Erabaru.net. Dampak gempa 7,4 Skala Richter (SR)  dan tsunami di Sulawesi Tengah menyebabkan kerugian material dalam jumlah besar. Kerugian ini terdiri dari kerusakan bangunan, infrastruktur dan ekonomi.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) memperkirakan angka kerugian mencapai lebih dari Rp 10 Triliun.  

“Perkiraan kerugian di atas Rp 10 triliun, kerugian dan kerusakan di Lombok berjumlah Rp 18,8 triliun, ini pasti di atas Rp 10 triliun,” kata Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho di Kantor BNPB, Jakarta Timur, Kamis (4/10/2018).

BNPB telah menurunkan tim Loses and Damage Assessment dan Human Recovery Needs Assessment (HRNA) untuk mengetahui seberapa besar dampak kerusakan secara materi.

Melalui tim ini, nantinya akan diketahui seberapa besar jumlah kerugian, Tak hanya angka kerugian, nantinya akan diketahui jumlah yang dibutuhkan untuk rehabilitasi dan rekonstruksi pasca gempa dan tsunami.

“Angka pastinya masih dalam proses pendataan,” kata Sutopo.

Pada 4 Oktober 2018 pukul 17.00 WIB, dampak gempa dan tsunami di Sulawesi Tengah menyebabkan korban meninggal dunia mencapai 1.558 jiwa. Korban lainnya yakni 113 jiwa hilang dan 2.549 jiwa mengalami luka-luka.

Adapun jumlah kerusakan 65.733 rumah mengalami kerusakan. Terdapat, 70.821 jiwa pengungsi yang berada di 147 pengungsian.

Gempa ini juga berdampak terjadi wilayah Jono Oge di Kabupaten Sigi, Sulteng terkena dampak seluas 202 hektare ‘ditelan bumi. Sama halnya di Petobo, Kota Palu, luas wilayah yang terdampak sekitar 180 hektare.

Sedangkan di wilayah perumahan Balaroa, Kota Palu, mengalami amblas ke dalam tanah hingga 3 meter. Wilayah ini yang terdampak seluas 47,8 hektare. (asr)

Share

Video Popular