Oleh : Cao Kai (Chinese Academy of Science, Institute of Developmental Biology)

Tahun 1859, Charles Darwin mengemukakan teori evolusi, menurutnya mahluk hidup bukan ciptaan Tuhan, melainkan melalui proses evolusi yang sangat lama dari wujud yang sederhana sampai menjadi rumit. Sebenarnya, teori evolusi sampai saat ini hanyalah semacam hipotesa (praduga yang masih harus dibuktikan kebenarannya, Red.), waktu itu Darwin berharap akan menemukan bukti yang kuat di masa mendatang atas teori ini, namun hingga saat ini bukti yang tahan uji tersebut tidak pernah ditemukan, apalagi teori evolusi ini sangat berlainan dengan fakta, argumennya ambigu, kesimpulannya pun tidak bisa diulang.

Contoh kasus seperti ini sangat banyak ditemui. Fakta memberitahu manusia: peradaban manusia juga mengikuti siklus: “lahir — berkembang — punah”.

Keluar dari kerangka teori evolusi ini, akan didapati bahwa fosil sebenarnya merupakan pukulan yang menentang teori evolusi. Fosil tidak terbentuk hanya dari kondisi yang umum, mahluk hidup harus terkubur sangat dalam di tanah sebelum mengalami proses pembusukan dan pelapukan, dan akan terbentuk dengan adanya tekanan yang sangat besar, barulah bisa perlahan membentuk fosil.

Hanya dengan bencana besar kondisi seperti ini baru bisa terpenuhi, fosil juga menjadi bukti terjadinya bencana besar.

Penelitian fosil di dalam lapisan tanah secara persis memberitahu manusia: perkembangan spesies muncul secara tiba-tiba dalam tempo yang sangat singkat dan ruang lingkup yang sangat luas, melalui perkembangan dan kemajuan, lalu mengalami pemusnahan massal, spesies yang tersisa dan yang baru muncul berkembang kembali, begitulah terjadi berulang kali.

Foto 07 : Peta Antartika yang dilukis Oronteus Finaeus

Sangat banyak ditemukan bukti langsung tentang perubahan akibat bencana bumi yang bersiklus. Di dalam tanah beku di Siberia, pernah ditemukan ribuan bangkai mahluk mamalia yang telah membeku.

Ada yang masih sangat lengkap, ada yang hancur dan campur aduk dengan batang pohon. Setelah isi perut mereka diperiksa, ditemukan rumput ranunculus yang belum sempat dicerna.

Fakta yang nyata ini memberitahu manusia, di sana dulunya merupakan padang rumput dengan suhu hangat, dalam sekejap terjadi bencana yang memusnahkan semuanya.

Charles H. Hapgood berpendapat: dalam waktu yang sangat singkat, lempeng kontinental mengalami pergeseran ribuan mil, sehingga membawa daratan Siberia ke posisinya sekarang ini. Tentunya, masih ada kemungkinan disebabkan oleh bencana lainnya.

Profesor Hapgood menemukan peta dunia yang digambar oleh Oronteus Finaeus (1494~1555) berdasarkan materi sejarah tahun 1532, peta itu menunjukkan Benua Antartika di bawah lapisan es, ketika bentuk gambar peta Benua Antartika di bawah lapisan es tersebut ditumpuk di atas peta Benua Antartika modern, keduanya luar biasa mirip.

Di kota Constantinople juga ditemukan peta Antartika dan peta pesisir pantai Benua Afrika dan Amerika Latin yang dilukis oleh A. Piri Reis pada tahun 1513, tingkat akurasinya mencapai setengah garis bujur, ini berarti 250 tahun lebih awal daripada manusia modern menentukan posisi di laut. Jelas ini adalah warisan dari peradaban manusia periode sebelumnya. Dan pada masa peradaban tersebut, Benua Antartika belum tertutup lapisan es.

Manusia Telah Lupakan Masa Lalu

Sampai di sini, siapa yang masih berniat mempertahankan teori evolusi? Sesungguhnya, sekarang semakin banyak ilmuwan yang berakal sehat telah mengakui bahwa teori evolusi adalah suatu keyakinan yang tidak bisa dibuktikan, karena tidak ada teori baru, maka hanya bisa terus dipakai, apalagi jika menentangnya akan merusak nama baik si penentang itu, contoh yang menjadi korban pun tidak sedikit.

Banyak ilmuwan telah berjuang selama puluhan tahun demi teori evolusi, semakin diteliti semakin berkabut, ada yang seperti Newton dan Einstein, pada akhirnya tersadar, dan mencari jawabannya di dalam agama.

“Pakar ilmu genetika Selandia Baru Michael Denton dalam bukunya “Evolution: A Theory in Crisis” dengan lugas mengatakan: “Teori Evolusi Darwin adalah kebohongan terbesar abad ke-20.”

