Erabaru.net. Beberapa tahun terakhir, para penganut agama di Tiongkok sedang mengalami kebebasan berkeyakinan mereka direnggut.

Jemaah Kristen di Beijing dan beberapa provinsi di Tiongkok mengalami tindakan keras oleh pemerintah Rejim Komunis Tiongkok.

Para pendeta dan kelompok yang memantau agama di Tiongkok menyebutkan bahwa tindakan keras itu seperti menghancurkan salib, membakar alkitab, menutup gereja, dan memerintahkan para jemaah untuk menandatangani surat pernyataan yang mengingkari keyakinan mereka.

Aksi itu terkait dengan sebuah dorongan untuk “memodifikasi” agama dengan menuntut kesetiaan kepada Partai Komunis Tiongkok yang ateis.

Bob Fu dari kelompok Hak Asasi Manusia (HAM) yang berbasis di Amerika Serikat, China Aid, mengatakan selama akhir pekan bahwa penutupan gereja-gereja di Provinsi Henan Tengah dan sebuah gereja rumah terkemuka di Beijing dalam beberapa pekan terakhir merupakan sebuah “eskalasi signifikan” dari tindakan keras tersebut.

“Masyarakat internasional seharusnya menjadi waspada dan marah atas pelanggaran kebebasan beragama dan berkeyakinan ini,” seruan Bob Fu ke dunia internasional.

Bob Fu memberikan rekaman video tentang tumpukan Alkitab yang sedang dibakar, serta tumpukan formulir yang menyatakan bahwa para penandatangan telah meninggalkan keyakinan Kristen mereka.

Bob Fu mengatakan bahwa itu menandai pertama kalinya sejak Revolusi Kebudayaan pada masa Mao tahun 1966-1976 yang radikal tentang orang-orang Kristen telah dipaksa membuat pernyataan seperti itu.

Seorang pendeta Kristen di kota Nanyang di Henan mengatakan salib-salib, alkitab, dan perabotan telah dibakar selama penyerbuan di gerejanya pada 5 September 2018.

Pendeta menceritakan, ada beberapa orang masuk ke gereja tepat ketika gereja itu membuka pintunya pada pukul 5 pagi dan mulai mengambil barang-barang.

Pihak gereja telah melakukan diskusi dengan pihak berwenang setempat yang menuntut reformasi gereja, namun tidak tercapai kesepakatan.

Undang-undang Tiongkok mengharuskan orang-orang yang mempunyai keyakinan agama untuk beribadat hanya di mimbar-mimbar gereja yang terdaftar di kalangan berwenang. Namun jutaan orang memiliki gereja-gereja bawah tanah atau rumah yang menentang larangan-larangan pemerintah.

Gereja Zion, sebuah gereja rumah terbesar di Beijing, telah ditutup pada 9 September 2018 oleh sekitar 60 pekerja pemerintah yang tiba pada jam 4.30 sore.

“Mereka datang diiringi bus-bus, mobil polisi dan mobil-mobil pemadam kebakaran,” kata pendeta gereja, Ezra Jin Mingri, pada 10 September 2018 yang lalu.

Para pejabat mengklaim bahwa mimbar-mimbar gereja tersebut adalah properti gereja yang ilegal dan disegel setelah pembekuan aset-aset pribadi pendeta demi untuk memaksa gereja memenuhi tuntutan mereka.

Reuters melaporkan, sejak April silam, gereja-gereja menghadapi tekanan yang meningkat dari pihak berwenang dan diancam akan digusur. Itu terjadi setelah pihak gereja menolak permintaan dari pihak berwenang untuk memasang kamera-kamera televisi sirkuit tertutup di dalam gedung.

Pada bulan yang sama, otoritas Tiongkok juga melarang penjualan Alkitab secara online. Namun demikian , Ezra Jin Mingri menyatakan bahwa gereja akan terus berkembang.

“Memblokir tempat hanya akan mengintensifkan konflik,” kata Ezra Jin Mingri kepada The Associated Press melalui telepon.

Intimidasi dan tindakan keras itu bukan satu-satunya yang dialami gereja-gereja, kelompok praktisi meditasi damai yang disebut Falun Dafa juga mengalami hal yang sama.

Falun Dafa menjalani penganiayaan brutal di tangan Rejim Komunis Tiongkok sejak tahun 1999. Banyak laporan penahanan di luar hukum di kamp-kamp kerja paksa, penyiksaan yang mengerikan, dan pengambilan organ paksa yang menimpa mereka.

Demikian pula nasib Muslim Uighur dan kelompok minoritas Muslim di barat laut negara itu. Diperkirakan 1 juta orang Uighur juga telah ditahan sewenang-wenang di kamp-kamp indoktrinasi. Di sana mereka dipaksa untuk mengecam Islam dan menyatakan kesetiaan kepada Rejim Partai Komunis. (ran/rpg)

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular