Erabaru.net. Perang dagang antara AS dengan Tiongkok tidak menunjukkan tanda-tanda mereda. Sejak ‘bom’ pertama dijatuhkan pada 6 Juli 2018 lalu, Amerika Serikat pada 7 Agustus 2018 kembali memberlakukan kenaikan tarif atas komoditas Tiongkok gelombang kedua senilai USD. 16 miliar.

Dari daftar komoditas itu, komoditas terkait program Made in China 2025 masih menjadi sasaran utama AS. Otoritas Tiongkok tak tinggal diam, mereka menyatakan akan melakukan hal sama sebagai balasan. Tampaknya kobaran api perang kian membesar.

Suatu malam, Trump mengundang 15 orang eksekutif perusahaan dan pejabat senior Gedung Putih untuk makan malam di sebuah klub golf swasta di New Jersey.

Situs Washington ‘Politico’ melaporkan bahwa Trump berpidato selama jamuan makan malam. Trump mengatakan bahwa Sabuk Ekonomi Jalur Sutra Tiongkok adalah program merendahkan pihak lain yang mungkin saja bisa mengganggu sistem perdagangan global.

Pendapatnya itu sudah disampaikan langsung kepada Xi Jinping. Trump juga menegaskan bahwa mahasiswa dari negara itu hampir semuanya adalah mata-mata. Banyak yang menduga bahwa negara yang dimaksud Trump adalah Tiongkok.

PKT menyusupkan mata-matanya di segala bidang disiplin pada 50 negara bagian AS

Direktur FBI, Christopher Asher Wray dalam Forum Keamanan Aspen menilai, Partai Komunis Tiongkok (PKT) merupakan ancaman paling luas, paling menantang dan paling signifikan bagi Amerika Serikat dalam banyak hal.

Menurut Wray, mata-mata PKT telah berada di 50 negara bagian Amerika Serikat. Mata-mata itu mencakup semua bidang, dari biji jagung Iowa sampai turbin angin di Massachusetts, dari kuantitas hingga universitalitasnya. Sangat mengkhawatirkan.

Insiden turbin angin adalah kasus mata-mata komersial yang terbongkar pada tahun 2011. AMSC (American Superconductor) dan China Sinovel awalnya adalah mitra usaha. Meski mereka bekerja sama, tapi AMSC percaya bahwa kerjasama berisiko tinggi.

Pada tahun 2011, Sinovel tiba-tiba mengatakan bahwa pihaknya tidak perlu lagi membeli teknologi turbin AMSC. Sinovel telah mendapatkan teknologi inti dari Dejan Karabasevic, seorang karyawan asal Serbia yang bekerja di kantor Austria.

Sinovel memberikan Dejan penawaran pertukaran teknologi dengan sejumlah uang, jaminan pekerjaan dan sebuah tempat tinggal di Tiongkok agar ia bisa memulai kehidupan barunya di Tiongkok.

Tahun itu karyawan tersebut sudah dinyatakan bersalah oleh pengadilan Austria, namun akibat omzet penjualan produk AMSC menurun drastis, nilai pasar anjlok USD.1 miliar, perusahaan terpaksa memberhentikan ratusan karyawan.

Belakangan Pengadilan Amerika Serikat menjatuhkan denda sebesar USD 1.5 juta kepada Sinovel dan membayar kepada AMSC sebagai kompensasi damai dana sebesar USD. 57.5 juta, meskipun kompensasi senilai itu hanya bagian kecil dari kerugian yang dialami AMSC.

BBC menyebutkan kasus yang serupa bukan cuma satu. Kasus lainnya seperti dari logam sampai microchip, dari telekomunikasi sampai transportasi, bahkan cookie merk Oreo pun ada barang palsunya di Tiongkok. Perusahaan AS yang bergerak di bidang apa saja semuanya mengeluh mengenai PKT menggunakan cara-cara yang ilegal untuk merampas teknologi mereka.

Trump bertekad untuk mengubah situasi pencurian luar biasa itu.