Teori ini telah menimbulkan bencana terpendam bagi peradaban manusia yang sangat menggiriskan, yakni: Teori (evolusi) ini menganggap agama dan moralitas adalah penipuan, merusak asa rohani dan rambu/batasan moralitas; teori ini mengajarkan manusia hukum rimba dimana yang lebih kuat memangsa yang lemah, sintasan yang terbugar akan eksis (survival of the fittest, Red.), dalam persaingan menghalalkan segala cara untuk mengembangkan diri sendiri.

Foto 08 :Evolultion : A Theory in Crisis (Michael Denton)

Bahkan teori ini membuat masyarakat percaya bahwa distorsi dengan menentang tradisi dan melawan arus, mungkin saja akan muncul hasil yang lebih evolusioner dan lebih baik; ia membuat manusia percaya bahwa manusia adalah keturunan hewan.

Lebih parah lagi, teori ini membuat manusia percaya bahwa sifat dasar manusia berasal dari hewan; perkembangan ilmu psikologi Barat bahkan beranggapan: nafsu merupakan sifat dasar yang paling mendasar dari manusia, bahkan sifat paling mendasar yang terbaik dari hasil evolusi, melalui ilmu pengetahuan membuka jalan bebas bagi hedonisme dan kerusakan etika, propaganda seperti ini telah menyusup ke berbagai aspek di dalam masyarakat.

Berbagai elemen rusak seperti ini telah menyusup ke segala sesuatu dari masyarakat modern, secara diam-diam telah mendorong kemerosotan moralitas umat manusia.

Manusia terus berusaha mengevolusikan diri, di satu sisi mengembangkan diri tanpa batasan, dan di sisi lain bersaing secara keras dan hidup di tengah kekhawatiran, kian hari menjadi kian egois, saat nafsu keinginan pribadi tidak terpenuhi, berbagai perilaku tak bermoral dan kejahatan pun dilakukan.

Manusia telah kehilangan pemahaman dan kepercayaan, telah kehilangan rasa aman dalam masyarakat.

Kenikmatan sesaat dan kebanggaan, digantikan dengan segala sesuatu yang tak terselamatkan: moral yang merosot, jiwa yang terdistorsi, nafsu dan keserakahan memgembung, polarisasi, penyakit aneh bermunculan, persaingan tanpa henti, perkembangan masyarakat yang abnormal, penghamburan sumber daya alam, pencemaran lingkungan, dan perang yang ganas.

Setelah kehilangan batasan moral, manusia kehilangan kendali dan mengumbar nafsu, menyebabkan segala sesuatu tak terselamatkan lagi. Semestinya kini sudah waktunya harus menghancurkan takhyul teori evolusi ini.

Kita seharusnya menghadapi dengan tulus, sejarah riel yang telah ditutupi oleh teori evolusi.

Banyak peradaban yang cemerlang telah hilang, yang tersisa hanya sedikit bekas peninggalan yang tersebar disana-sini, di dalam benak kita, hanya ingat akan legenda yang diwariskan dari masa Plato: peradaban Atlantis yang maju terkubur di dasar laut.

Sampai sekarang peradaban umat manusia prasejarah yang bisa dilihat, antara lain piramida di Mesir, kota tua Tiahuaracu di Bolivia, kota tua Sacsayhuaman di Peru, mungkin merupakan perwakilan yang menonjol.

Bangunan-bangunan batu raksasa ini telah memperlihatkan sebuah teknik astronomi, arsitektur, metalurgi dan lain-lain yang jauh lebih unggul daripada peradaban manusia modern.

Legenda kuno yang mereka wariskan, dan berbagai legenda di seluruh dunia, mengapa dalam hal pemusnahan peradaban memiliki suatu kesamaan? Manusia sekarang justru telah melupakan ajaran masyarakat kuno, bahkan dengan mengandalkan teori evolusi, masyarakat kuno dianggap bodoh.

Patung batu raksasa di Pulau Easter menatap bisu ke arah Timur, masyarakat pada masa itu, tidak lupa memahatkan butiran air mata pada patung-patung tersebut.

Penulis pernah menghadapi banyak fakta dan kontradiksi, terjebak kehilangan akal di dalam teori evolusi. Buku “Zhuan Falun” telah membuka pikiran penulis, membuat penulis keluar dari kekakuan sebelumnya, dan telah memahami segala yang terjadi. Penulis yakin buku ini dapat membuat pembaca memahami letak semua prinsip di alam semesta ini. (SUD/WHS/asr)

Baca juga : Teori Evolusi, Sebuah Keyakinan Yang Keliru (1)

Baca juga : Teori Evolusi: Sebuah Keyakinan yang Keliru (2)

Baca juga : Teori Evolusi, Sebuah Keyakinan yang Keliru (3)

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds