Yang Yue

Dwight David Eisenhower (juga dikenal sebagai Eisenhower) adalah presiden ke-34 Amerika Serikat dan salah satu dari sembilan jenderal berbintang lima. Dia adalah presiden pertama dalam sejarah Amerika Serikat yang belum pernah memegang jabatan publik (yang kedua adalah Donald Trump yang memenangkan pemilihan pada 9 November 2016).

Eisenhower lahir pada 14 Oktober 1890 dari keluarga pekerja di Texas, berasal dari keluarga yang taat beragama dan miskin, ketika masih kecil ia sudah bisa menghafal Alkitab.

Ada cerita seperti ini: Eisenhower bermain kartu dengan keluarganya di saat dia masih kanak-kanak, karena sedang tidak beruntung, ia mendapat kartu yang buruk, maka ia pun menggerutu dan mengeluh. Ibunya dengan tegas mengatakan kepadanya:

“Tidak peduli ditanganmu adalah kartu baik atau kartu buruk, engkau harus bermain sampai tuntas dan tidak boleh begitu saja iri dengan kartu baik di tangan orang lain, juga tidak boleh mengeluh kartu buruk di tanganmu. Harus fokus pada kartu yang ada. Kehidupan masa depan juga seharusnya seperti ini, hal-hal yang tidak memuaskan dalam hidup ini akan sering terjadi, kau harus bekerja keras untuk menggunakan satu-satunya kondisi yang kau miliki, maka barulah dapat menciptakan kondisi kehidupan yang baru. “

Kata-kata sang ibunda memiliki pengaruh besar pada dirinya, diantara filsafat kehidupannya, juga saling bergema seiring dengan pengalamannya untuk bisa menang setiap kali dalam mengatasi kesulitan kelak di karir militernya.

Presiden Eisenhower. (foto karya pemerintah federal AS)

Karir militer

Eisenhower masuk akademi militer West Point pada 1911, tapi prestasinya tidak menonjol di sekolah militer, lulus di urutan nomor 61 di antara 164 lulusan, setelah itu ditugaskan di Texas, pada tahun-tahun awal masa dinasnya dinilai sangat baik, kemudian setelah bertugas di pusat pelatihan kendaraan lapis baja, berkat kinerjanya yang luar biasa dalam pekerjaan staff advisor dan dianugerahi medali penghargaan.

 Usai Perang Dunia – I (PD-I) ia dipromosikan sebagai mayor, tetapi setelah dipromosikan hingga 16 tahun ia tidak pernah naik pangkat lagi, sebenarnya dia ingin pensiun saja, tapi karena mendapat dukungan dari atasannya: Jenderal Connor, maka ia memilih untuk melanjutkan pekerjaannya, setelah itu ia masuk The Staff College, setahun kemudian menduduki peringkat pertama di antara 275 lulusan.

Eisenhower ditugaskan di Kantor Asisten Menteri Pertahanan di Washington DC sebagai anggota staf officer, terlibat dalam mobilisasi industri dan membantu dalam penciptaan Sekolah Industri Angkatan Darat.

Pada 1935 ia melakukan perjalanan ke Filipina untuk membantu perencanaan pertahanan Filipina oleh jendral Douglas Mac Arthur, disitu ia mendapatkan apresiasi dari Mac Arthur, setelah akhir tugas pada tahun 1942 ia dipromosikan sebagai mayor jenderal kepala staf divisi III.

Komandan Tertinggi Pasukan Sekutu

Pada saat kritis di tahun 1942, ia dipromosikan dari balik layar ke garis depan dan telah berpartisipasi dalam PD-II, serta diangkat sebagai “Komandan Wilayah Tempur Eropa” dari  Pasukan Sekutu.

Dia memimpin pelaksanaan Operasi Obor di Afrika Utara, dengan bantuan dari teman-teman baiknya jenderal Patton dan lainnya, berhasil mendarat, memberikan pukulan yang menohok bagi lawan, pasukan Block Poros (Axis), setelah setahun Pasukan Sekutu dengan sukses menguasai daratan Italia.

Pada 1944 Eisenhower diangkat sebagai Panglima Tertinggi Sekutu dan dipromosikan menjadi Jenderal (bintang lima) Angkatan Darat, ketika ia merencanakan “operasi pendaratan Normandia” yang juga dikenal sebagai tugas ‘Overlord’.

Tak lama setelah Pertempuran Normandia, Eisenhower (kanan), Patton (kiri) dan Bradley 3 jenderal ini di saat berada di Prancis. (domain publik)]

Cuaca tiba-tiba memburuk pada malam pendaratan, terjadi hujan badai di seluruh Eropa Barat, Angkatan Udara dan Angkatan Laut tidak dapat menyelesaikan tugas dalam cuaca seperti itu, tampaknya tidak mungkin untuk melakukan serangan.

Namun, jika serangan ini ditunda, itu akan kehilangan timing terbaik untuk menyerbu dalam kurun waktu satu tahun.

Jelas, kartu di tangan Eisenhower kali ini sangat tidak ideal, tetapi tidak ada waktu baginya untuk mengeluh, sebagai komandan tertinggi Sekutu, ia harus menghadapi ujian mendadak ini.

Pada pagi hari tanggal 5 Juni, awan perlahan menghilang dan hujan perlahan mereda. Dia membuat keputusan cepat dan meluncurkan perintah pendaratan. Hasilnya, Pasukan Sekutu sukses mendarat dan menyeberangi sungai Seine pada 19 Agustus dan merebut Paris pada 25 Agustus.

Pertempuran ini sejauh ini adalah operasi pendaratan maritim terbesar di dunia. Dalam pertempuran itu, komando Eisenhower tegas, dan bakatnya sepenuhnya dapat diekspresikan.

Perdana Menteri Inggris Churchill berkomentar: “Pertempuran yang paling sulit dan rumit dalam sejarah yang pernah ada, misi “Overlord” telah memperoleh pencapaian yang tidak perlu dipertanyakan.”

Namun, dalam situasi yang tampaknya semuanya berjalan lancar, Pasukan Sekutu mengalami tantangan terakhir: pada Desember 1944 Nazi Jerman mengerahkan semua kekuatan superior pasukannya dan berkonsentrasi untuk meluncurkan “Pertempuran Bulge” yang membuat Pasukan Sekutu mengalami kekalahan pertama, serangan terhenti sesaat, Divisi Terjun Payung dan dua divisi lapis baja pasukan Amerika Serikat dikepung di Bastogne, Belgia, memasuki situasi kritis. (HUI/WHS/asr)

Bersambung

Share

Video Popular

Ad will display in 09 seconds