Erabaru.net. Konflik perdagangan antara Tiongkok dan Amerika Serikat sudah memasuki tahap memanas. Para sarjana asal Tiongkok yang namanya tercantum dalam daftar Program Talenta Seribu atau PTS semakin gugup. Pasalnya sejumlah informasi menegaskan bahwa Biro Investigasi Federal atau FBI Amerika Serikat sedang memperkuat tindakan keras terhadap pencurian teknologi.

Direktur FBI Christopher Wray pada 12 September 2018 yang lalu, menekankan bahwa tidak ada negara yang memberikan ancaman lebih besar terhadap Amerika Serikat kecuali Komunis Tiongkok. Saat ini pembasmian terhadap spionase Tiongkok menjadi tugas utama FBI.

Christopher Wray menegaskan bahwa tidak ada konflik antara rakyat Amerika Serikat dengan rakyat Tiongkok. Konflik antar kedua negara adalah konflik antar sistem yang mengikuti aturan hukum dan ketertiban serta sistem yang tidak sesuai dengan hukum.

Dalam sebuah wawancara dengan CBS, Christopher Wray mengungkapkan bahwa aktivitas spionase Tiongkok dilakukan dalam berbagai bentuk, mulai dari serangan cyber hingga pencurian hak kekayaan intelektual, sampai pada publisitas eksternal.

Tiongkok melakukan melalui berbagai kelompok orang yang pengaruhnya sudah dirasakan dalam keseharian warga Amerika Serikat, pebisnis, pekerja dan konsumen Amerika. FBI juga menghabiskan banyak waktu untuk mendalami Rusia, tetapi pembasmian spionase komunis Tiongkok adalah tugas utama.

Pernyataan Wray tentang ancaman Tiongkok terhadap Amerika Serikat itu kali kedua dilontarkan, setelah pada bulan Juli lalu. Bagi Wray, Komunis Tiongkok adalah ancaman paling luas, menantang dan paling serius bagi Amerika Serikat.

FBI Menginvestigasi Nama-nama dalam Program Talenta Seribu

Media Texas ‘Houston Chronicle’ memberitakan, ketika pejabat senior FBI bertemu dengan para eksekutif senior dari sekitar 20 perguruan tinggi, universitas dan ratusan lembaga akademis dan medis di Texas.

Pada pertemuan itu, pejabat senior FBI menunjukkan beberapa dokumen rahasia, dan mengingatkan seluruh lembaga di Texas untuk mewaspadai musuh dalam selimut untuk mencegah agar rahasia inti tidak dicuri oleh orang dalam.

Komunitas Tionghoa Amerika mengirimkan berita bahwa pusat penelitian dan perawatan kanker terbesar di dunia, Texas Anderson Cancer Centre memecat 9 orang peneliti asal Tiongkok yang namanya tercantum dalam daftar Program Talenta Seribu.

Berita itu juga mengatakan bahwa FBI sedang menginvestigasi orang asal Tiongkok yang terdaftar di Program Talenta Seribu, “Tak satupun yang bisa lolos”.

Seorang peneliti etnis Tionghoa menegaskan bahwa di antara kesembilan orang yang diberhentikan, termasuk para ilmuwan yang kompeten di Program Talenta Seribu dan Program Sarjana Changjiang.

Selain itu, Texas Tech University juga mengeluarkan surat terbuka yang dengan tegas menyatakan bahwa Departemen Luar Negeri Amerika Serikat dan FBI percaya bahwa Program Talenta Seribu Tiongkok komunis memiliki hubungan intrinsik dengan militer Tiongkok.

Seorang profesor etnis Tionghoa di sebuah universitas terkenal di Amerika Serikat mengungkapkan kepada Caijing bahwa ribuan sarjana masih berada di Amerika Serikat dan mereka telah diwawancarai oleh FBI. Beberapa kantor polisi juga dilibatkan dalam penyelidikan.

Surat pernyataan dari Texas Tech University mengatakan Kongres Amerika Serikat sedang mempertimbangkan untuk menerbitkan undang-undang yang akan memberikan sanksi kepada para sarjana dan dosen yang namanya terdaftar di Program Talenta Seribu. Universitas tersebut pernah membatalkan acara ceramah dari seorang profesor tamu yang diundang dari Tiongkok.

Sehubungan dengan tindakan AS terhadap para sarjana Tiongkok yang diduga telah melakukan transfer teknologi AS ke Tiongkok, membuat Amerika Serikat semakin khawatir dengan pencurian hak kekayaan intelektual oleh Tiongkok komunis.

Amerika Serikat melalui FBI telah menangkap sejumlah sarjana Tiongkok yang dicurigai melakukan berbagai pelanggaran di AS. Beberapa sarjana itu sepertik Zheng Xiaoqing, chief engineer General Electric yang dituduh mencuri teknologi turbin listrik, Ning Xi, seorang ahli lulusan Michigan Universitas yang terlibat penipuan lewat jaringan internet. Chunai Wang, ilmuwan Tiongkok juga seorang mantan Kepala Chinese Academy of Sciences yang telah dijatuhi hukuman oleh NOAA, serta Yiheng Zhang seorang profesor rekayasa sistem biologi di Virginia Tech yang dituduh menipu pemerintah AS, sumpah palsu dan 7 kejahatan lainnya.

Para cendekiawan Tionghoa ini telah memiliki kewarganegaraan AS, tetapi nama mereka semua berada di daftar Program Talenta Seribu.

Program Talenta Seribu adalah daftar sarjana asal Tiongkok atau negara lainnya yang memiliki bakat luar biasa yang menjadi incaran Komunis Tiongkok untuk mengembangkan bidang-bidang industri terkait Made in China 2025.

Komunis Tiongkok Memaksa Para Sarjana Mereka di Luar Negeri Menjadi Mata-mata

Sejak tahun 2008, ada hampir 8.000 ahli dan sarjana yang merupakan orang-orang pilihan, terdiri dari para profesional dan ahli teknis dari perusahaan yang terkenal secara internasional. Dengan kata lain, Tiongkok komunis telah melakukan upaya sangat besar dan hampir menguasai informasi dari semua cendekiawan Tiongkok di luar negeri.

Laporan menunjukkan bahwa para ahli dan sarjana yang terpilih dalam PTS itu memperoleh dana subsidi sebesar 1 juta renminbi hingga 2 juta renminbi per orang. Setelah kembali ke Tiongkok, mereka menerima gaji bulanan yang rata-rata 2 hingga 4 kali lebih tinggi daripada gaji rata-rata di pos kerja yang sama. Selain itu, masih ada iming-iming dengan banyak fasilitas khusus.

Frank Tian Xie, seorang dosen Aiken School of Business University of South Carolina pernah menerima sejumlah tawaran bekerja untuk Komunis Tiongkok. Perguruan tinggi almamaternya Universitas Peking bahkan memberikan penawaran menggiurkan lewat sebuah universitas di Hongkong untuknya.

Frank mengatakan bahwa semua negara berharap untuk merekrut akademisi domestik untuk kembali ke Tiongkok, tetapi hanya komunis Tiongkok yang memaksa orang untuk menjadi mata-mata. Selain uang dan akademisi, Komunis Tiongkok juga memanfaatkan emosi patriotik masyarakat untuk bekerja baginya.

Frank Tian Xie mengingatkan bahwa banyak penemuan itu dilakukan oleh perusahaan, bukan pribadi. Bagi mereka yang tidak memahami konsep kekayaan intelektual, jika kurang berhati-hati maka akan mudah terjerumus menjadi mata-mata teknologi Tiongkok.

Frank mengatakan bahwa Amerika Serikat telah lama memperhatikan para sarjana asal Tiongkok yang memiliki hubungan dengan Komunis Tiongkok. Pemantauan Amerika Serikat diperkirakan akan lebih ketat di masa depan, kasus-kasus seperti itu akan menjadi semakin eksplosif. Orang-orang ini kasihan karena mereka masuk ke dalam perangkap yang dibuat komunis Tiongkok. Namun saat para sarjana itu mengalami masalah, Komunis Tiongkok tidak ambil peduli. 

Teknologi curian untuk mengeruk kekayaan. Namun mereka tidak mengakuinya, tidak mau mempertanggungjawabkannya. Termasuk saat pihak lain seperti AS, ingin melarangnya, PKT malahan berbalik menuduh AS menghalang-halangi kebangkitan Tiongkok. (sin/rpg)

Video Rekomendasi:

Share

Video Popular