Berlin – Keluarga Braunewell telah mempraktekkan seni kuno pemeliharaan anggur di atas bukit-bukit indah, di atas Sungai Rhine sejak pertengahan abad ke-17. Panen anggur tahun ini, pada akhir musim panas terpanas kedua Jerman sepanjang catatan sejarah, adalah yang paling awal yang pernah terjadi.

Di seluruh Jerman, ‘Weinlese’ (tradisi) masih lestari, dan para vintners (penjual anggur) senang dengan apa yang dijanjikan sebagai tahun yang luar biasa di salah satu sisi unik dari pemanasan global. Bagi Stefan Braunewell, yang mengelola kebun anggur keluarganya di Essenheim dekat Mainz bersama kakek, orang tua, dan saudara lelakinya, itu berarti mereka harus mengumpulkan Riesling (anggur putih) yang terkenal di wilayah itu empat minggu lebih awal dari biasanya.

“Tentu saja, perubahan iklim membawa tantangan, tetapi tantangan-tantangan ini dapat dikelola,” kata Braunewell dalam sebuah wawancara. “Kita tidak bisa menancapkan kepala kita di pasir. Ini kehendak alam, dan Anda harus menghadapinya.”

Perubahan dalam pola cuaca telah menjadi tema yang menonjol di Jerman tahun ini. Karena negara ini terombang-ambing selama bulan-bulan musim panas. Kekeringan berkelanjutan sangat memengaruhi tanaman pangan, sehingga penghasil biji-bijian terbesar kedua di Eropa itu kini justru bersiap untuk menjadi importir untuk pertama kalinya dalam lebih dari tiga dekade.

Pemerintah telah menjanjikan bantuan kepada petani sebesar 340 juta euro ($ 398 juta). Debit air sungai yang turun juga menghambat lalu lintas kapal tongkang dan mengancam akan mengganggu pembangkit listrik.

Akan tetapi, sebagaimana Braunewell dan rekan-rekannya alami, musim panas yang panjang dan cuaca panas meningkatkan keuntungan bagi pembuat anggur, walau ada masalah panen lebih awal. Sinar matahari yang cukup akan meningkatkan kadar gula, sementara cuaca kering mencegah jamur menyerang tanaman.

“Saya pikir kita tidak pernah melihat anggur yang sehat seperti itu,” kata Braunewell. “Ini adalah tahun yang sedikit gila bagi kami, tetapi kualitasnya bagus. Kandungan gulanya luar biasa, kematangannya sangat tinggi dan aromanya luar biasa.”

Kondisi cuaca yang menguntungkan juga meningkatkan kuantitas, dengan Kantor Statistik Federal Jerman memprediksi lonjakan 30 persen volume tahun ini. Panen anggur yang diharapkan sebesar 9,75 juta hekto-liter akan menjadi yang paling tinggi dalam satu dekade.

Tiga daerah penghasil anggur terbesar di Jerman, Rheinhessen, Pfalz, dan Baden, menghasilkan dua pertiga buah anggur nasional. Mereka memiliki musim panas terpanas kedua sepanjang sejarah. Namun, mereka tidak menderita kekeringan pada tingkat yang sama seperti kawasan Jerman lainnya.

“Sejauh ini, para produsen sangat senang dengan kualitas anggur,” kata Monika Reule, managing director dari German Wine Institute. “Ekspektasi untuk hasil panen telah sering terlampaui, meskipun kondisi luar biasa kering.”

Dampak pemanasan global pada pembuatan wine Jerman memang membawa beberapa kerugian, dengan karakter-karakter anggur tradisional berkembang dengan cara yang tidak selalu berpadu dengan selera konsumen. Konsentrasi gula yang lebih tinggi berarti kandungan alkohol dalam ‘Riesling’ (wine putih) tahun ini akan menjadi sekitar 13 persen, dibandingkan dengan tingkat yang disukai konsumen sebesar 11 persen atau kurang.

“Ini bertentangan dengan tren karena semua orang berjuang hari ini dengan stres dan perut sensitif,” kata Theo Gehring dalam sebuah wawancara di kebun anggur yang dia kelola bersama istrinya di luar kota Nierstein di wilayah Rheinhessen. “Kami mendapatkan anggur putih tahun ini lebih mirip seperti (wine) yang berasal dari Mediterania.”

Perubahan iklim berarti bahwa seluruh peta anggur bergeser. Gehring mengatakan dia harus pindah 190 mil ke utara untuk menghasilkan anggur yang sama seperti 40 atau 50 tahun yang lalu.

“Kami mendapatkan anggur putih seperti anggur dari Mediterania,” ulang Gehring, beberapa kali.

Namun secara umum, sebagian besar dampak perubahan iklim positif bagi negara-negara itu, menurut Stuart Pigott, seorang ahli anggur Inggris yang berbasis di Eppstein dekat Frankfurt yang telah menulis tentang industri di Jerman selama 35 tahun.

“Merah adalah bidang di mana lompatan ke depan, berkat perubahan iklim, telah menjadi yang paling dramatis,” kata Pigott. “Dua dekade lalu, Pinot Noir kelas atas yang menjual setidaknya 100 euro per botol dapat dibuat tiga atau empat kali dalam satu dekade, sedangkan sekarang dapat diproduksi setiap tahun.”

Namun, pembuat anggur Jerman sangat menyadari risiko yang ditimbulkan oleh pemanasan global. Peristiwa cuaca ekstrim telah menjadi lebih umum. Perkiraan cuaca yang kurang dapat diprediksi, mendorong para vintners untuk melindungi sumber ekonomi mereka. Para petani menanam sejumlah jenis anggur yang berbeda di berbagai bagian kebun anggur mereka, sehingga menyulitkan proses produksi.

“Kami mengalami perubahan iklim dengan cara yang sangat ekstrim,” kata Gehring. “Anda dapat melihat bagaimana alam dipengaruhi oleh industrialisasi dan menipisnya hutan hujan, bagaimana iklim berubah. Padahal, anggur adalah produk alam.” (Bloomberg/The Epoch Times/waa)

Video Pilihan :

Simak juga, Pengakuan Dokter yang Dipaksa Panen Organ Hidup :

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds