Erabaru.net. Musik bisa mengekspresikan sesuatu yang tidak dapat disampaikan dengan menggunakan bahasa manusia, yang mana berarti musik adalah sesuatu yang mempunyai makna mendalam daripada sekedar kumpulan nada, beragam sensasi bisa dirasakan oleh mereka yang mendengarkan secara langsung, lagu-lagu yang dibawakan oleh Fiona Zheng. Dia memahami hubungan antara hati sang seniman dan penguasaan teknik dari permainan musik, serta bagaimana kedua hal tersebut kemudian bisa membawa pengaruh bagi para pendengarnya.

“Ketika mempelajari musik, kita selalu menemukan pertanyaan ini: Bagaimana Anda bisa menggerakkan hati para pendengar?” Bagaimana Anda bisa menyentuh mereka dengan begitu dalam? Sebetulnya saya berpikir bahwa ketika Anda bisa sepenuhnya melepas “ego” serta melapangkan hati, maka musik yang Anda mainkan juga akan meluas sampai menyentuh hati para pendengar. Saat itu Anda benar-benar bisa menggerakkan hati mereka,” Kata Zheng dalam sebuah video yang dipublikasikan oleh Shen Yun Performing Arts, dimana Zheng menjadi pemain biola disana.

“Berpindah-pindah tempat untuk menghindari penganiayaan”

Ketika Zheng memainkan Zigeunerweisen atau Gypsy Airs dari Sarasate, sebuah lagu melankolis dan mengandung sentimen, yang berasal dari pengalaman nyata sang penggubah, yang secara langsung juga menyentuh hati dan mirip dengan pengalaman nyata sang pemain biola muda ini. Tepat sekali, Zheng mempunyai sebuah penafsiran pribadi terhadap lagu ini, yang tidak salah lagi bisa dilihat pada ekspresi wajahnya serta dawai yang menggema ketika senar biola digesek, disertai alunan musik mempesona yang muncul pada saat bersamaan.

Ketika Nenek Zheng masih hidup, dia menderita banyak penyakit, termasuk tekanan darah tinggi, dan pahanya dipenuhi bisul. Kemudian dia menemukan Falun Dafa, sebuah latihan olah jiwa raga yang indah, yang berdasarkan pada prinsip dasarnya yakni Sejati-Baik-Sabar, dan sangat populer di Tiongkok selama tahun 90an. Melihat penyakit Neneknya “secara ajaib sembuh” setelah berlatih, Zheng serta seluruh keluarganya kemudian juga ikut berlatih.

Tiba-tiba dan tanpa alasan yang jelas, pada Juli 1999 Partai Komunis Tiongkok memandang kepopuleran Falun Dafa sebagai ancaman bagi pemerintahan otoriternya. Sebuah penganiayaan yang mengerikan dimulai, membuat sangat banyak keluarga hancur—termasuk juga keluarga Zheng.

“Di tahun 2006, para polisi menerobos masuk ke dalam rumah kami, mengambil semua buku Falun Dafa yang ada, serta menangkap Ibu dan Nenek saya. Baik Ibu maupun Nenek meninggal karena penyiksaan yang mereka alami—kematian mereka hanya terpisah 15 hari,” kenang Zheng dalam sebuah wawancara di situs web Shen Yun.

“Setelah itu, saya bersama Ayah terus menerus berpindah tempat—sama seperti para gipsi yang menginspirasi lagu Zigeunerweisen dari Sarasate—selalu berpindah tempat untuk menghindari penganiayaan.”

Zheng sangat terkejut dan tidak mengerti mengapa rezim Tiongkok ingin memusnahkan Falun Dafa.

“Apakah ada yang salah dengan meyakini ‘Sejati, baik, dan sabar?’ tanya Zheng. Mengapa mereka menganiaya orang-orang yang tidak bersalah?”

Walaupun mimpi buruknya sudah berakhir setelah dia pindah ke Amerika, kenyataan yang mendesaknya untuk segera pergi dari tanah kelahirannya, tidak dapat dipungkiri adalah kenangan menyakitkan yang sangat kuat. Mungkin itulah sebabnya mengapa Gypsy Airs terasa sangat menggugah ketika dimainkan oleh oleh Zheng.

Sebuah perjalanan untuk penguasaan diri

Selama enam bulan pertama setelah mencapai negeri di seberang lautan, Zheng yang masih merasa ketakutan sama sekali tidak berani untuk bermeditasi di taman. Dia memilih untuk berlatih di kamar tidurnya dengan seluruh tirai jendela yang tertutup. Setiap kali dia melihat mobil polisi “jantungnya akan melompat keluar.”

Perlahan-lahan, dia belajar untuk menenangkan diri dan menyadari bahwa dia aman di Amerika, sebuah negara yang tidak dikuasai oleh rezim komunis.

Sejak bergabung dengan Shen Yun di tahun 2012, pemain biola ahli ini telah membagikan talentanya dengan para penonton di beberapa panggung pertunjukan paling prestisius di dunia, termasuk di Carnegia Hall, di New York.

Diperkenalkan dengan musik ketika berusia 3 tahun, dan pertama kali memainkan biola di usia 5 tahun, Zheng mengakui bahwa kehidupannya adalah perjalanan terus menerus menuju penguasaan musik, dengan peningkatan hati dan jiwa sebagai hal yang utama di atas segalanya.

“Saya rasa musik bukanlah hal yang sederhana. Ketika ada sesuatu yang berubah di hati kita yang paling dalam, energi yang kita keluarkan juga akan berbeda.”

Dan para pendengar bisa merasakannya.

“Oh Tuhan! Saya sudah pernah ke berbagai tempat pertunjukan… saya pernah ke opera, ke berbagai pertunjukan, dan dia membuat saya sangat kagum. Saya rasa dia luar biasa dan sangat mahir,” kata Linda Midas seorang warga New York, yang menghadiri pertunjukan Shen Yun pada 10 Okober 2015. “Pemain biola itu telah mencuri hati saya. Sungguh indah sekali permainan yang dia bawakan.”

Zheng mengakui bahwa dia merasa “sangat gugup” sebelum naik ke atas panggung untuk pertunjukan solonya, namun ketika memainkan nada pertama, semua kekhawatirannya lenyap setelah dia berkonsentrasi hanya pada musik yang dia bawakan.

Lebih dari itu, dia juga mempunyai kebiasaan untuk bermeditasi sebelum tampil, suatu hal yang sangat membantunya.

“Meditasi yang saya lakukan sebelum tampil membuat musik saya menjadi lebih kuat, dan saya bisa merasakan energi mengalir dari setiap nada yang saya mainkan.”

Saksikan Fiona Zheng yang memainkan Zigeunerweisen dari Sarasate:

Untuk mengetahui kisah Fiona Zheng, silahkan saksikan dalam video berikut:

Shen Yun Symphony Orchestra yang berasal dari New York menyatukan para musisi dari lima kelompok tur Shen Yun Performing Arts. Silahkan klik disini untuk mengetahui lebih lanjut mengenai Shen Yun Performing Arts, atau disini untuk mengetahui perihal Shen Yun Symphony Orchestra. (lpc/jul)

Kredit foto: Tangkapan layar Youtube | Shen Yun Official Account.

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds