Erabaru.net. Dampak gempa Palu-Donggala beberapa waktu lalu menyebabkan terjadinya korban jiwa dan ribuan bangunan. Gempa dan tsunami ini juga menyebabkan terjadinya likuifaksi atau bangunan-bangunan yang ‘ditelan bumi’ hingga rata dengan lumpur.

Wilayah Jono Oge di Kabupaten Sigi, Sulteng terkena dampak likufaksi seluas 202 hektare ‘ditelan bumi.’

Sama halnya di Petobo, Kota Palu, Sulteng luas wilayah yang terdampak likuifaksi sekitar 180 hektare.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan hingga Sabtu (6/10/2018) kondisi lumpur yang menenggelamkan bangunan-bangunan ini sudah mulai mengeras hingga memudahkan pencarian terhadap korban.

Adapun wilayah-wilayah yang masih tenggelam dengan lumpur basah, dilakukan pencarian secara manual.

Pencarian ini, kata Sutopo, dilakukan dengan mengerahkan sejumlah alat berat mulai dari excavator. Rinciannya 39 uni alat berat dikerahkan ke Kota Palu dan 12 alat berat dikerahkan ke Kabupaten Sigi.

Saat jumpa persnya, Sutopo menunjukkan proses likuifaksi berdasarkan hasil rekaman citra satlet WorldView resolusi pixel 0.5 meter mulai dari kondisi awal yang akhirnya menenggelamkan ribuan rumah-rumah.

“Di sini yang terdampak rumahnya sebagian besar sudah tidak ada,” kata Sutopo.

Rinciannya, dampak di Petobo, kota Palu, jumlah perkiraan bangunan terdampak sebanyak 2.050 unit. Hingga Sabtu (6/10/2018) korban meninggal dunia yang ditemukan Tim SAR berjumlah 104 meninggal dunia.

Sedangkan dampak likufaksi di wilayah Jono Oge, Kabupaten Sigi, Sulteng diperkirakan merusak sebanyak 366 bangunan. Dampak lainnya kemungkinan bangunan rusak mencapai 168 unit.

“Daerah ini kebanyakan sawah yakni lahan pertanian, sampai saat ini masih proses pencarian dan belum ada korban ditemukan,” ujar Sutopo. (asr)

Video Rekomendasi :

 

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds