Erabaru.net. Senator Konservatif Australia Cory Bernardi mengidentifikasi pelanggaran-pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan Partai Komunis Tiongkok atau PKT sebagai target utama dari usulannya tentang kamp pendidikan ulang atau cuci otak. Kamp-kamp pendidikan ulang atau cuci otak adalah komponen dari aparatus penindas etnik, agama, dan politik PKT.

Usulan Bernardi itu adalah salah satu usulannya yang diajukan pada 15 Agustus 2018 silam, dan disetujui parlemen federal terkait ketegangan hubungan antara Australia dan Tiongkok.

“Australia seharusnya tidak pernah menyerahkan prinsip-prinsip kita demi perdagangan atau memenuhi tuntutan Partai Komunis Tiongkok yang menginjak-injak kebebasan,” katanya kepada media The Epoch Times.

Komunis Tiongkok mengoperasikan jaringan luas kamp-kamp kerja paksa, pusat penahanan, rumah sakit psikiatri, penjara, dan penjara hitam, yang mana penyelidik hak asasi manusia David Kilgour, Ethan Gutmann, dan David Matas menyebutnya Gulag Tiongkok.

Gulag merujuk pada sistem penindasan yang mengoperasikan sistem hukuman berupa kamp kerja paksa dan kamp-kamp transit serta penjara-penjara penahanan yang terkait.

Pada tahun 2013, catatan SOS, “save our souls” yang berhasil diselundupkan dari tahanan Kamp Kerja Paksa Masanjia menarik perhatian internasional tentang kamp yang terkenal jahat itu. Hal itu mendorong Komunis Tiongkok mengumumkan penutupannya.

Namun, penutupan kamp-kamp tersebut dinilai sebagai sikap simbolis. Pelanggaran tersebut berlanjut di tempat-tempat lain, dan dalam beberapa kasus diganti nama sebagai tempat rehabilitasi.

Usulan Bernardi terfokus pada kamp-kamp pengasingan atau penahanan pendidikan ulang politik. Di Xinjiang, Tiongkok Barat, Komunis Tiongkok telah memenjarakan ratusan ribu Muslim Tiongkok di kamp-kamp seperti itu.

“Saya sangat senang untuk keluarga-keluarga di sini di Australia bahwa usulan saya tersampaikan. Mereka berduka atas apa yang telah terjadi pada orang yang mereka cintai di Tiongkok Barat,” katanya.

Di Xinjiang, Komunis Tiongkok menyiksa warga secara fisik dan mental. Mereka mengecam keyakinannya, etnis, dan anggota keluarga mereka. Mereka harus berbalik melawan sesama penghuni tahanan dan mengikuti apa kata propaganda partai agar diberikan penangguhan hukuman dari siksaan harian yang terus-menerus.

Muslim Kazakh, Omir Bekali, ditangkap dan dipenjara selama 8 bulan. Dia dituduh mencoba membantu Muslim Tiongkok melarikan diri dari Tiongkok, karena dia telah mengundang mereka untuk mengajukan visa turis Kazakh, dalam pekerjaannya sebagai agen wisata.

“Tekanan psikologis sangat besar, ketika Anda harus mengkritik diri sendiri, mencela pemikiran Anda, kelompok etnis Anda sendiri,” kata Bekali.

Feng Chongyi, seorang profesor Studi Tiongkok di Universitas Sydney, mengulang kritik terhadap Komunis Tiongkok. Dia menyebut peralatan kamp-kamp penahanan pendidikan ulang politik untuk penganiayaan etnis dan agama secara massal.

“Pelanggaran besarnya menentang hak asasi manusia dan telah meningkatkan konflik-konflik etnis dengan Muslim di Xinjiang,” katanya kepada The Epoch Times.

Pada kunjungan ke Tiongkok pada tahun 2017, Feng ditahan dan diinterogasi oleh pejabat Tiongkok selama 10 hari karena kritiknya terhadap PKT.

Feng mengatakan sangat penting bagi integritas nasional Australia untuk berpegang teguh pada keyakinannya pada hak asasi manusia, demokrasi, dan kebebasan, dan bersiap untuk melawan terhadap pelanggaran-pelanggaran oleh rezim Tiongkok.

“Anda tidak dapat menjual nilai utama Anda karena uang,” katanya.

Feng memuji Bernardi dan inisiatif Partai Konservatif Australia di Parlemen dalam mengangkat masalah kamp-kamp penahanan pendidikan ulang politik dan Institut-institut Konfusius.

Mengingat dukungan Parlemen terhadap usulan tentang kamp-kamp penahanan tersebut, Bernardi mengatakan agar siapa saja yang memiliki bukti tentang kamp-kamp harus menyampaikan keprihatinan mereka dengan menteri luar negeri.

Penyampaian itu bisa dilakukan melalui email ke menteri luar negeri negara masing-masing, sekaligus ke email kantor Bernardi, yakni bernardi.office@aph.gov.au.

“Jika negara-negara modern tidak dapat mengekspos dan menutup kamp-kamp ini, kita tidak belajar apa pun dari kekejaman masa lalu,” pungkas Bernardi. (ran/rp)

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular