya memerlukan waktu 4 tahun untuk menyelesaikannya, bisa disebut sebagai “keajaiban Tiongkok”.

Di tahun yang sama, pemerintah Jepang juga mengeluarkan dana RMB 150 juta untuk membangun sebuah jalan raya yang menembus pusat kota Nairobi. Jalan raya sepanjang 15 km ini tadinya hanya direncanakan 4 jalur saja, tapi oleh pihak Jepang hanya dibuat menjadi 2 jalur saja, dan menghabiskan waktu selama 6 tahun.

Mengapa Jepang tiba-tiba mengubah jumlah jalur menjadi hanya dua jalur? Ternyata pemerintah Jepang telah melakukan riset investigasi, mendapati warga setempat sangat suka berlari. Oleh karena itu bersikukuh meminta pemerintah Kenya untuk mengubah jalan empat jalur itu menjadi hanya dua jalur, tujuannya adalah di kedua sisi jalan bisa dibuatkan jalur spesial pejalan kaki agar memudahkan warga kota berjalan kaki atau berlari.

Di saat yang sama di kedua sisi jalan juga dibuatkan parit terbuka yang lebar, tujuannya agar di musim hujan, bisa dengan cepat mengalirkan debit banjir. Dan pada sisi luar parit terbuka itu dibuatkan lereng dengan kemiringan 70°, tujuannya agar hewan kecil bisa merayap keluar dari saluran air itu, sehingga tidak sampai mati akibat tersapu oleh arus banjir. Sedemikian detilnya perhatian orang Jepang bisa terlihat jelas.

Kemudian, di Nairobi, Xu Jingpo mewawancarai Wakil Ketua Kantor Dagang/Industri Kenya yakni Mr. Laban Onditi Rao. Dia menanyakan bagaimana dirinya melihat bantuan pembangunan investasi RRT dengan Jepang. Ketua Rao menjawab dengan lugas, ia mengatakan, sama-sama membangun sebuah jalan, Jepang membuat perusahaan lokal Kenya membangun jalan itu, bahan bakunya juga dibeli dari Kenya sendiri. Sedangkan jika RRT membangun jalan, maka semua bahan baku diimpor dari RRT, bahkan banyak pekerja proyek pun didatangkan dari RRT, ini membuat orang Kenya merasa, RRT hanya membantu Kenya secara formalitas saja.

Tapi sebenarnya RRT memanfaatkan proyek ini selain untuk menjual kelebihan produknya secara harga dumping kepada kami, lalu membawa pulang uang keuntungannya. Jadi jika dibandingkan, model investasi atau model bantuan Jepang ini lebih berdampak besar bagi perekonomian Kenya, menimbulkan efek yang lebih baik bagi masyarakat.

“Jika RRT juga bisa seperti Jepang, lebih banyak mempekerjakan orang-orang Kenya, menggunakan bahan baku dari Kenya, uang ditinggalkan di Kenya, maka akan mengubah penilaian orang Kenya terhadap RRT.”

Seharusnya, pandangan Mr. Rao ini sangat tepat dan menohok langsung pada kelemahan terbesar dalam model bantuan RRT terhadap Afrika, yakni mengalihkan kelebihan produknya untuk dijual secara dumping ke pasar Afrika dan labanya dibawa kembali ke RRT, cara seperti ini tidak akan mendorong perekonomian Afrika, dan model seperti ini juga eksis di negara-negara Afrika lainnya.

Terhadap cara seperti ini, di benak orang Afrika tentu ada ganjalan, oleh sebab itu yang dikatakan sama-sama menang, jika tidak benar-benar diterapkan sebagaimana mestinya, perkembangan Afrika hanya akan terperangkap di dalam “jebakan hutang”, dan pada akhirnya terjerat dalam kesulitan yang lebih parah. (SUD/WHS/asr)

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds