Erabaru.net. Kementerian Perdagangan mengajak petani dan pelaku usaha beralih memproduksi produk organik.  Ajakan ini dimulai di Kabupaten Karo, Sumatra Utara, lewat forum diskusi dengan tema ‘Pengembangan Ekspor Produk Organik Indonesia’, pada Kamis (11/10/2018) lalu.

Forum  tersebut  digelar  Kemendag  untuk  menyebarluaskan  informasi  usaha  produk  organik, memfasilitasi  dialog  cara  membuka  peluang  dalam  bisnis  organik,  dan  menunjukan  besarnya potensi pasar ekspor untuk produk organik.

“Peluang pasar produk organik Indonesia sangat besar. Permintaan produk organik dunia semakin meningkat  seiring  dengan  kesadaran  masyarakat  dunia  terhadap  isu  kesehatan,”  kata  Direktur Kerja  Sama  Pengembangan  Ekspor,  Ditjen  Pengembangan  Ekspor  Nasional  (PEN)  Kemendag, Marolop Nainggolan dalam siaran pers Kemendag.

Karena tujuan akhirnya adalah mempersiapkan produk organik Indonesia agar siap ekspor, forum ini  menyarankan  para  pemangku  kepentingan  untuk  mempertimbangkan  standar  ekspor  saat beralih   ke   organik.  

Salah   satu   gagasan   yang   mengemuka   dalam   forum   tersebut   adalah meningkatkan pemahaman dalam bertani secara organik sehingga produk pertanian memiliki nilai tambah yang menarik pasar produk organik.

Kabupaten  Karo  memiliki  potensi  pertanian  yang  sangat  besar,  sekitar  75  persen  penduduk menggantungkan hidup dari bertani.  Melihat potensi ini, Kabupaten Karo dapat dijadikan sentra pertanian organik di Sumatra Utara.

“Pertambahan  luas  lahan  pertanian  di  Kabupaten  Karo  ini  semakin  meningkat  tiap  tahunnya. Hingga  Desember  2017,  sekitar  7.000  hektare  lahan  untuk  pertanian.  Sumber  daya  alam  yang dimiliki   pun  tidak   kalah  hebatnya  dan  ini   merupakan  keunggulan  komparatif   yang   dimiliki Kabupaten Karo. Di masa depan, kita bisa kembangkan pertanian organik di sini,” ungkap Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Karo, Sarjana Purba.

Terkait  bertani  secara  organik,  pada  dasarnya  hal  ini  telah  diterapkan  oleh  beberapa  petani  di Kabupaten Karo. Namun metode ini belum populer.

Kendala   dan   tantangan   untuk   mengembangkan   pertanian   organik   saat   ini   adalah   masih terbatasnya  akses  informasi  dan  teknonogi  bagi  petani,  akses  pasar,  ketiadaan  HS  Code  untuk produk organik, pengenaan tarif yang menurunkan daya saing di pasar global, dan tingginya biaya sertifikasi.

Direktur   Sertifikasi   PT   BIOCert   Indonesia,   Hasudungan   Sahat,   mengatakan   biaya   sertifikasi memang tidak sedikit dan masih berat untuk petani. Namun, kelompok tani di masing-masing desa bisa menanggung biaya secara bersama-sama untuk mendapatkan sertifikat organik. Cara ini bisa menjadi solusi menekan biaya.

Forum   kali    ini   mempertemukan    petani,   pelaku    usaha   produk   organik,   dan   perwakilan pemerintahan  di  bawah  Pemerintah  Kabupaten  Karo.  Sekitar  50  petani  kopi,  sayur-mayur,  dan buah-buahan  hadir  dalam  forum  tersebut. (asr)

Share

Video Popular