Sinaloa – Kedatangan legenda sepak bola dunia, Diego Maradona ke Meksiko menjadi sorotan. Maradona menjadi pelatih tim divisi dua di negara Amerika tengah itu.

Memang, kemana pun Diego Maradona pergi, dia dijamin menarik perhatian, dengan reputasi sebagai pembuat onar. Terlebih, ini adalah upaya terakhirnya untuk membangkitkan karier kepelatihannya, yang telah membawanya pergi ke klub Los Dorados. Tim yang dinamai berdasarkan istilah Meksiko untuk jenis lumba-lumba emas, berbasis di Culiacan, ibukota negara bagian Sinaloa.

Jauh sebelum munculnya produksi obat-obatan terlarang dan perdagangan manusia di Meksiko, Sinaloa adalah rumah bagi Kartel Sinaloa, salah satu organisasi kriminal terbesar dan paling ditakuti dalam sejarah. Pengumuman bahwa Maradona akan mengambil alih tugas sebagai direktur teknis Los Dorados, diumumkan pada 6 September 2018.

Di tanah kelahirannya, Argentina, pria berusia 57 tahun ini masih dihormati sebagai pahlawan berkat penampilannya di tim nasional Piala Dunia 1986. Dia memenangkan turnamen yang diselenggarakan di Meksiko.

Pemain depan yang mungil ini diakui telah menginspirasi para pemain yang dinilai tidak pantas untuk meraih kemenangan, Namun, mereka membuktikan diri memiliki mental juara, setelah kemenangan atas Jerman Barat di babak final, yang digelar di Estadio Azteca di Mexico City.

“Reputasinya di Meksiko pada umumnya baik,” kata Tom Marshall, seorang jurnalis yang tinggal di Guadalajara yang telah meliput sepakbola Meksiko selama delapan tahun.

“Meksiko adalah tempat dia memahkotai karirnya, bermain di 1986 seperti yang dia lakukan. Bahkan di Piala Dunia baru-baru ini dia mengatakan dia mencintai sepak bola Meksiko dan Meksiko adalah tim favoritnya, dan bahwa dia adalah penggemar Meksiko.”

Namun kemenangan besar itu pada 1986 juga menunjukkan sisi gelap Maradona. Ketika dia sengaja menggunakan tangannya untuk mencetak gol dalam pertandingan perempatfinal melawan Inggris. Pria itu sendiri kemudian menyebutnya sebagai ‘mano de dios’, atau ‘tangan tuhan’. Mungkin itu adalah contoh yang paling terkenal dari kecurangan dalam sejarah olahraga.

Di luar lapangan, Maradona telah menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk berjuang melawan obesitas yang mengancam nyawa, serta kecanduan narkoba dan alkohol.

Maradona dilarang bermain di Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat setelah hasil tes menunjukkan positif menggunakan kokain. Dia juga sering dikritik karena hubungannya yang dekat dengan mendiang diktator Kuba, Fidel Castro.

Setelah pensiun sebagai pemain, karier kepelatihan Maradona hanya biasa-biasa saja. Dia sempat menjalani masa tiga tahun yang gagal, dalam melatih tim nasional Argentina.

Selama Piala Dunia musim panas ini di Rusia, dia sempat dilarikan ke rumah sakit. Maradona kolaps setelah merayakan gol kemenangan Argentina melawan Nigeria dan membuat gerakan tidak senonoh terhadap penggemar mereka. Dia juga diduga telah membuat gerakan rasis terhadap fans Korea Selatan di turnamen yang sama.

Semua kontroversi itu rasanya terlalu banyak bagi pendukung Los Dorados, Victor Cordero. Fans itu mengatakan penunjukan Maradona kemungkinan tidak ada hubungannya dengan skil pelatih sepak bola.

“Kenyataannya adalah para direktur Dorados ingin membawa Maradona ke sini, lebih dari apa pun sehingga tim akan menolak. Bukan karena alasan sepakbola,” kata pemuda berusia 24 tahun itu.

“Dia adalah pemain sepak bola yang hebat, dua diantara pemain terbesar di dunia bersama dengan Pele. Tetapi sebagai pelatih? Saya tidak yakin.”

Diego Maradona menunjukkan keahliannya memainkan bola di Amsterdam Arena, Belanda, pada 31 Juli 2005. (Olaf Kraak/AFP/Getty Images/The Epoch Times)

Bukan Contoh yang Baik
Cordero prihatin, bahwa Maradona tidak akan menjadi teladan terbaik bagi anggota muda dari tim sepak bola yang dia dukung.

“Banyak pemain Dorados berusia antara 22 dan 26 tahun, pemain muda yang memulai karier mereka. Maradona tidak akan menjadi contoh yang baik untuk anak-anak muda yang ingin sukses dalam sepakbola,” sesalnya.

“Maradona, untuk semua yang dia wakili, saya percaya itu adalah janji yang sangat buruk.”

Ada banyak yang tidak setuju, termasuk asosiasi penghuni kawasan eksklusif di Culiacan, di mana Maradona dikatakan ingin bertempat tinggal. Menurut media lokal, mereka menolak menjadikan Maradona sebagai tetangga.

Namun tidak semua orang tidak senang dengan kedatangan Maradona. Dalam konferensi pers yang mengumumkan peran barunya, Maradona sendiri menyebutnya sebagai ‘kelahiran kembali’. Dia bahkan mengakui ‘salah langkah’ dalam hidupnya. Dia menambahkan bahwa dia datang untuk bekerja.

Sebuah corrido, seni baca puisi dengan diiringi musik tradisional Meksiko, bahkan dibuat untuk menghormati kedatangan Maradona, yang berjudul, “El Diego de Sinaloa”.

Tim Los Dorados sendiri tampaknya bereaksi positif, jika kemenangan 4-1 mereka melawan Cafetaleros de Tapachula pada 17 September 2018 adalah tolok ukurnya.

Luis Miguel Verdugo Castro, 24 tahun, menjadi penggemar Dorados sejak 2003, datang menyaksikan laga debut Maradona. Dia mengatakan Dorados biasanya hanya didugung sekitar 6.000 dan 8.500 penggemar. Namun kali ini, ada sekitar 17.000 atau 18.000 yang menonton yang datang menyaksikan tim kesayangan mereka dari tribun.

Jumlah ini memang masih kurang dari kapasitas maksimal Estado Banorte sebanyak 21.000 kursi. Ini berarti pertandingan pertama Maradona tidak cukup menjual.

“Diantara penggemar, ada banyak spekulasi tentang pekerjaannya dan berharap itu adalah sesuatu yang akan berhasil. Ada banyak kritik di media tetapi dia adalah legenda sepakbola dan setiap orang ingin memiliki Maradona dalam tim mereka,” kata Verdugo Castro.

“Tidak ada budaya sepakbola yang sangat kuat di sini di Culiacan. Tetapi setelah beberapa saat, jika tim dapat meningkatkan prestasi dan jika Maradona dapat memperoleh kepercayaan dan kasih sayang dari orang-orang kota, maka mungkin itu bisa tumbuh.” (TIM MACFARLAN/The Epoch Times/waa)

Video Pilihan :

Simak juga, Pengakuan Dokter yang Dipaksa Panen Organ Hidup :

Share

Video Popular