Erabaru.net. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memetakan wilayah yang terdampak gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah. Sejumlah wilayah berbeda yang terdampak yakni ‘ditelan bumi’ mencapai ratusan hektare.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas, BNPB, Sutopo Purwo Nugroho mengungkapkan bahwa citra satelit resolusi tinggi LAPAN menunjukkan wilayah Jono Oge di Kabupaten Sigi, Sulteng terkena dampak seluas 202 hektare ‘ditelan bumi.’

Sutopo merinci, gempa dengan kekuatan magnitudo 7,4 yang dilanjutkan dengan tsunami berdampak terhadap 366 unit bangunan di wilayah ini. Adapun kondisi bangunan-bangunan tersebut sudah rata dengan tanah.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas, BNPB, Sutopo Purwo Nugroho dalam jumpa pers di Gedung BNPB, Jakarta (Foto : M.Asari)

“Kondisinya sudah tak ada rumah,  ditenggelamkan lumpur dengan kedalaman 3 meter,” kata Sutopo di Kantor BNPB, Jalan Pramuka Jakarta Timur, Kamis (4/10/2018).

Sama halnya di Petobo, Kota Palu, luas wilayah yang terdampak sekitar 180 hektare dari total luas keseluruhan Petobo sekitar 1.040 hektar. Di wilayah ini bangunan yang rusak mencapai 2.050 unit. Adapun  bangunan yang mungkin rusak mencapai 158 unit.

Menurut Sutopo, proses evakuasi masih terus dilakukan di wilayah Petobo dengan mengerahkan sejumlah alat berat. Walaupun demikian, kata Sutopo, petugas harus berhadapan dengan medan yang sulit dikarenakan bangunan di wilayah ini terseret lumpur likuifaksi hingga tertelan pada kedalaman 180 hektare.

“Permukaaan (bangunan) sudah tak kelihatan sehingga dalam proses pencarian terhadap korban memang sulit,” ujar Sutopo.

Meski selama di lapangan, tambah Sutopo, mengalami kendala, tim evakuasi yang dikoordinir oleh Basarnas akan terus melakukan pencarian berdasarkan prosedur SAR hingga 7 hari. Selanjutnya pencarian akan dilakukan kembali selama 3 hari. Tak berhenti pada tahapan ini, tim akan kembali melakukan evakuasi setelah digelar rapat koordinasi.

Wilayah terdampak di Balaroa (LAPAN via BNPB)

Sedangkan di wilayah perumahan Balaroa, Kota Palu, mengalami amblas ke dalam tanah hingga 3 meter. Wilayah ini yang terdampak seluas 47,8 hektare. Bahkan ada sejumlah titik terangkat hingga  dua meter di atas permukaan tanah. Pada wilayah ini bangunan rusak mencapai 1.045 unit.

Sutopo menjelaskan, khusus di wilayah Balaroa bukan dikarenakan terdampak likuifaksi pasca gempa yang menelan bangunan. Wilayah ini ‘ditelan bumi’ dikareankan adanya patahan hingga menyebabkan amblas ke dalam tanah.

“Balaroa fenomenanya bukan likuifaksi tetapi terjadi karena ada patahan yang menenggelamkan rumah,” terang Sutopo.

Wilayah-wilayah yang terdampak ini menimbulkan korban jiwa. Akan tetapi masih belum dirinci secara pasti dan proses pendataan masih terus dilakukan.  

“Kami masih melakukan pendataan berapa kemungkinan korban yang berada pada tiga titik ini, menurut lurah  ada beberapa ratus korban yang diduga tertimbun di lumpur dan amblasan,” ujar Sutopo.(asr)

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds