Presiden AS Donald Trump adalah titik fokus paling cemerlang pada Majelis Umum PBB tahun ini. Akan tetapi, pada hari terakhir, di luar dugaan Trump justru melontarkan bom kejut. “Saya sangat menyukai Ketua Xi, saya pikir ia adalah teman saya”, begitu kata Trump pada konferensi pers internasional lalu tiba-tiba perkataannya berubah arah secara mengejutkan, “Tapi ia mungkin tidak akan menjadi teman saya lagi.”

Begitu kata-kata ini terlontar, seketika itu juga memicu sorotan dari seluruh media massa internasional yang hadir.

Menilik kembali sejak menjabatnya Trump hingga kini, ia selalu bersikap positif terhadap pernyataan Xi Jinping, penuh itikad baik, dan tidak pernah ragu mengakui dirinya berteman dengan Xi Jinping, hampir tidak ada pemimpin negara mana pun memperlakukannya secara istimewa seperti ini.

Jadi pernyataan Trump kali ini yang begitu mengejutkan, bisa dikatakan baru pertama kali terjadi, sehingga menjadi sorotan media massa internasional, juga menunjukkan hubungan persahabatan ini telah membuatnya kecewa.

Mengapa Trump begitu kecewa? Karena PKT telah melanggar tiga “garis merah” Trump.

Garis Merah Pertama: Intervensi Pemilu AS, Rusak Kebebasan Demokrasi

“Lahir di negara ini, adalah hal yang sangat beruntung bagi saya, saya merasa bersyukur dan bangga akan hal ini.”

Dalam bukunya “Great Again” Trump menceritakan kecintaan dan penghormatannya terhadap Amerika. Akan tetapi saat ini PKT tengah mengerahkan berbagai cara untuk mengintervensi pemilu paruh waktu AS, merusak kebebasan politik dan demokrasi di Amerika, telah melanggar pondasi pendirian negara AS yang diagungkan.

Di dalam pembukaan “Deklarasi Kemerdekaan” AS ditegaskan, “Kami percaya bahwa kebenaran berikut ini terbukti dengan sendirinya: setiap manusia dilahirkan setara, dan Sang Pencipta memberikan mereka hak yang tidak bisa dirampas, di antaranya termasuk hak untuk hidup, hak untuk hidup bebas, dan hak untuk mengejar kebahagiaan.”

Sekarang, lewat serangan internet, kampanye media dan berbagai propaganda lainnya, PKT mengintervensi pemilu di AS, tindakan ini telah menantang secara terbuka nilai-nilai tradisi AS yakni demokrasi dan kebebasan, bagi pemerintahan Trump yang sedang berupaya keras mengembalikan nilai tradisi, maka hal ini sudah tidak bisa lagi ditolerir, kejahatan “melanggar garis merah” ini telah kehilangan rasa hormat paling fundamental antara kedua negara dan antara dua orang sahabat.

Share

Video Popular