Chen Pokong

Tanggal 4 Oktober 2018 Wakil Presiden AS Mike Pence saat berada di gedung Wadah Pemikir Washington yakni Hudson Institute menyampaikan pidato panjangnya, menjabarkan kebijakan terbaru pemerintah AS terhadap Republik Rakyat Tiongkok (RRT).

Pidato ini secara singkat mengilas balik sejarah hubungan AS-RRT, mengecam PKT telah membalas air susu dari AS dengan air tuba.

Lebih Jauh pidato Pence secara rinci memaparkan penyusupan, serangan, subversi dan pengrusakan PKT terhadap AS di berbagai aspek mulai dari perdagangan, militer, teknologi, kebudayaan dan juga strategi internasional. Tekad untuk melawan PKT serta melindungi dan mempertahankan kepentingan dan nilai universal AS pun tersampaikan dengan jelas.

Pidato ini adalah pemaparan resmi terhadap suatu titik balik besar dalam hubungan AS-RRT, menandakan setelah 46 tahun lamanya, hubungan AS-RRT mengalami perubahan arah secara mendasar. Tak ubahnya seperti suatu deklarasi perang dingin baru. Apa pun istilahnya tidak berlebihan. Makna dan inti utamanya adalah, semua negara di dunia diyakini akan bisa menerimanya, dan mencari posisi peran serta peluangnya masing-masing.

Akan tetapi, yang tak bisa diabaikan adalah makna berlapis lainnya: Jika pemimpin PKT bertobat, menghentikan perilaku melawan arusnya, maka hubungan AS-RRT masih ada kemungkinan berubah lagi. Kali ini, perubahan hubungan AS-RRT disampaikan oleh wakil presiden dan bukan oleh presiden, pada dasarnya adalah menyisakan ruang terakhir.

Pada akhir pidato Pence itu, terdapat paragraf berikut ini:

 “Kita seharusnya ingat, ‘persaingan tidak selalu berarti permusuhan’, dan juga tidak perlu seperti itu. Presiden Trump telah secara jelas menyatakan, kita berharap dapat menciptakan hubungan yang bersifat membangun dengan Beijing, agar kemakmuran dan keamanan kita bertumbuh sejalan, dan bukan terpisah. Walaupun pihak Beijing semakin jauh menyimpang dari visi ini, namun penguasa Tiongkok masih bisa mengubah haluan, untuk kembali ke awal hubungan kedua negara puluhan tahun silam yang penuh dengan semangat keterbukaan. AS bukannya mau mendapatkan lebih, Tiongkok juga tidak seharusnya mendapat lebih sedikit.”

Ini adalah himbauan terakhir bagi petinggi PKT untuk kembali ke jalan yang benar. Berdasarkan isi pidato Pence, secara konkrit, untuk menyelamatkan hubungan AS-RRT, penguasa PKT harus melakukan tiga hal berikut:

Pertama, mentaati janji WTO, menerima konsep dagang adil, berhenti merugikan AS, mencapai kesepakatan dagang yang setara, adil dan saling menguntungkan dengan AS.

Kedua, berhenti menindas rakyat Tiongkok sendiri, memberikan kebebasan lebih besar bagi rakyat Tiongkok; khususnya menghentikan penindasan terhadap agama, penindasan terhadap kaum Tibet, suku Uyghur dan umat Nasrani.

Ketiga, menghentikan provokasi militer, khususnya menghentikan aksi berbahaya di Laut Tiongkok Selatan dan Laut Taiwan yang dapat memicu peperangan sewaktu-waktu.

Bagi penguasa PKT, apa yang tidak bisa dilakukan? Apa yang tidak bisa? Secara objektif, dari hal pertama dan hal ketiga, tidak akan sulit bagi PKT.

Hal pertama, mengalah, membuat kesepakatan dagang baru dengan AS, seperti yang dilakukan oleh negara lain, PKT juga bisa melakukannya, dan mengubah situasi defisit dagang AS-RRT selama ini. Faktanya, sehari sebelum pidato Pence itu, yakni tanggal 3 Oktober, Dubes PKT di Amerika Cui Tiankai menyatakan: PKT mau mengalah, dan bersiap-siap membuat kesepakatan dagang baru dengan AS. Walaupun ia pura-pura mengeluh mengatakan: sikap AS selalu berubah-ubah, tidak tahu apakah sebenarnya titik berat persoalan dari AS, dan apa sesungguhnya yang diinginkan AS.

Hal ketiga, baik konflik di Laut Tiongkok Selatan maupun krisis di Laut Taiwan, semua itu adalah akibat provokasi PKT sendiri, menurut peribahasa kuno “melepas lonceng dibutuhkan si pengikat lonceng”, jika PKT berhenti melakukan aksi ekspansinya di Laut Tiongkok Selatan, berhenti mengancam Taiwan secara militer, maka kedua lautan tersebut akan tenang.

Sepertinya, baru-baru ini kegiatan jet tempur PKT mengitari Taiwan dan kapal perangnya berpatroli mengelilingi pulau Taiwan sudah agak mereda.

Bagi PKT, yang paling sulit dilakukan adalah hal kedua yakni berharap PKT memberikan kebebasan lebih besar bagi rakyat Tiongkok, adalah angan-angan yang tidak realistis.

Menghentikan penindasan agama sebenarnya tidak begitu sulit, tapi karena PKT adalah kelompok kepentingan raksasa, pemimpin daerah beserta pejabat dari atas sampai ke bawah dalam sistem stabilitas keamanan, semuanya mendapat keuntungan dari kasus besar penindasan agama dan penganiayaan suku minoritas (misalnya berbagi kue penindasan dan menikmati biaya penjagaan stabilitas yang sangat besar) tersebut, jadi menyuruh mereka berhenti pasti akan mengalami berbagai kendala.

Paragraf akhir pidato Pence secara jelas menyebut nama pemimpin negara Tiongkok Xi Jinping.

Pence berkata demikian: “(Kami) Yakin akan kemampuan kepemimpinan dan visi Presiden Trump, dan hubungan yang dibangunnya dengan kepala negara Tiongkok. Yakin pada persahabatan abadi antara warga AS dengan warga Tiongkok. Yakin Tuhan akan dapat melihat masa depan — atas berkat Tuhan, AS dan Tiongkok akan mencapai masa depan seperti itu.”

Ini adalah himbauan terakhir pemerintah AS kepada Xi Jinping. Atau bisa dikatakan peringatan terakhir, yang berarti: bola ada di bawah kaki Xi Jinping, mau maju atau mundur terserah pada Xi. Karena di tangan Xi ada kuasa besar, maka Xi harus menentukan keputusan yang bijak. Jika Xi tidak juga sadar dan tetap membandel, maka yang berikutnya menyatakan kebijakan hubungan AS-RRT, sangat mungkin, bukan lagi wakil presiden AS, melainkan adalah presiden AS sendiri.

PM Inggris Winston Churchill menyampaikan “pidato tirai besi” saat berada di Westminster College di kota Fulton City, Amerika Serikat, pada tanggal 5 Maret 1946 silam, pada saat itulah layar perang dingin AS-Rusia atau Barat-Timur dbibentangkan. Jika Presiden Trump sendiri yang tampil, menyampaikan pidato seperti pidato Pence, maka layar perang dingin baru AS-RRT atau Barat-Timur juga akan segera terbentang. (SUD/WHS/asr)

Share

Video Popular