Erabaru.net. Ada orang akan bertanya, Tiongkok sudah mengalami perubahan yang terlalu besar, Partai Komunis Tiongkok (PKT) yang sekarang apakah masih merupakan PKT yang kemarin?

Dari sebuah kerangka yang lebih besar, dari sudut pandang jalur utama “mempropagandakan ateisme serta filosofi pertarungan, menipu, bertarung, membunuh, menghancurkan kebudayaan tradisional dan merusak moralitas”, mari kita lihat apakah PKT telah berubah atau belum.

BERMANIS-MANIS DAHULU BERPAHIT GETIR KEMUDIAN

Yang patut diperhatikan adalah sebuah pola dasar yang digunakan oleh partai komunis dalam memobilisasi rakyat agar melakukan revolusi, yakni menggunakan apa yang disebut dengan rasa manis untuk memikat orang, lalu mencekoki kebencian agar mereka mengganyang apa yang disebut sebagai musuh partai komunis, kemudian habis manis sepah dibuang.

“Mengganyang tuan tanah  – membagi lahan garapan” (propaganda PKT pada tahun 1927), PKT menghasut para petani untuk bergerak, namun ketika tiba saatnya program kolektivisasi (teori Marxist), maka lantas menjadikan para petani itu kaum proletar dan tumbal bagi ajaran sesat komunis.

Komune rakyat, sama rata sama rasa, “makan gratis” dan “berlari memasuki komunisme”, telah menggiring terjadinya kelaparan besar yang menyebabkan matinya puluhan juta manusia selama periode baik untuk bercocok tanam. “Ratusan bunga tumbuh bermekaran, ratusan aliran saling bersaing”, membuat orang-orang bebas mengutarakan pendapat dan isi hatinya, kalangan intelektual saking gembiranya sampai telah lupa sedang berurusan dengan siapa.

BACA JUGA : Editorial“Sembilan Komentar”: Tujuan Terakhir Komunisme

Satu babak Anti Golongan Kanan membuat begitu banyak kaum elit menelan pil pahit, bahkan telah kehilangan nyawa berharga mereka. “Revolusi tidak berdosa, kami berhak memberontak”, dengan slogan ini Garda Merah menggunakan fanatisme “gairah revolusioner”, telah memulai pengerusakan besar yang tiada duanya dalam sejarah.

BACA JUGA : Tujuan Terakhir Komunisme : Partai Komunis Tiongkok- Sejuta Perubahan Tidak Lepas dari Kejahatannya (Bagian 1)

Ketika tiba saatnya tidak ada nilai lagi untuk dimanfaatkan, dengan satu perintah “Kaum muda intelektual harus menerima pendidikan ulang dari petani miskin”, dipaksa turun ke pelosok, mereka pun dideportasi ke perdesaan dan perbatasan, betul-betul telah menyengsarakan satu generasi manusia.

Para buruh tani yang ikut partai komunis diajak memberontak, terkecuali individu yang berhasil masuk ke kelas privilege (kelas penguasa yang memiliki hak istimewa), sebagian besar dari mereka, pada akhirnya masih tetap menjadi korban penindasan dari kelas privilege. Foto buruh tani migran yang hendak mudik, berjalan menyusuri rel KA. (Getty Images)

Tragedi-tragedi tidak masuk akal tersebut tidak bisa hanya dikaitkan begitu saja dengan perilaku jahat pemimpin tertentu, melainkan merupakan aksi roh jahat komunis dalam menyalahgunakan kekuasaan untuk merusak kebudayaan dan hubungan antar manusia, sekaligus menghancurkan moralitas.

Setibanya di hari ini, program pertunjukan semacam ini masih saja sedang dipentaskan. Perkembangan ekonomi telah mendatangkan rasa manis bagi manusia, maka orang-orang hanya menatap pada keuntungan di depan mata, dan telah melupakan moralitas.

Dilihat secara permukaan, setiap orang berkeinginan mengejar keuntungan, bahkan mengejar uang secara cepat, “1 kg moralitas berapa harganya?” Semua orang tidak peduli, atau peduli pun juga tiada guna, maka malas peduli, pokoknya sibuk mengeruk uang itu dianggap merefleksikan masyarakat ini yang penuh vitalitas, “daya hidup yang meluap” dan “masa depan cerah tiada tara”.

Di balik “rasa manis” semacam ini, adalah agar kecerdasan manusia tidak dapat dimanfaatkan pada jalan yang lurus, senantiasa digunakan untuk hal menyimpang. Tipu muslihat dalam berdagang, barang palsu dan murahan, meniru dan menjiplak, ambisius dan gaya berlebihan, merusak lingkungan, tanpa peduli dengan akibatnya, pada setiap aspek menampilkan orang Tiongkok yang “cerdik” dan “pintar” yang tidak digunakan pada tempatnya.

BACA JUGA :  Tujuan Terakhir Komunisme – Konspirasi Iblis Merah Menghancurkan Umat Manusia (Bagian 1)

BACA JUGA : Tujuan Terakhir Komunisme – Konspirasi Iblis Merah Menghancurkan Umat Manusia (Bagian II)

Selama ini orang-orang senantiasa bertanya-tanya, mengapa perkembangan selama tiga dekade ini tidak menghasilkan merek internasional yang terkenal? Mengapa komponen inti dari produk kelas tinggi yang diklaim memiliki hak paten independen, faktanya kebanyakan bergantung pada impor?

Mengapa kapal induk, pesawat militer, baut tak penting dari rel kereta kecepatan tinggi, semuanya mengandalkan impor? Mengapa Tiongkok yang setiap tahun menghasilkan 40 miliar ballpoint, namun bola-pennya masih harus mengandalkan impor?

Penemuan dan inovasi, riset dasar, semuanya juga perlu dikerjakan dengan hati yang tenang, bergantung pada minat, keuletan dan dedikasi abadi, yang diperlukan adalah sebuah lingkungan besar dengan kondisi mental nasional yang mantap dan stabil. Dalam benak orang Tiongkok telah tertanam secara paksa untuk mengejar uang cepat, berspekulasi-ria, menghalalkan segala cara dalam mencapai tujuan, jika tidak dapat dilakukan maka dicuri saja. “Teknik mencuri” telah menjadi sebuah profesi terhormat “kelas atas”, sama sekali sudah tidak ada rasa malu moralitas negeri tata krama dari Huaxia (nama kuno dari Tiongkok).

Jika direnungkan, dengan mengandalkan gabungan curian dari Timur hingga Barat juga tidak mungkin menciptakan sebuah sistem ilmu pengetahuan dan teknologi basic yang utuh.

Tujuan dari roh jahat sama sekali bukan untuk membahagiakan manusia, juga bukanlah mengatur kebangkitan suatu negara, melainkan memberi sedikit rasa manis untuk manusia, padahal penderitaan masih akan menyusul. Dua sayap ekonomi modern yang lepas landas dan dapat terus menerus berkembang dengan stabil adalah: Rule of Law (bukan Sistem Hukum) dan kredibilitas (bukan koneksitas) justru merupakan hal yang paling minim dari RRT (Republik Rakyat Tiongkok), namun fondasi dari “mengatur negara sesuai hukum” dan “tingkat kepercayaan masyarakat” justru adalah moralitas. “Karena tidak menekankan moralitas, ekonomi barulah dapat meledak (booming); karena tidak memiliki moralitas, ekonomi pasti runtuh.”

Para politisi dan pengusaha Barat, bukankah seperti demikian? Banyak diantara mereka yang dapat mencicipi sedikit rasa manisnya lantas langsung terbenam dalam pelukan PKT, namun pelukan itu dari roh jahat komunis.

Pada saat awal, para politisi dan pengusaha tersebut masih berkutat membela nurani diri sendiri, akan tetapi, kepentingan itu selangkah demi selangkah terjerumus makin dalam maka hanya mampu diatur sesuai kehendak PKT, jiwa sendiri telah digadaikan kepada roh jahat.

TERUNGKAPNYA RAHASIA “YANG TETAP MENDERITA ADALAH PARA BURUH DAN TANI”

Dalam kajian secara menyeluruh, negara-negara partai komunis, sebelum memperoleh kekuasaan, adalah memanfaatkan para buruh dan tani sebagai tameng hidup dalam mengobarkan revolusi, setelah merebut kekuasaan, para buruh tani masih saja kelas paling bawah yang diperas, coba lihat daerah-daerah lawas revolusi yang disebut dengan Wilayah Kontrol Komunis di Tiongkok (wilayah yang dikendalikan PKT 1927-1949), rakyatnya masih tetap mengalami penderitaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.

Para buruh dan tani selama tiga dekade awal PKT hidup menderita, setelah “era reformasi dan keterbukaan”, yang menderita masih tetaplah para buruh tani. Ratusan juta pekerja migran membanting tulang demi ekonomi Tiongkok, namun selamanya hidup di lapisan rendah masyarakat. Sebuah sistem registrasi rumah tangga telah membuat begitu banyak orang menjadi “warga kelas dua”. Kelompok kepentingan pribadi partai komunis telah menguasai sebagian besar kekayaan negara.

Kebobrokan kelompok istimewa ini sampai ke tahap apakah? Hingga ke tahap bobrok terus sampai di suatu hari kehilangan kekuasaannya. Justru di tengah propaganda “pertarungan anti-korupsi” untuk “membasmi harimau (gembong koruptor)”, orang-orang barulah dapat menelusuri korupsi partai komunis itu begitu menakutkan. Korup beberapa ratus juta, beberapa miliar dan beberapa puluh miliar, sudah menjadi kewajaran.

BACA JUGA : Tujuan Terakhir Komunisme : Bagian Tiongkok – Negara yang Menjadi Pusat  Kebudayaan Warisan Dewata (1)

BACA JUGA : Tujuan Terakhir Komunisme : Bagian Tiongkok – Negara yang Menjadi Pusat Kebudayaan Warisan Dewata (2)

Menurut pengungkapan investigasi, sejumlah besar ‘pensiunan kader tinggi berjasa’ di Tiongkok, selama bertahun-tahun menempati 400 ribu lebih guesthouse khusus, pengeluaran untuk ini setahunnya adalah 50 miliar Yuan lebih; ditambah lagi dengan biaya pengobatan untuk kader aktif, biaya pengobatan publik tahunan untuk PNS mencapai kurang lebih 220 miliar yuan; juga berarti, 80% pengeluaran keuangan negara untuk kesehatan, adalah demi melayani sekelompok kader tingkat tinggi yang berjumlah 8,5 juta orang.

Namun para buruh tani yang menghidupi mereka, malah sebaliknya terus berkutat dalam penderitaan “tidak mampu berobat, tidak mampu beli rumah, tidak mampu mengecap pendidikan dan tidak mampu membiayai masa tua”.

Sebenarnya, penderitaan yang tak dapat dielakkan oleh para buruh tani, justru telah mengungkap sebuah rahasia kejahatan dari paham komunis.

Komunisme mengklaim hendak mewujudkan sebuah surga dunia yang “berilah sesuai kemampuan, terimalah sesuai kebutuhan” (Slogan Karl Marx di dalam tulisan Kritikan terhadap Program Gotha) dengan memusnahkan kelas, memusnahkan negara dan  memusnahkan kepemilikan pribadi.

Coba lihat salah satu programnya yang paling utama yaitu memusnahkan kelas. Bagaimanakah caranya memusnahkan kelas? Marxisme mengatakan, bahwa jalan untuk memusnahkan kelas adalah dengan mengusung kaum (kelas) proletar menggulingkan kaum (kelas) borjuis, mendirikan kediktatoran proletariat, kemudian melakukan transisi menuju komunisme.

………

Bagaimana caranya kelas-kelas di bawah kediktatoran proletariat menjadi musnah? Karl Marx tidak menjelaskan, hanya mengatakan periode kediktatoran proletariat mungkin akan berlangsung lama.

Pada masa kediktatoran proletariat, para pemimpin di semua level baik besar maupun kecil dari pemerintahan telah menjadi lapisan istimewa yang baru, juga disebut kelas privileg (kelas yang memiliki hak istimewa). Karena tidak percaya pada Tuhan, dan “apapun tidak ada yang ditakuti (harfiah: tidak takut langit, tidak takut bumi)”, maka apa yang disebut dengan “moralitas paham komunis” juga hanyalah sebatas slogan yang enak didengar belaka, mereka memerintah dengan tangan besi dan sewenang-wenang, namun sering menepuk dada sendiri sebagai “pelayan” rakyat.

Para buruh tani yang ikut partai komunis “berevolusi” memberontak, terkecuali individu yang masuk ke kelas sosial privilege, sebagian besar pada akhirnya masih tetap menjadi korban penindasan dari kelas privilege.

Memusnahkan kelas sosial itu sendiri juga sekaligus menciptakan kelas sosial baru, segalanya kembali lagi ke titik asal, maju mundur seperti ini, mengulang berkali-kali, pada akhirnya yang menderita tetaplah para buruh dan tani.

 “Yang menderita tetap adalah para buruh tani”, ini mengungkapkan bahwa ketika roh jahat mengatur komunisme, sama sekali tidak diatur jalan keluar baginya. Masyarakat komunisme dari Karl Marx sama sekali tidak mungkin tercapai, tidak heran Karl Marl juga tidak mengatakan bagaimana melakukan transisi. Dari sudut pandang permukaan manusia, dalam proses perjalanannya, sepertinya Marxisme tidak meraih apapun dan tanpa juntrungan yang jelas”.

Di balik “tanpa juntrungan yang jelas” ini, tersembunyi konspirasi maha besar dari komunisme yakni: memusnahkan umat manusia.

TUJUAN TERAKHIR KOMUNISME: MENGHANCURKAN UMAT MANUSIA

Ketika berbicara tentang paham komunis, orang-orang mungkin akan berpikir tentang bunuh, bunuh dan bunuh. Sejarah seratus tahun komunisme adalah sebuah sejarah pembunuhan manusia, termasuk pembunuhan semena-mena terhadap orang-orang yang tak bersalah dan pembunuhan terencana terhadap orang-orang yang tidak mau tunduk.

Komunisme adalah kekuatan anti alam semesta, yang tidak bisa ditolerir oleh prinsip Langit, oleh karena ia sendiri sejak kemunculannya senantiasa berada dalam kondisi krisis, dan demi mempertahankan eksistensinya, maka di tengah krisis tiada hentinya mendorong berbagai muslihat paksaannya, termasuk membunuh orang.

Pendekatan partai komunis adalah pada awalnya memberi sedikit rasa manis dulu, agar orang-orang ikut memberontak melalui “revolusi”, akan tetapi banyak sekali orang yang ikut partai komunis juga telah dibunuh oleh partai komunis, yang tidak berhasil dihabisi juga dididik menjadi alat pembunuh manusia milik mereka.

mao zedong pemimpin partai komunis tiongkok
Siluet Mao Zedong di bawah bulan mendung di Wuhan, provinsi Hubei, pada 22 Juli 2009. (AFP / AFP / Getty Images)

Ini telah membentuk papan nama partai komunis yang khas – sesama anggota partai dan sesama kompatriot sendiri juga dibantai tanpa belas kasih. Tetapi pembantaian semacam ini sama sekali bukan tujuannya yang sebenarnya. Membunuh orang tidak lebih hanya untuk menciptakan situasi teror, agar orang tunduk dan patuh terhadap pengaturannya demi mencapai tujuan terakhirnya.

Roh jahat komunis yang terbentuk dari “kebencian” dan makhluk sampah, telah mengatur sebuah revolusi komunisme di dunia manusia, tujuannya adalah melalui perusakan kebudayaan tradisional dan penghancuran moralitas dapat memusnahkan seluruh umat manusia.

Agar manusia sepenuhnya mengkhianati Tuhan yang menciptakan mereka dan agar manusia rusak sampai pada kondisi sama sekali tidak dapat mengerti perintah Tuhan, jauh di bawah batas moralitas yang ditetapkan Tuhan kepada manusia, pada saat ini Tuhan juga mau tidak mau harus meninggalkan orang-orang ini. Maka manusia semacam ini pilihannya hanya dimusnahkan.

Kematian tubuh manusia sama sekali bukan kematian sesungguhnya dari kehidupan, Yuanshen (jiwa primer)-nya masih dapat bereinkarnasi, tetapi ketika moralitas seorang manusia rusak sampai kondisi tiada obatnya, maka Yuanshen-nya akan dimusnahkan secara tuntas, itu barulah hal yang paling menakutkan dan kematian sesungguhnya dari kehidupan.

Kemusnahan semacam ini barulah merupakan tujuan terakhir dari roh jahat komunis.

Melihat dunia sekarang ini, manusia di dunia segera akan menyaksikan sebuah fakta yang mencengangkan, yaitu unsur komunis memenuhi dunia, setan iblis sudah menguasai kolong Langit. Berbagai macam konsep mutan yang sengaja ditanamkan oleh iblis jahat komunis kepada umat manusia, tanpa sadar sudah me-rajalela di seluruh dunia, bahkan orang-orang yang telah tersesat akan menganggapnya sebagai pemikiran dan keinginan mereka sendiri.

Akibatnya benar – salah, baik – jahat dari umat manusia menjadi melenceng dan terbalik secara besar-besaran. Konspirasi dari iblis merah komunis sudah hampir berhasil!

Ketika roh jahat komunis akan merayakan kemenangannya di tengah tertawa bengisnya, sebagian besar manusia di dunia malah menganggapnya sedang menuju arah kekalahan. Manusia di dunia berada di ambang kemusnahan, malah masih masih terkungkung dalam kegelapan. Masih adakah kondisi yang lebih berbahaya dari ini?

Tuhan yang maha belas kasih belum melupakan manusia. Ketika setan iblis merencanakan konspirasi, Tuhan juga telah mengatur di tengah krisis yang paling akhir, akan menggugah umat manusia. Tuhan telah memberikan kehendak bebas kepada manusia untuk memilih antara kebaikan dan kejahatan, akan tetapi jalan mana yang dipilih di saat terakhir juga harus mengandalkan diri sendiri.

Hanya ketika moralitas seluruh masyarakat bangkit kembali, hati dimurnikan, memulihkan tradisi dan membangun kembali kepercayaan kepada Tuhan, umat manusia barulah dapat terhindar dari bencana kalpa. Waktu tidak menunggu manusia! Telah tiba saatnya bagi umat manusia untuk segera tergugah dari lelap. (WHS/asr)

Share

Video Popular