Pencurian luar biasa itu termasuk pencurian kekayaan intelektual yang menimbulkan kerugian besar. Lembaga Commission on the Theft of American Intellectual Property di Amerika memperkirakan bahwa hak kekayaan intelektual milik AS yang dicuri oleh PKT setiap tahunnya bisa mencapai USD. 600 miliar.

Tak heran setelah Trump menjabat, dia mengumpulkan para pakar teknis, pakar kebijakan, akademisi, dan anggota kabinet di Gedung Putih untuk membahas cara memecahkan masalah tersebut.

Di satu sisi PKT terus mengklaim bahwa mereka melakukan yang terbaik untuk mencegah pelanggaran hak kekayaan intelektual. PKT pada tahun 2015 pernah berkoar akan membersihkan perusahaan-perusahaan yang tidak mengikuti aturan.

Argumen PKT itu disanggah oleh Amerika Serikat. Derek Scissors, seorang penasihat Gedung Putih, Ahli urusan Tiongkok dari American Enterprise Institute mengatakan bahwa PKT telah lama berperan sebagai penghisap darah di bidang teknik, dan Beijing berada di belakang layar mendukung pencurian yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan Tiongkok.

Derek menekankan bahwa PKT mengawasi segalanya. Menurutnya tanpa persetujuan dari pemerintah Tiongkok pencurian rahasia komersial dalam skala besar itu tidak mungkin bisa dilakukan.

Lalu, apakah Trump akan mampu menggunakan metode tarif untuk membuat PKT menghentikan perilaku spionase? Atau apakah ia akan memilih pendekatan lain yang lebih bertarget?

Profesor Mark Burton dari Universitas Portsmouth, Inggris berpendapat bahwa pemberlakuan tarif berskala besar terhadap Tiongkok setidaknya menunjukkan sikap konfrontatif Trump dalam masalah ini.

“Harus menghukum pelakunya”

Wadah pemikir AS berpendapat bahwa melalui denda tarif skala besar saja tidak cukup, sanksi harus dikenakan pada perusahaan-perusahaan tertentu.

“Anda harus menghukum pelaku, jika tidak, Anda tidak pernah akan dapat mengubah perilaku tersebut. Dan ini lebih efektif daripada melakukan tindakan tegas dengan harapan cepat menyelesaikan masalah,” sebut Wadah Pemikir AS itu.

Pendapat yang senada dilontarkan Mara Hvistendahl, anggota dari New America Foundation. Menurutnya hanya melalui pengawasan terhadap beberapa orang mata-mata yang sudah tertangkap masih belum cukup.

“Ini sama saja seperti hanya menangkap pengedar tetapi tidak mencari dalang narkobanya,” katanya.

Cheng Xiaorong, seorang analis politik mengatakan bahwa di balik berbagai kasus spionase yang dilakukan PKT tersembunyi konspirasi dari roh-roh jahat komunisme.

Roh jahat itu memikat para siswa asal Tiongkok di luar negeri termasuk profesional teknologi untuk terlibat dalam kegiatan ilegal. Roh jahat itu tidak mempromosikan mata pencaharian dan kesejahteraan. Sebaliknya malahan bertindak membantu kejahatan berkembang, memberikan kekuatan pada kejahatan untuk melawan masyarakat Barat yang liberal. Turut mengambil bagian dalam ekspansi ambisi kejahatan mendominasi dunia.

Menurut Cheng Xiaorong mahasiswa asal Tiongkok di luar negeri dan para pemilik talenta ilmiah dan teknologi harus dapat membedakan bahwa PKT itu tidak setara dengan Tiongkok.

“Apakah itu sebagai balas budi terhadap ibu pertiwi atau perjuangan untuk masa depan pribadi, kita harus selalu bersandarkan pada kebenaran dan menjaga hati nurani, Jika tidak, kita sendiri yang akan merasakan sendiri kepahitan hidup akibat dari membantu kejahatan,” katanya.

Jelas bahwa PKT menggunakan teknologi curian untuk mengeruk kekayaan. Namun mereka tidak mengakuinya, tidak mau mempertanggungjawabkannya. Termasuk saat pihak lain seperti AS, ingin melarangnya, PKT malahan berbalik menuduh AS menghalang-halangi kebangkitan Tiongkok.

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular