Erabaru.net- Sekelompok pria bersenjata yang menyamar sebagai tentara menyerang parade tahunan militer Iran pada 22 September 2018 di barat daya Iran menewaskan sedikitnya 25 orang.

Tak hanya korban tewas, serangan juga melukai 53 orang lainnya dalam serangan paling berdarah untuk menyerang negara itu dalam beberapa tahun terakhir.

Serangan di Ahvaz dimuntahkan ke kerumunan pengawal Revolusioner dan pejabat pemerintah yang menonton parade.

Kecurigaan serangan tersebut langsung ditujukan kepada separatis Arab di Iran. Sebelumnya kelompok ini hanya menyerang saluran pipa minyak yang tidak dijaga.

Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif segera menyalahkan serangan itu pada negara-negara kawasan dan Amerika Serikat.

Serangan itu terjadi ketika barisan Garda Revolusi berbaris dengan bendera Quds Ahvaz. Parade ini sebagaimana digelar banyak tempat lain di seluruh negeri menandai dimulainya perang panjang Iran tahun 1980-an dengan Irak.

Gambar-gambar yang diambil oleh televisi pemerintah menunjukkan para wartawan dan penonton melihat ke arah tembakan pertama, kemudian barisan bubar ketika tentara dan warga sipil mencari perlindungan di bawah rentetan tembakan.

“Ya Tuhan! Pergi pergi pergi! Tiarap,”Seorang pria berteriak ketika seorang wanita melarikan diri dengan bayinya.

Kantor berita IRNA yang dikelola negara mengatakan serangan itu menewaskan 25 orang dan melukai 53 orang tanpa merinci lebih lanjut.

Laporan TV Iran menyebutkan orang-orang bersenjata mengenakan seragam Garda Revolusi dan menargetkan panggung tempat komandan militer dan polisi duduk.

“Kami tiba-tiba menyadari bahwa beberapa orang bersenjata yang mengenakan pakaian militer palsu mulai menyerang kawan-kawan dari belakang (panggung) dan kemudian menembaki wanita dan anak-anak,” kata seorang tentara yang terluka yang tidak disebutkan namanya kepada televisi negara.

“Mereka hanya menembak tanpa tujuan dan tidak memiliki target khusus.”

Rincian tentang serangan itu tetap tidak jelas. Kantor berita semi resmi Fars, yang dekat dengan Garda menyebutkan dua pria bersenjata dengan sepeda motor mengenakan seragam khaki melakukan serangan itu.

Gubernur Khuzestan Gholamreza Shariati mengatakan kepada IRNA bahwa dua pria bersenjata tewas dan dua lainnya ditangkap.

TV di negara bagian tersebut melaporkan bahwa keempat pria bersenjata telah tewas, dengan tiga orang yang sekarat selama serangan itu dan satu korban lainnya menyerah terluka di rumah sakit.

warga sipil mencoba berlindung di tempat penembakan, selama parade militer menandai peringatan ke-38 tahun invasi Irak ke Irak, di kota barat daya Ahvaz, Iran, pada 22 September 2018. (AP Photo / Mehr News Agency, Mehdi Pedramkhoo)


Siapa yang melakukan serangan itu juga tetap menjadi tanda tanya. Televisi negara segera menggambarkan para penyerang sebagai “orang bersenjata takfiri,” istilah yang sebelumnya digunakan untuk menggambarkan kelompok teroris ISIS.

Iran terlibat dalam perang melawan ISIS di Irak dan telah membantu Presiden Suriah Bashar Assad dalam perang panjang di negara itu.

Tetapi dalam beberapa jam setelah serangan itu, media pemerintah dan pejabat pemerintah tampaknya mencapai konsensus bahwa separatis Arab di wilayah itu bertanggung jawab. Namun, separatis sebelumnya hanya melakukan pengeboman pipa di malam hari atau serangan tabrak lari.

Para separatis menuduh teokrasi Syiah Iran melakukan diskriminasi terhadap warga Arab Sunni.

Iran telah menyalahkan pemberontak Timur Tengah, kerajaan Sunni Arab Saudi, untuk membiayai kegiatan mereka. Media negara di Arab Saudi tidak segera mengakui serangan itu.

ISIS kemudian mengklaim bertanggung jawab dalam sebuah pesan di kantor berita A’maaq, tetapi tidak memberikan bukti bahwa serangan itu dilakukan ISIS. Para militan telah membuat serangkaian klaim palsu di tengah kekalahan besar di Irak dan Suriah.

Di Teheran, Presiden Iran Hassan Rouhani menyaksikan parade militer yang termasuk rudal balistik yang mampu mencapai pangkalan militer Israel dan AS di Timur Tengah. Rouhani mengatakan penarikan AS dari kesepakatan nuklir adalah upaya untuk membuat Iran melepaskan persenjataan militernya.

“Iran tidak mengesampingkan pertahanannya atau mengurangi kemampuan defensifnya,” kata Rouhani.

“Iran akan menambah kekuatan pertahanannya hari demi hari,” ujarnya.

Serangan Sabtu terjadi setelah serangan terkoordinasi 7 Juni 2017 silam. Saat itu serangan ISIS terhadap parlemen dan kuburan Ayatollah Ruhollah Khomeini di Teheran. Setidaknya 18 orang tewas dan lebih dari 50 orang terluka.

Khomeini memimpin Revolusi Islam 1979 yang menggulingkan Shah Iran yang didukung Barat untuk menjadi pemimpin tertinggi pertama Iran sampai kematiannya pada 1989.

Serangan itu mengejutkan Teheran, yang sebagian besar telah menghindari serangan militan dalam beberapa dasawarsa setelah kerusuhan Revolusi Islam.

Beberapa dekade terakhir, serangan semacam itu sangat langka. Pada 2009, lebih dari 40 orang, termasuk enam komandan Garda tewas dalam serangan bunuh diri oleh ekstremis Sunni di provinsi Sistan dan Baluchistan Iran.

Garda Revolusi Iran adalah pasukan paramiliter yang hanya bertanggungjawab kepada Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Pasukan ini memiliki kepemilikan besar dalam ekonomi Iran.

Oleh Nasser Karimi dan Jon Gambrell/AP via The Epochtimes

Share

Video Popular